Takut… Kepribadian Diri -Dua cerita

Yang dibicarakan disini bukan takut kepada hantu atau semacamnya. Bukan pula yang bersifat teror. Tetapi lebih dalam kepribadian diri. Takut melakukan sesuatu. Takut melihat masa lalu. Takut melihat ke depan.

Beberapa waktu lalu, saya mengalami ketakutan seperti itu. Karena skripsi saya berjalan di tempat sehingga saya takut bertemu teman-teman di kampus. Saya takut apabila mereka bertanya bagaimana perkembangan skripsi saya. Saya takut melihat perkembangan teman-teman kampus dalam menyelesaikan skripsinya. Sehingga saya tidak datang ke kampus selama 3 bulan.

Hingga datang acara buka puasa bersama informatika. Saya diundang untuk datang oleh kawanku. Maka saya memberanikan diri untuk datang. Disana ternyata ada mahasiswa angkatan baru yang saya tidak sama sekali kenal. Jadi muncullah ketakutan saya. Bagaimana menempatkan diri bersama mahasiswa angkatan baru itu.

Setelah berupaya menempatkan diriku diantara mereka. Tiba-tiba ditanya teman-teman, “Kemana aja kamu Sup? Ga pernah kelihatan lagi?”. Mendengar kata-kata ini ditambah melihat senyuman mereka, membuatku menjadi lebih nyaman. Setidak-tidaknya rasa takut berkurang, walaupun tidak hilang sama sekali. Rupa-rupanya mereka rindu sama saya, yang selama 3 bulan itu menghilang tanpa bekas dan kabar.

Saya pun bertanya kepada mereka tentang perkembangan skripsinya. Jawabannya membuat saya kaget. Ternyata skripsi mereka belum berjalan maju. Bahkan diantara mereka ada yang belum sama sekali menetapkan judul padahal dia mengambil skripsi pada semester itu. Alasan mereka tidak jalan skripsinya antara lain karena kerja, kesulitan mendapat bahan, dan sibuk kuliah. Ternyata saya tidak sendirian.

Mendengar hal itu membuat saya lega. Ternyata saya tidak satu-satunya yang skripsinya mandek. Rasa takut mulai berangsur-angsur berkurang.

Kemudian saat pidato pak kajur. Pak kajur menyebut-nyebut nama saya. Ada apa gerangan? Ternyata pak kajur membahas ketidakaktifan saya ke kampus. Pak kajur menjadikan saya contoh tentang mahasiswa yang tadinya aktif tetapi tiba-tiba menghilang begitu saja.

Ternyata pak kajur masih peduli dan perhatian dengan saya. Padahal saya tidak memberikan kabar selama 3 bulan. Padahal skripsi saya berjalan di tempat. Berbekal itulah, saya hingga kini pun lebih berani mendatangi kampus. Lebih berani berhadapan dengan kawan-kawanku. Biarpun skripsiku mandek. Sehingga akhirnya saya mampu mengatasi ketakutanku walau masih sedikit demi sedikit.

Belum lama ini, seorang kawanku curhat kepada saya mengenai ketakutannya terhadap proses skipsinya. Dia takut hasil skripsinya lebih buruk daripada orang lain. Dia takut menghadapi sidang. Dia takut skripsinya terlihat biasa saja. Dia takut mengecewakan orang tuanya tentang perkembangan skripsinya.

Ternyata dia mengalami ketakutan yang hampir sama seperti saya. Tidak cuman dia, beberapa teman-teman yang lain pun terlihat takut dengan skripsinya — walaupun mereka tidak mengatakan takut, tetapi dilihat dari reaksi dan tanggapannya tentang skripsi tergambar bahwa mereka sesungguhnya takut.

Saya katakan kepada kawanku itu, kunci untuk mengatasi ketakutan adalah tawakkal. Dalam istilah saya, “kerjakan dan lupakan”. Artinya, kita kerjakan pekerjaan sebaik-baik mungkin, berusaha melakukan yang terbaik hingga akhir. Tentang hasil lupakan saja, tidak usah dipikirin lagi. Serahkan saja hasil kepada Allah.

“Tapi Sup, saya selalu takut terhadap segala sesuatu. Sampai-sampai saya sulit tidur. Bahkan pernah ada muncul rasa ingin bunuh diri (Alhamdulillah dia masih hidup untuk menceritakan gundahannya kepadaku).”, katanya. Saya jawab, ”Nikmatilah hidup. Alihkan rasa takutmu dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai. Seperti saya, kalau saya merasa takut sehingga stress, saya main suatu game PS2 sampai tamat. Alhamdulillah saya setidaknya bisa melupakan stress dan bisa tidur nyenyak”.

“Terus bagaimana dengan kalau orang lain bilang karyaku buruk? Saya takut kalau karyaku yang sudah susah payah dibuat dibilang jelek?”. Saya katakan lagi, “Maka buatlah karyamu sebagus mungkin hingga kamu puas dengan hasilnya. Kamu harus percaya dengan dirimu. Jangan dengar kata orang lain. Bisa jadi orang lain yang mengatakan karyamu buruk itu iri dengan hasil kerja kamu yang memang bagus, tetapi oleh orang itu karyamu dikatakan buruk. Intinya, kamu harus mendengarkan dirimu tentang kamu. Cuek saja dengan orang lain.”.

Mendengar itu, kawanku itu menjadi lebih tenang. Melihat wajahnya, yang tadinya ada awan mendung di kepalanya, muncul matahari terbit di balik ufuk kepalanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: