Ada Cerita di Pulau Kelor (bagian 1: Trilogi Cerita 3 Pulau)

Tahun 1806.

Langit memerah. Merah membuncah. Asap hitam membumbung. Api berkobar disana-sini. Tulang-tulang bata merah bangunan berhamburan berserakan. Tersebutlah peristiwa besar itu terjadi. Tentara Britania Raya menyerang pertahanan Hindia Belanda di lautan utara Jawa, Kepulauan Seribu.

Tentara-tentara Hindia Belanda bertempur dengan sengit demi mempertahankan benteng-benteng di salah satu pulau-pulau utara Jawa. Batu-batu bulat hitam terbang dari kapal-kapal Britania, dengan malasnya mendarat ke bangunan malang itu sehingga bangunan itu hancur menderita. Suara menjerit kematian. Kematian menghantui setiap manusia yang terperangkap perang Britania Raya dan Hindia Belanda itu.

Bantuan datang dari Pulau Onrust selaku induk pertahanan demi mempertahankan wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Hingga akhirnya pertahanan berhasil dipertahankan kendati mengorbankan banyak mesiu, amunisi, menara, benteng, dan gedung serta nyawa. Bahkan Pulau Bangka nun jauh di utara lautan Kepulauan Seribu pun jatuh di tangan Britania Raya…

~~~~

Tahun 2009.

Langit biru membuncah. Lautan berdesir lembut. Burung camar bersahutan. Pertanda daratan sudah dekat. Perahu dari Kamal Muara itu bergerak perlahan namun pasti menuju ke sesosok benteng merah tua terisolir.

Itulah dia, tampaklah dia, sebuah pulau bernama Pulau Kelor, salah satu dari gugusan Kepulauan Seribu. Pulau kecil. Yang mempunyai nama asli, Pulau Kerkhof. Persis sebuah pepatah, dunia selebar daun kelor. Maksudnya dunia sejarah perang Britania Raya – Hindia Belanda diceritakan secara visual dengan mengunjungi pulau kecil ini. Hanya pulau inilah tersisa benteng relatif utuh, relatif terisolasi. Eksotis nan misterius.

Pulau Kelor dan Benteng Martelo

Pulau Kelor dan Benteng Mortello

Nama benteng itu adalah Benteng Mortello. Benteng bulat. Strukturnya sendiri dari bata-bata merah yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk struktur seperti yang dilihat disana. Kuno, itu pasti. Ketahanan cukup kuat, terbukti setelah sekitar seratusan tahun lebih masih bertahan dan berdiri tegak. Namun tidak diketahui apakah bahan perekatnya. Semen ataukah bahan lain, entahlah.

Struktur Benteng Mortello Pulau Kelor

Struktur Benteng Mortello Pulau Kelor

Disini ada banyak kucing-kucing. Entah bagaimana bisa ada di tempat yang terisolir ini, mungkin diasingkan oleh penduduk sekitar pulau ini. Jadi bertanya-tanya, makan apakah kucing-kucing ini ya ditempat yang terisolir ini?

Dikatakan bahwa disini terkubur beberapa tentara Hindia Belanda yang gugur dalam perang. Tetapi dimana-mana tidak terdapat kuburan dan nisannya. Entah dimana kuburnya.

Alam disana begitu eksotis. Tumbuhan tumbuh begitu rimbun dan rindang. Bahkan kaktus pun tumbuh di puncak benteng. Burung-burung pun bermain-main terbang memutari benteng Mortello itu yang memang bulat. Berkicau dan seru memantau keriangannya. Sempat kurekam perilaku unik burung-burung itu.

Pemandangan Dari Pulau Kelor

Pemandangan Dari Pulau Kelor

Pemandangan begitu indah. Dari titik sini engkau bisa melihat tiga pulau yang ada, Pulau Bidadari, Pulau Cipir dan Pulau Onrust. Pasir putih bersih. Pesisir pantai Pulau Kelor kebanyakan dari karang dan kerang. Hati-hati jika melangkah di pesisir dengan kaki, kadang bisa menyebabkan luka kecil di kaki.

Sayang beribu sayang, luas pulau semakin berkurang akibat dari tingkah laku abrasi laut. Sampah pun juga berserakan terutama disisi dalam Benteng Mortello. Sudah ditempatkan balok-balok pemecah ombak di sekeliling pantai. Namun masih kurang mencukupi. Tapi okelah sepanjang pantai masih relatif bersih dari sampah.

Sejarah adalah masa lalu. Kenangan Hindia Belanda tidak untuk dibanggakan. Tetapi sebagai bukti, bahwa pernah ada penjajahan Hindia Belanda di tanah Indonesia. Sejarah adalah masa lalu…

Maka kutinggalkan kenangan itu. Kunaiki kapal menuju ke pulau berikutnya. Pulau yang dahulunya hidup terus tanpa istirahat, Pulau Onrust. Kuhanya tinggalkan sisa-sisa diriku berupa jejak kaki disini. Sampai jumpa Pulau Kelor…

Pasir, Tumbuhan, dan Jejak

Pasir, Tumbuhan, dan Jejak

(Bersambung)

——–

Postingan Trilogi Cerita 3 Pulau lainnya:

2. Cerita Pulau Onrust

3. Cerita Pulau Khayangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: