Jalan-jalan… Romantisme Kota Tua

Alhamdulillah rencana bulan ini lancar. Walaupun harga dari rencana itu berat, tapi cukup memuaskan. Rencana yang dulu sempat tertunda, karena satu dan lain hal.

Salah satu rencana itu adalah menjelajah kota tua. Sebulan yang lalu, alhamdulillah dapat info dari kawan mengenai ekspedisi kota tua via email. Setelah membacanya, saya langsung daftar tanpa mikir-mikir.

Agak lama balasan tiba, sekitar satu minggu kemudian, alhamdulillah telah terdaftar. Tinggal menunggu hari H bersama seorang kawan.

Mungkin sang kawan-kawan bertanya, mengapa saya sampe bela-belain datang untuk melihat kota tua yang terlihat jelek, kumuh, dan kusam. Well, my friend… bukanlah gedung yang dilihat, tetapi nilai sejarah yang terkandung didalamnya.

Gedung-gedung itu adalah bukti nyata bahwa dulunya suatu peristiwa sejarah pernah terjadi dan ada serta nyata disitu. Biarkan para generasi mendatang mengetahui bahwa Jakarta ini pun ada sejarahnya. Biarkan para generasi sekarang ini mengetahui bahwa Jakarta ini berumur begitu tua sekali.

Orang Jakarta yang tidak mengetahui sejarah kotanya sendiri tidak bisa disebut orang Jakarta, tapi orang imigran. Oleh karena saya lahir dan dibesarkan di Jakarta, maka wajib hukumnya untuk mengetahui sejarah kotanya sendiri.

Oke cukup alasannya, mari kita lanjutkan perjalanan. Perjalanan Ekspedisi Marunda IV ini (begitulah nama acaranya), bertujuan untuk mengunjungi Kampung Marunda, namun demikian sepanjang perjalanan ke Kampung Marunda, kita bisa mampir-mampir ke salah satu bagian kota tua.

Dimulai dari titik pertemuan: Museum Bank Mandiri, lanjut ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Menara Syahbandar, Museum Bahari, Mesjid Keramat Kampung Bandan, Stasiun Tanjung Priuk. Fuuhh banyak juga to.. Tapi setelah itu baru ke tujuan utama yaitu Kampung Marunda, yaitu Rumah Si Pitung dan Mesjid Al Alam Marunda.

Dah segitu aja? No no no nonono.. Masih ada lagi.. selagi dalam perjalanan balik ke Museum Bank Mandiri, kita akan melewati Kampung Tugu yaitu Gereja Tugu “Portugis”. Ok that’s all. Fiuuh cukup panjang bukan?

Well, lama perjalanan ini memakan sekitar +- 10 jam dimulai dari jam 7:30an sampe jam 16:00an. Tentu aja, perjalanan ini memakai transportasi bus ber-AC yang disediakan panitia.. lumayanlah setelah panas-panas bisa mendinginkan badan😛 terbukti setelah sampe di rumah, gak ada bau badan wakakakakak..😀

Okey.. di Museum Bank Mandiri, saya bersama teman daftar ulang disana. Selagi menunggu waktu keberangkatan, saya keliling-keliling museumnya.. wah benar-benar terasa suasana jadul sekali.. seolah-olah saya berada di jaman Belanda… bahkan sempet moto-moto Buku Besar (istilah belandanya: Grootboek) yang ternyata besar sekali untuk ukuran buku… Mungkin itulah asal kata istilah ekonomi: buku besar. Klo mo liat definisinya bisa liat di wiki aja.

Grootboek - Buku Besar

Grootboek - Buku Besar

Oke, saatnya menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Rasanya tidak lengkap ekspedisinya jika tidak melalui Pelabuhan Sunda Kelapa. Sebab, dari pelabuhan inilah Jakarta dilahirkan. Cikal bakal kota Jakarta yang kita kenal hari ini.

Pelabuhan Sunda Kelapa

Pelabuhan Sunda Kelapa

Dahulu tempat ini adalah pelabuhan utama yang mengangkut berbagai barang-barang dagangan pada saat itu. Pelabuhan ini dimiliki oleh Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

Pelabuhan ini memiliki peranan penting pada masanya sehingga banyak diperebutkan oleh berbagai kerajaan-kerajaan Nusantara dan negara Eropa.

Akhirnya, seperti yang kita ketahui, pasukan Fatahillah dari kerajaan gabungan Demak dan Cirebon yang menguasainya. Sehingga berganti nama menjadi Jayakarta. Lalu diserang lagi oleh Belanda dan dikuasai sehingga berganti nama menjadi Batavia selama lebih 300 tahun.

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kita menyusuri daerah sekitarnya yaitu Menara Syahbandar, menara pengawas pada masa Belanda. Dulu menara ini adalah menara tertinggi pada masa jaman Belanda. Tentu saja kita akan terkaget-kaget saat membandingkannya dengan gedung tinggi berlantai 30an. Tingginya saja hanya sekitar 3 lantai, tentu gak sebandingkan?😛

Kemiringan Menara Syah Bandar

Kemiringan Menara Syah Bandar

Sayang menara ini sudah mulai miring… bisa dilihat di foto sebelah ini. Hal ini kemungkinan disebabkan truk-truk tronton yang sering lewat disebelah kanan menara itu (tempat dimana kemiringannya condong ke kanan).

Hal ini menjadikan alasan menara tersebut tidak boleh dimasuki, dikhawatirkan akan menambah kemiringannya… sangat disayangkan…😦

VOC Galangan

VOC Galangan

Di depan menara ini terdapat gedung VOC Galangan, dimana gedung ini dulunya merupakan tempat untuk memperbaiki kapal-kapal besar dan kecil. Sekarang ini disewakan untuk kegiatan pesta perkawinan, pameran dan lain-lain.

Oke saatnya melalui Pasar Ikan dan menuju ke Museum Bahari. Letak Museum sendiri memang dekat Pasar Ikan. Kita akan mencium bau khas Pasar Ikan yang terkenal (belum pernah cium? Main dunk ke sini hehehe ;D ).

Di Museum Bahari kita akan menjumpai suatu gedung yang antik dan tidak akan ditemui dibelahan Jakarta manapun (entah di seluruh Indonesia, mengingat belum menjelajahi Indonesia heheh ;p ).

Museum Bahari

Museum Bahari

Dahulu bangunan ini dipakai sebagai gudang tempat penyimpanan berbagai hasil komoditas utama VOC yaitu rempah-rempah dan pakaian. Sekarang tentu saja sesuai dengan namanya menjadi museum Bahari dimana terdapat objek-objek berupa berbagai bentuk kapal-kapal, rempah-rempah, pakaian, bahkan lukisan juga ada.

Bicara mengenai lukisan, ada satu lukisan potret besar diantara lukisan-lukisan lainnya dan memancarkan aura misterius. Lukisan itu lukisan Laksamana Malahayati. Eiittss jangan salah dengan Manohara.. Yang ini beda bung!!

Dia adalah wanita Aceh (baca: Indonesia) pertama di dunia yang menjadi laksamana perang wanita. Subhanallah, ternyata Indonesia jaman dulunya sudah ada emansipasi wanita lebih duluan daripada negara-negara manapun pada saat itu (sekarang aja dah pada koar-koar kesetaraan gender). Sayang namanya terlupakan… padahal memiliki peranan yang penting pada masanya.

Ohya.. salah satu peserta mengaku, dia melihat mata lukisannya bergerak-gerak.. entah apakah itu ilusinya, tetapi saya mengakui agak merinding saat melihatnya.. bahkan enggan memfotonya. Untung datang kesitu rame-rame, coba klo sendirian,, entahlah😛

AN NO 17 74

AN NO 17 74

Yang menarik dari gedung ini terdapat suatu pintu masuk yang ada tulisan AN NO 17 74. Awalnya kukira ini adalah nama orang disertai tahun.. bahkan sampe bayang-bayangin jangan-jangan itu kode untuk harta karun hehehe😀.

Tapi setelah tanya google ternyata itu adalah penanda perubahan renovasi gedung museum Bahari itu, jadi pintu itu adalah penanda bahwa telah direnovasi gedung tersebut pada tahun 1774.

Entah kata ANNO itu berarti apa… mungkin merupakan suatu bahasa Latin atau sesuatu yang berarti TAHUN.

Entahlah… Oke kembali ke laptop (baca: ekspedisi), saatnya kembali menyusuri daerah lainnya, yaitu Mesjid Keramat Kampung Bandan. Mesjid ini merupakan saksi sejarah penyebaran Islam di Jakarta.

Mengapa ada kata keramat? Karena didalam mesjid tersebut ada makam Habib Mohammad bin Umar Alqudsi, Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alwi dan Habib Abdurrahman bin Alwi Asysyathri. Sampai hari ini, makam tersebut dikeramatkan oleh para peziarah, bahkan pada saat grup ekspedisi datang ada acara peziarahan makam Habib-habib tersebut.

Karena demikian, maka tidak bisa mengeksplorasi lebih jauh mengenai mesjid tersebut sehingga kita melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tanjung Priuk. Stasiun ini dulunya didirikan untuk mendukung sarana transportasi yang aman untuk kepentingan pelabuhan Tanjung Priuk yang baru dibangun pada masa dimana Pelabuhan Sunda Kelapa tidak lagi memadai.

Stasiun Tanjung Priuk

Stasiun Tanjung Priuk

Stasiun ini memang stasiun yang besar. Mungkin sama besarnya dengan Stasiun Kota yang dulu dikenal dengan nama Beos, Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), info mengenai Beos lebih lengkap dapat dilihat di sini.

Gedungnya sendiri merupakan gedung yang artistik dan megah. Memang setiap stasiun selalu memiliki desain artistik yang berbeda-beda.

Ohya hal menarik dari stasiun ini ada sebuah lorong rahasia. Lorong ini memiliki dua cabang jalan, entah kemana sayangnya tidak diberitahu kemana (barangkali biar pengelolanya bisa kabur klo-klo di stasiun terjadi ketidakpuasan pelanggan KA yah hahahah).

Untuk memasuki lorong ini sungguh sulit dan letaknya pun tersembunyi; dibelakang (mungkin) tempat Informasi. Sempit dan tangganya basah. Jika tidak hati-hati bisa terpeleset. Tapi begitu sudah tangga terakhir, Anda akan mendapati sebuah ruangan besar yang memiliki dua cabang jalan.

Aktifitas Kerja di Stasiun Tanjung Priuk

Aktifitas Kerja di Stasiun Tanjung Priuk

Alhamdulillah, stasiun ini masih terawat dengan sangat baik sekali, saat datang terlihat suasana pemugaran yang terjadi. Suatu saat Stasiun Tanjung Priuk ini akan dioperasikan untuk khalayak umum. Wah… tar kucoba naik kereta dari Stasiun Tanjung Priuk, ada yang mau ikutan?

Arsitektur dalam stasiun ini sungguh indah sekali, rasanya sayang jika dilewati dan tidak difoto-foto. Setiap sudut ada sisi keindahannya sendiri, sehingga tak berlebihan klo saya boleh bilang: Betapa Cantiknya Stasiun Tanjung Priuk🙂

Selanjutnya kita menuju ke tujuan terbesar ekspedisi ini: Kampung Marunda. Saat menyusuri jalanan menuju ke Kampung Marunda, kita akan melihat sisi lain dari Jakarta. Seperti bukan daerah Jakarta. Padahal itu merupakan wilayah Jakarta Utara.

Ada industri-industri. Kilang minyak. Truk tronton berseliweran. Kumpulan-kumpulan kontainer-kontainer. Tidak ada kendaraan umum yang lewat kecuali motor. Benar-benar sulit untuk dijangkau.

Well, apa yang menarik dari Kampung Marunda? Nah itu sisi menariknya. Tahukah Anda, bahwa Kampung Marunda adalah kampung yang tua. Disini ada legenda Jakarta yang terkenal. Tahu siapa?? Ayoooo…

Si Pitoeng. Robin Hood-nya Jakarta. Di kampung ini terdapat sebuah rumah merah yang bernama Rumah Si Pitung. Ohya Si Pitung ini bukan kisah dongeng lo ya.. ini buktinya ada rumahnya segala.. Si Pitung ini hidup pada sekitar abad 19. Dulu suka mencuri harta-harta orang Belanda yang kemudian diberi-berikan kepada rakyat miskin.

Rumah Si Pitung

Rumah Si Pitung

Ada kisah menarik, si Pitung ini dulunya kebal terhadap berbagai senjata apapun kecuali peluru perak (atau emas?). Ironisnya yang memberi tahu kelemahannya adalah saudara seperguruannya sendiri yang tergiur dengan iming-iming hadiah dari Belanda.

Ohya ada suatu cerita, bahwa itu bukanlah rumah si Pitung, tapi rumah yang pernah disinggahi si Pitung. Entah manakah yang benar. Pada acara ini, kami beristirahat di rumahnya, makan siang yang disediakan panitia.

Setelah itu, sholat Dzuhur di Mesjid Al Alam Marunda. Konon si Pitung dulunya belajar agama, belajar bersembunyi dari kompeni, dan bermain disitu. Beberapa sumber menyatakan bahwa si Pitung hanya sekedar singgah saja. Apapun itu, mesjid ini benar-benar dipertahankan strukturnya. Bahkan tesktur pilar-pilarnya masih terasa seperti “batu” sekali, kasar gitu.

Didalam Mesjid Al Alam Marunda

Didalam Mesjid Al Alam Marunda

Disini, di rumah panggung sebelah mesjid, pak Alwi Shahab bercerita mengenai legenda Si Pitung. Cukup lengkap ceritanya.

Setelah itu menuju ke perjalanan terakhir, kampung Tugu sekaligus mampir ke Gereja Tugu “Portugis”. Mungkin pada tanya-tanya kenapa pake tanda petik Portugis? Karena orang-orang Tugu pada masa dahulu aslinya orang Portugis.

Kampung Tugu ini adalah wilayah yang diberikan oleh pemerintah Hindia Belanda bagi para tahanan perang yang telah menerima persyaratan dari pemerintah Hindia Belanda. Persyaratan apa? Persyaratan untuk pindah agama dari Katolik menjadi Protestan.

Nah sisi liciknya Belanda, wilayah kampung Tugu ini dijadikan sebagai benteng-benteng pertahanan tingkat pertama mereka. Jadi klo sewaktu-waktu ada serangan, maka wilayah yang terkena serangan pertama pasti wilayah Kampung Tugu.

Gereja Tugu

Gereja Tugu

Di Kampung Tugu ini terdapat sisa-sisa peninggalan zaman dahulu salah satunya Gereja Tugu. Pada ekspedisi ini, kita mengunjungi Gereja Tugu. Dari segi arsitektur terkesan kuno dan klasik. Era zaman sekarang ini era minimalis, ditandai dengan banyak arsitektur berbentuk garis-garis panjang.

Disini kita juga berbincang-bincang dengan orang Tugu asli. Dia menceritakan berbagai cerita berdasarkan cerita yang sudah dituturkan oleh generasi sebelumnya. Sangat menarik, pada zaman seperti ini masih ada yang menceritakan peristiwa-peristiwa secara turun temurun. Sayang budaya ini pada masa sekarang sudah perlahan-lahan luntur digantikan mp3, TV, dan internet.

Orang Tugu Asli

Orang Tugu Asli

Setelah itu, perjalanan berakhir dengan kembali ke titik awal ekspedisi, Museum Bank Mandiri. Walaupun ekspedisi berakhir, tapi kami (saya dan kawan), tidak langsung pulang, tetapi menuju ke Stadhuis Batavia (balaikota Batavia) atau yang lebih dikenal dengan lapangan Fatahillah.

Disini rencananya mo foto-foto sekaligus menunggu waktu Maghrib, tapi akhirnya gak jadi karena batere kamera sudah habis, hanya mampu foto dua saja.

Tapi puas… sepanjang perjalanan ini kami mendapatkan pelajaran berharga mengenai sejarah dan masa lalu Jakarta ini. Lelah itu pasti, tapi tidak akan terasa jika sudah puas. Sampai jumpa pada ekspedisi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: