Romantika Kereta Api

Beberapa hari yang lalu, kira-kira tiga hari sebelum saya menulis postingan ini, saya memutuskan naik kereta api sepulangnya dari kantor. Jujur baru kali ini mau naik, padahal selama ini selalu ogah-ogahan naik kereta api.. soalnya sih fasilitas publiknya memprihatinkan…

Mungkin karena saya benar-benar bosan naik busway yang penuh dengan fasilitas mewah -AC, kursi duduk, wajah cantik-cantik en tampan-tampan ala sinet, pameran gadget mutakhir: Laptop-MP3-MP4-HP-PSP-NDS-de’el’el, wajah-wajah serius dan sok keren, sok sibuk, deelel- ato mungkin emang lagi bete karena ketauan suatu kebenaran yang menjengkelkan,,,ato mungkin kepengin cari tau moda transportasi yang lebih murah kali.

Tapi yang jelas hari itu saya memutuskan dengan suara bulat. Mencoblos dan mencontreng pilihan untuk memilih naik kereta api sesudah itu memasukan kertas suara pilihan ke pikiran dan tekadku. Maka dengan persetujuan KPU (baca: KePutUsan), saya melangkah dengan pasti setelah pulang kantor saya akan naik kereta api! Tanpa tapi dan tanpa tedeng aling-aling!

Akhirnya saya bertanya-tanya sama kawan yang error tapi bijaksana serta ngawur tapi baik, dik Izank. Kata dik Izank, kereta yang bener-bener berhenti dan tidak sekedar numpang lewat Stasiun Kebayoran Lama (ni satu-satunya stasiun kereta api yg deket rumahku), itu adanya di Stasiun Tanah Abang. Dipilih Stasiun Tanah Abang karena deket dari kantorku yang megah. Akhernya saya cari-cari di situs terkenal dan tersohor, Google.

Ternyata dapatlah infonya setelah berkeringatan menari-nari jariku diatas tuts keyboard yang keras sehingga jari-jari terasa lelah dan kapalan. Dengan mata yang merah dan kering, berhasil melihat jadwal kereta api di Stasiun Tanah Abang. Pun juga berhasil mengetahui tarif karcis dengan susah payah mengubek-ubek situs sampai porak poranda. Ternyata murah meriah banget super duper mantap serta asoy… harganya cuman Rp. 1.500 woyy!!! Murah sekali…

Dengan catatan dan info yang berharga ini, saya segera melarikan diri dari kantorku yang malang dan berjuang turun tangga hingga mendarat dengan tenang begitu mendekati dua jam sebelum keberangkatan kereta. Segera saya menuju ke arah mesjid BI tetapi tidak ke mesjidnya.

Rencananya mo naik kendaraan ke Stasiun Tanah Abang. Tetapi karena keputusan MA (baca: Malas Ah), akhirnya saya naik jalan kaki saja. Karena rasa romantika kereta api begitu terasa di dadaku, menggemuruh dipikiranku sehingga memutuskan untuk jalan kaki sampai ke Stasiun Tanah Abang-ku tersayang.

Sungguh indahnya pemandangan sekitar, sungguh hidupnya kehidupan sekitar, betapa subhanallah dengan itu semua. Hal-hal yang tak dapat saya dapatkan dari busway, saya dapatkan dari sini. Tampilan boleh lusuh dan kumal tetapi wajah-wajah mereka dihiasi senyum merekah, menyambut setiap kata-kataku perihal dimanakah Stasiun Tanah Abang. Mereka menjawab dengan penuh semangat menggelora, semangat berapi-api, semangat hidup yang kuat.

Memang ada yang menjawab dengan lesu, adapula yang menjawab dengan acuh tak acuh, tetapi itulah drama romantika kehidupan yang menggairahkan. Betapa hidup ini dinamis sekali. Betapa besarnya dunia. Betapa kompleksnya hidup.

Akhirnya setelah berpetualangan, bercucuran keringat di pelipisku, kacamata kedodoran, rambutku menyibak sana mari menyambut angin, langkah yang mulai memberat, tas ringan terasa berat, sampailah aku di gerbang Stasiun Tanah Abang.

Betapa gembiranya daku dapat melihat sosok gedung begitu familiar, betapa senangnya aku melihat arsitektur gedung yang khas stasiun, betapa bahagianya saya mendengar terompet dan langkah-langkah kereta api. Mengingat kembali rasa dan asa yang sudah lama hilang dari diriku, rasa romantisme masa lalu yang indah.

Akhirnya, tibalah saya di hari yang bersejarah ini. Masuklah ke Stasiun Tanah Abang dengan terhormat. Melangkahlah menuju peron enam, tidak pakai peron tiga perempat karena kita tidak hendak ke Hogwarts. Marilah kita bersyukur dahulu, mensyukuri nikmat Allah di mushola yang tersedia.

Kulihat ada ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak. Sibuk melihat papan jadwal, sibuk antri, sibuk duduk dan jongkok. Betapa terasa aura yang kuat, begitu menggeloranya rasa romantika. Begitu ingin pulangnya mereka, begitu inginnya mereka bertemu sanak sodara, begitu inginnya kembali ke kampung halamannya.

Kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Kekasih baruku telah tiba pas saat saya memasuki peron enam. Seolah menyambutku yang baru pertama kali ini tiba sejak tahun 1990-an tidak pernah datang kembali. Kembali para manusia berebutan untuk memasuki perut kereta dengan sungguh-sungguh. Termasuk salah satunya saya.

Akhirnya pengumuman berkata bahwa sudah saatnya kekasih baruku itu untuk segera meninggalkan Stasiun Tanah Abang yang penuh aura romantika. Berkenala menyusuri lorong waktu, jajaran rel, dan dimensi lain menuju satu tujuan.

Gerakan gerbong, nyanyian dan alunan musik kereta melaju, goyangan kereta menghanyutkan suasana romansa dalam kereta api. Jeruk-jeruk. Minum-minum. Tisu-tisu. Terdengar pedagang bersahut-sahutan. Sedekahnya mas. Minta uang buat anu. Celoteh sang pengemis (sungguh memprihatinkan). Serayap-serayap. Celingak-celinguk. Berbisik-bisik. Tiduran pun juga ada didalamnya.

Tibalah akhirnya di Stasiun Kebayoran Lama. Hanya sebentar naik kereta, tetapi aura romansanya terasa dan terdengar kuat sehingga waktu terasa berjalan lambat. Kendati hanya membutuhkan 20 menit, tetapi untukku terasa seperti pasir berjatuhan perlahan-lahan melewati celah sempit suatu gelas.

Alhamdulillah. Allahuakbar. Subhanallah. Hidup terasa hidup dengan dekat kereta api. Tiada lagi pameran gadget mutakhir. Tiada lagi wajah tampan dan cantik nan dingin. Tiada sok-sokan seorang manusia. Terasa manusiawi. Terasa jujur. Tidak ada kebohongan didalamnya. Rindu ingin pulang bersama kekasih baruku, kereta api di Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Kebayoran Lama. Sampai jumpa di lain dimensi!

2 Komentar (+add yours?)

  1. niee
    Jan 01, 2009 @ 19:40:07

    Yupz…begitulah, kadang orang biasa mank lebih bersahabat dibanding orang2 dalam busway yg individualis.. dan sok sibuk atau mank sibuk bneran kaliii ( entahlah) hohoho

    Naek Bus AC dgn Bus rEguler juga kadang terlihat perbedaannya gitu…yaah itu lah hidup…selalu ada sisi yg berlawanan🙂

    Jadi pngn naek KA niiiiyyy…..:) ikuuut dooonk😀

    Balas

  2. yusuf
    Jan 10, 2009 @ 11:29:03

    Yah begitulah.. awalnya sih naik busway itu asseek.. (saking aseknya, saya masih berdiri terus walaupun ada tempat duduk yg kosong… saya gila ya heheheh) tapi sekarang krn dah keseringan naik jadi bosen sehingga segalanya jadi berbeda… hehehe…

    Kereta Api-ku.. I will coming!!! Just wait me ok!!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: