Renungan Ramadhan…. Begitulah

Akhirnya… saya selesai semedi OL (baca: puasa OL). Memang akhir-akhir ini saya jarang online lagi. Sampe-sampe ditanya: “Napa ga online lagi Suf?”. Wah… ternyata saya dirindukan… he..eh kok GR. Well, saya sengaja ga online dulu sebab saya hendak membangun jiwaku di bulan-bulan lalu, sekalian merenung apa yang telah saya lakukan di masa lalu demi memperbaiki diri. Begitulah.

Saya sudah memasang target di bulan ramadhan lalu bahwa satu bulan penuh harus sholat berjamaah bukan sholat sendiri. Sayangnya saya gagal, bolong sebanyak 11 sholat berjamaah. Gara-garanya sih banyak, seperti ketiduran sehingga lewat waktu azan sampai keasyikan baca koran sehingga lewat waktu azan. Hm… harus diperbaiki lagi. Tapi paling tidak saya berhasil menamatkan sholat tarawih penuh. Well, sekedar info bertahun-tahun selama ini saya selalu kurang 1-2 sholat tarawih. Gara-garanya sih… apa lagi kalau bukan mudik. Kali ini pada tahun ini ga mudik. Lumayan buat hemat duite dan bisa istirahat sejenak dari keriuhan dunia. Well… begitulah.

Sewaktu mengikuti kuliah di Universitas Ramadhan, saya banyak mendapatkan ilmu-ilmu khususnya tentang keagamaan. Yang menarik dan sangat berkesan bagi saya pribadi, saya mendapatkan ilmu dari mimpi. Memang terdengar konyol tapi itulah yang terjadi. Mimpi apa sih? Ya… mimpi dakwah yang salah satunya saya diberi dakwah sama ibu-ibu untuk menafkahkan harta di jalan Allah seperti infaq, sodakoh, zakat, dan wakaf. Mimpi dakwah ini membuat saya benar-benar tergugah untuk melakukannya. Subhanallah… Terus juga mimpi tentang suatu usaha mandiri dari pak guru dimana saya harus bisa membeli 2000 tomat dengan uang Rp. 20ribu. Allah berkenan untuk mengajarkan saya suatu ilmu… subhanallah.. benar-benar Allah swt. adalah Guru dari segala guru. Ya Allah, ajarkanlah saya suatu ilmu agar saya menjadi salah satu dari golongan orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Mu. Amiin. Ya… begitulah.

Yang menarik sewaktu mendekati ramadhan saya mendapatkan suatu petunjuk kecil yang membuat saya terkaget saking tidak percayanya, saya bertemu dengan seseorang yang tidak pernah saya duga akan ada di situ. Well, meminjam kata sahabat di beberapa tahun yang lalu, “Ini merupakan berkah ramadhan, engkau akan bertemu seseorang yang tak akan pernah kau duga”. Seperti itulah. Awalnya saya kira cuma ilusi semata karena rindu tak pernah ketemu lagi. Tapi setelah diamati ternyata betul. Dan dari petunjuk kecil itulah, saya mendapat jawaban dari doaku yang sudah lama saya pinta kepada Allah. Sungguh doaku kini terkabul…. Begitulah.

Begitulah di bulan suci yang penuh rahmat dan kebajikan: Bulan ramadhan. Di saat mendekati bulan ramadhan saja masih bisa terasa aura getaran bulan Ramadhan. Begitulah.

Kemudian saya diberi suatu cobaan. Cukup banyak juga. Hampir-hampir saja saya tidak lulus ujian-Nya. Mulai dari SMS misterius sampai persoalan persaudaraan. Alhamdulillah sebagian besar bisa diselesaikan dengan sebaik-baiknya… well kecuali beberapanya seperti SMS misterius. Saya yakin dialah orang yang ada di dalam salah satu mimpiku di semester lalu… tapi ternyata SMS ini hanya mempermainkan perasaan saya saja bukan seperti yang kuharapkan. Benar-benar dunia ini penuh senda gurauan belaka. Malah dari situ saya mendapat suatu jawaban yang tak terduga sama sekali yang harus saya terima faktanya. Well, siapa yang bisa menduga. Begitulah. Allah sungguh suka memberi kejutan kepada hamba-hamba-Nya. Hal inilah yang saya senangi dari Allah. Peristiwa itu cukup diambil hikmahnya sajalah. Begitulah.

Selain itu, saya diceritain sama bibiku bahwa beliau bertemu orangtuaku di dalam mimpinya sebanyak tiga kali berturut-turut. Katanya orangtuaku sekarang tinggal di rumah putih yang luasnya kira-kira seperti luas rumahku, hanya saja tidak ada perabotan. Terus ada kamar mandi dan tiga kamar kosong, yang tidak diketahui bibi ini untuk siapa. Kata bibi sih, mungkin buat kami bertiga nanti kelak, well itu cuman dugaan aja, terlalu cepat untuk diambil kesimpulan. Begitulah.

Bibiku kemudian melanjutkan cerita bahwa beliau kemudian bertemu dengan Papa di sana, yang lalu diajak bibi untuk pulang ke rumah. Papa menolak, “Saya ga mau pulang, tempat saya adalah di sini”. Begitulah bibi bercerita, untuk seterusnya saya tidak mendengar lebih seksama sebab air mataku sudah mulai menghangat menahan tumpahan. Well, saya hanya diberi nasihat oleh bibi agar membacakan Al-Qur’an untuk Papa dan Mama setiap malam. Begitulah.

Sampai kini saya belum menemukan hikmah dari cerita bibi. Tapi setidaknya saya sudah cukup lega, bahwa ortuku ditempatkan di tempat selain neraka. Mungkin sekedar hiburan dari Allah tentang hal ini. Barangkali karena belakangan ini saya merasa down, sedih karena suatu hal yang tak dapat saya ceritakan. Yang tak ada seorang pun yang mampu menghiburku, maka cukuplah Allah yang menghiburku. Begitulah.

Begitulah di saat bulan ramadhan. Akan mendapatkan pengalaman dan kenangan yang tak akan pernah dirasakan di waktu yang lain. Karena kemurahan hati Tuhan Pencipta alam semesta ini. Begitulah.

Semoga kelak Allah berkenan mengizinkanku untuk menemui sahabat sejatiku, bulan ramadhan pada masa berikutnya. Semoga pada kala itu, saya bisa lebih baik daripada sebelumnya. Semoga pada 11 bulan yang tersisa untuk menemui sahabat sejatiku, saya bisa selamat ibadahku, agamaku, amalanku, dan jiwaku. Seandainya jika Allah berkehendak saya menemui-Nya, semoga Allah mematikanku dalam keadaan yang terbaik dalam agamaku, ibadahku, amalanku, dan jiwaku. Amiin.

Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: