Naik KRL Ke Bogor

Akhirnya.. dapat kesempatan juga pergi ke Bogor. Sayangnya.. dalam rangka kerjaan. Well gapapa lah yang penting bisa ke luar kota🙂 . Anyway saya gak mo cerita tentang kerjaan, yang mo dibahas adalah perjalanan naik KRL (Kereta Rel Listrik) ke dan dari Bogor.

Kali pertama, saya mo naik KRL keluar kota, biasanya sih naik KRL hanya dalam lingkup kota Jakarta, itupun gak semuanya. Nah sebagai permulaan, saya naik KRL di Stasiun Gondangdia. Untungnya saya habis jaga malam di kantor, dan memang waktu keberangkatan yang ada adalah jam 6 – 8 pagi. Mengingat harus berada di Bogor sekitar jam 10 pagi, maka saya memilih kereta yang tersedia sebelum jam 10 pagi minimal 1 jam sebelumnya.

Dengan alasan rapi, cepat, dan tidak ribet serta harga yang tidak mahal, akhirnya dipilih kelas Ekonomi AC ketimbang Ekonomi (karena kelewatan murah-an maksudnya fasilitasnya memprihatinkan, juga lambat sampainya) dan Ekspress (karena ke(lewat)-mahal sekitar Rp. 11.000). Akhirnya tiket pun dibeli seharga Rp. 5.500 dan menunggu di peron yang tersedia.

Karena saya baru kali ini naik KRL Ekonomi AC, saya tidak tau perbedaannya jika dibandingkan kelas Ekonomi dan Ekspress AC. Saya memilih Ekonomi AC itu juga karena saran teman yang paham urusan per-KRL-an. Makanya saya kontak-kontakan ma temen yang kelak jadi satu perjalanan ke Bogor nanti.

Rencananya gini, mengingat temenku itu tinggalnya di dekat Stasiun Tanjung Barat, maka dia berencana mo naik Ekonomi AC bareng saya, sementara saya sendiri berada di Stasiun Gondangdia yang relatif lebih awal dibandingkan Stasiun Tanjung Barat. Nah nanti mo kontak-kontakan, klo saya dah naik KRL, maka temenku itu bersiap-siap naik KRL Ekonomi AC biar bisa ketemuan. Rencana sempurna yak😀 .

Oke, saya pun menunggu KRL-nya. Tik tok tik tok tik tok… lama banget…. Setelah lihat waktu, ternyata meleset dari jadwalnya yang seharusnya berangkat jam 6:45 WIB, sekarang jam 7 lewat.. wah… Akhirnya peron itu pun semakin banyak penumpang yang menunggu.

Akhirnya KRL yang ditunggu-tunggu pun tiba…. namanya KRL Pakuan. Wah namanya keren juga, segera saya sms teman bahwa keretanya udah datang. Tapi saya gak tau apakah kereta itu akan menuju ke Bogor atau tidak, makanya saya tanya ke penumpang yang menunggu, apakah itu kereta yang menuju ke Bogor, jawabnya iya. Ya sudah naiklah saya.

Keretanya lumayan enak. Maklum gerbong-gerbong KRL ini impor dari Jepang, serasa kayak di Jepang aja, masih ada huruf-huruf kana dan hiragana Jepang. Mantap dah… Ada AC, cukup dingin juga.

Huruf-huruf Jepang

Huruf-huruf Jepang

Kemudian kereta pun melaju perlahan, setelah melewati stasiun beberapa meter, keretanya berhenti. Loh ada apa ya..? Kemudian ada petugas tiket yang hendak memeriksa tiket, maka saya pun menyodori tiketnya. Ternyata.. oh ternyata…. saya salah naik keretaaa!! KRL yang saya naiki ini adalah KRL Ekspress!! Wadoh… padahal menurut jadwal harusnya berangkat jam 7:30 WIB (pada saat itu, entah sekarang apakah jadwalnya sudah berubah). Kok KRL Ekspress lebih duluan datang daripada KRL Ekonomi AC? Lalu saya disuruh ke gerbong depan KRL Ekspress itu.

Alhamdulillah petugasnya mengerti bahwa saya salah naik KRL, ternyata gak saya aja yang salah naik, ada 4 orang yang salah naik. Alasannya sama, menurut jadwal mestinya KRL Ekonomi AC yang duluan berangkat ketimbang Ekspress. Ada juga yang beralasan tidak tahu kalau ini Ekspress, kirain Ekonomi AC lagian gak ada pemberitahuan sih (ini aku lohh.. polos yak😛 ). Walau mengerti, tetap aja kita berlima kena denda sebesar Rp. 5.500. Klo dipikir-pikir dengan membeli tiket Ekonomi AC Rp. 5.500 ditambah denda Rp. 5.500 sama dengan harga tiket Ekspress ya?

Sudah gitu nanti akan diturunkan ke Stasiun UI… wah…!!! Padahal keretanya menuju ke Bogor langsung…. huhuhuh… baru aja dapat sms dari temen, katanya saya salah naik tuh, karena KRL itu pasti Ekspress karena nama lain dari KRL Ekspress ke Bogor adalah KRL Pakuan. Wah… telat… T_T .

Ya sudah mari kita nikmati aja KRL Ekspress dengan harga tiket Ekonomi AC plus denda ini. Keretanya enak, nyaman, bersih, penumpang pun dapat duduk semuanya, cukup banyak juga yang mau ke Bogor hari itu.

KRL Pakuan Ekspress

KRL Pakuan Ekspress

Selagi melihat-lihat, ada petugas yang hendak membuka (yang tampaknya) kunci pintu di gerbong depan itu. Cuma satu yang dibuka kuncinya. Kemudian tak beberapa lama akhirnya sampe juga di Stasiun UI, dan pintu yang tadi dibuka kuncinya pun terbuka. Saya lihat pintu-pintu lain yang satu seberang ternyata tidak ada yang terbuka, hanya pintu itu saja yang terbuka. Duh berasa kayak tahanan perang aja deh…

Kami berlima pun turun… bersama ibu dan putrinya yang ikutan turun. Saya agak bingung kenapa mereka ikutan turun ya? Setelah turun dan kereta berangkat, ibu itu pun bertanya kepada saya, “Nak, ini sudah di Bogor ya?”. Wah kaget saya… ternyata ada penumpang yang salah turun nih… Setelah dijelasin bahwa kami berlima yang turun itu sebenarnya DIturunKAN karena salah naik KRL.

Ehh ibu dan putrinya malah ketawa-tawa, bahwa mereka salah turun dan saya salah naik, jadi sama-sama senasib sepenanggungan kendati beda situasinya. Well, saya kemudian bertanya kepada petugas yang ada disitu, eh tiket saya malah disita, akhirnya beli tiket lagi deh….. T_T … dah sial salah naik, didenda, disita tiketnya pula, itu berarti beli tiket lagi dunk.

Akhirnya setelah konsul ma temen, katanya naik aja KRL Ekonomi AC sesuai rencana semula, soalnya dia dah naik dan menuju ke Stasiun UI, ya udah beli lagi deh tiketnya, kali ini saya minta tolong sama petugas tadi untuk kasih tau kalau ada KRL Ekonomi AC yang lewat. Kemudian ibu yang tadi itu ternyata melihat polah saya, dia pun bertanya gimana selanjutnya. Saya jelasin klo saya beli tiket baru lagi, soalnya tiket yang tadi itu udah gak berlaku lagi.

Ibu itu pun akhirnya menuju ke loket tiket, mo beli tiket baru. Terus putrinya pun bertanya saya lebih lanjut mengenai detailnya, yaa saya jelasin deh, mungkin putri ini penasaran kali ya? Terus setelah itu, ibu dari putri itu bilang ke saya, “Nak, tiket ibu masih berlaku nih, jadi bisa naik KRL Ekspress klo nanti lewat stasiun ini lagi”. Gubrak.. serasa ditimpa batu seberat 100 kilo… saya sial banget hari itu…

Ibu dan putri itu pun duduk-duduk, dan pada saat kami berpandangan, mereka tertawa-tawa. Saya pun ikut tertawa juga🙂 . Ehhh… ada juga penumpang yang bernasib sama seperti saya, dia pun salah naik KRL, saya jelasin ke dia mesti beli tiket baru lagi.. eh dia langsung keluar dari stasiun, katanya “Wah mas,, tanggung tinggal sekitar 3 stasiun lagi, masak beli lagi tiket yang mahal, mending saya naik bis aja, makasih ya mas atas infonya”. Hahaha… rupanya saya gak sendirian….

Akhirnya KRL Ekonomi AC pun tiba setelah KRL Ekspress yang mana ibu dan putri tadi naik kembali dengan tiket yang masih berlaku. Setelah naik KRL Eko AC itu, saya pun mencari-cari temen dan alhamdulillah ketemu.. akhirnya cerita-cerita mengenai kejadian tadi. Lumayan, dapat pengalaman yang menarik dan seru ini.

Seorang Bocah di Ekonomi AC

Seorang Bocah di Ekonomi AC

Fasilitasnya sebenarnya sama aja dengan KRL Ekspress, ada ac, kursi empuk, tempatnya bersih, pintu serba tutup-buka, ada tirai jendela yang bisa dibuka tutup. Yang membedakan hanyalah harga tiket serta waktu perjalanannya yang lebih lama dibandingkan Ekspress, soalnya Eko AC ini berhenti di setiap stasiun. Waktu perjalanan Eko AC sekitar 1,5 -2 jam perjalanan dari Jakarta – Bogor, kalau Ekspress bisa kurang 1 jam dah sampai. Dengan catatan tidak ada halangan berarti.

Akhirnya sampelah ke Bogor dan langsung memulai misi kerjaan di Bogor. Saat pulang, tadinya mo naik KRL Ekonomi AC lagi bersama teman, tapi ternyata adanya jam 16, sementara saat itu jam 14an, yah sudah beli tiket Ekonomi gak pake AC seharga Rp. 1.500.

Fasilitasnya? Wah… kontras sekali. Ada kipas (gak setiap gerbong ada tepatnya hilang, klo pun ada kadang gak nyala ato rusak), tirai jendela rusak gak bisa buka tutup, pintu selalu terbuka gak bisa tertutup, kursi gak empuk, jalanan gak mulus alias ada gelombang-gelombang (gak kalah ma jalanan yang berlubang-lubang), dan tempatnya gak bersih. Maaf gak ada fotonya, soalnya takut nanti dirampas kameranya. Sebenarnya aku ada arsip video-nya, pergerakan KRL Ekonomi di Stasiun Kebayoran Lama waktu dulu melakukan perjalanan naik KRL untuk kali pertama (lihat posting sebelumnya). Tetapi pas dicari-cari ternyata gak ketemu… duh… ya sudahlah.

Intinya hari itu adalah hari yang penuh kesan dan seru. Bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda-beda. Walaupun agak sial karena salah naik, didenda, diturunkan, disita tiketnya, dan beli tiket baru lagi. Hari yang kaya dan sarat hikmah.

Kesimpulan dan Hikmah:

1. KRL Commuter ada tiga kelas, KRL Ekonomi, Ekonomi AC, dan Ekspress. Harga pada saat itu Ekonomi Rp. 1.500, Ekonomi AC Rp. 5.500 dan Ekspress Rp. 11.000. Harga sewaktu-waktu dapat berubah.

2. Perbedaan KRL kelas Ekonomi, Ekonomi AC, dan Ekspress:

Ekonomi: fasilitasnya seperti pasar tradisional, Anda bisa menemukan pasar kereta yang hanya ada di KRL Ekonomi, ada yang jual buah-buahan, sayur-sayuran, dll, bahkan ada kambing pula (!)… dulu pernah liat pas lagi lewat Stasiun Kebayoran Lama saat pulang sekolah waktu SMA dulu. Jangan harap ada AC, adanya kipas angin itupun random, kadang ada kadang tidak. Pintu pasti terbuka. Kelebihannya: murah meriah!!! Anda dapat mendengar suara kereta yang khas dan enak itu, juga bisa melihat berbagai lapisan tingkatan ekonomi masyarakat di dalam kereta, begitu harmoni dan tidak ada diskriminasi, serta berhenti di setiap stasiun.

Ekonomi AC: sesuai namanya kelas ekonomi tetapi memakai AC. Tentu fasilitasnya jauh wah daripada ekonomi. Ada pintu buka-tutup, AC, kursi empuk, lantai mulus dan bersih, berhenti di setiap stasiun. Harga sedikit mahal daripada kelas Ekonomi.

Ekspress: fasilitas sama aja seperti Ekonomi AC dengan perkecualian tidak berhenti di setiap stasiun alias hanya di tempat tujuan saja. Kadang dalam jam tertentu Ekspress dapat berhenti di tengah-tengah stasiun, biasanya sih stasiun yang sering naik turun penumpang. Harga paling mahal dari semua kelas (dua kali lipat dari tarif Ekonomi AC dan enam kali lipat dari tarif Ekonomi).

3. Mo naik kelas apa, tergantung situasi dan kondisi, klo menurut saya sih… seandainya mo cepet sampai karena dah mepet jam waktunya, ya naik Ekspres. Klo punya banyak waktu dan ingin murah, ya pakai Ekonomi. Klo punya waktu bebas dan mo nyampe dengan sedikit keringatan dan pengin tidur serta harga tiket beralasan ya pake Ekonomi AC. Beres brebes.

4. Ohya… TIDAK ADA pengumuman mengenai stasiun apa yang sedang disinggahi KRL, seperti Busway Transjakarta. Tidak satupun. Waktu itu ane sampe harus melongok-longok jendela atau pintu yang terbuka demi melihat papan nama stasiun. Bisa juga tanya ke orang yang ahli, tapi saya mau tau aja ini stasiun apa gitu, lagian klo sering tanyain kan jadi gangguin juga toh. Mungkin lain kali saya mesti hapal atau bawa peta KRL deh..😛 . So yang suka ketidur di kendaraan umum, gak cocok naik KRL😀 (jadi ingat postingan sebelumnya).

5. Naik KRL sebenarnya lebih cepat daripada naik kendaraan, karena relatif bebas hambatan sudah gitu murah meriah lagi (klo naik kelas Ekonomi). Cuman pas jam berangkat dan pulang kerja, suasana nyaman jadi hilang karena penuhnya para manusia. Istilah saya: orang gemuk naik kereta, keluarnya nanti jadi orang kurus. Ini menggambarkan saking penuhnya sampai-sampai berdesak-desakan…

6. Jadwal KRL bisa dilihat di situs ini, klik aja.

7. Tanya-tanya ke petugas atau penumpang yang ahli, mengenai KRL mana yang pantas dinaiki, jangan sampai salah naik. Jika salah naik siap-siap didenda dua kali lipat harga tiket dan diturunkan (kayak saya ini).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: