Adakah Bidadari di Pulau Khayangan? (Bagian Terakhir: Trilogi Cerita 3 Pulau)

Tujuh Bidadari menari dan bermain.
Di sebuah telaga yang jernih nan indah.
Tak sadar ada pemuda yang mengamatinya.
Tak sadar ada pemuda yang telah mengambil salah satu miliknya.

Terdengar gemerisik dedaunan,
Para bidadari pun mengambil selendangnya masing-masing.
Dan terbang menuju khayangan, kecuali satu.
Dia kehilangan selendangnya.

Pemuda tampan itu bertemu sang bidadari cantik jelita.
Bidadari itu pun menikah dengan pemuda itu.
Hidup bahagia, sejahtera nan sentosa.
Hingga suatu hari didapatinya selendang milik bidadari itu.
Terbanglah ia, menuju ke khayangan meninggalkan suami dan anaknya.

~~~~~

Itulah dongeng tujuh bidadari yang diceritakan dalam blog ini. Akhirnya bidadari tersebut mengunjungi rumah asalnya yaitu di khayangan. Anda ingin mengunjungi bidadari itu ke khayangan? Silahkan, mari kita kesana, tak perlu mencuri selendangnya cukup naik kapal laut. Yup, mari kita kunjungi langsung ke Pulau Khayangan di Kepulauan Seribu.

Pulau Khayangan atau Cipir

Pulau Khayangan atau Cipir

Selepas dari Pulau Onrust, kita dapat berlayar menuju ke Pulau Cipir — nama lain dari Pulau Khayangan. Jaraknya tidak begitu jauh jika dibandingkan Pulau Kelor. Di Pulau Khayangan ini ada dermaga untuk menambatkan kapal. Walau demikian, mengingat area pulaunya lebih banyak dikelilingi pesisir pasir, kapal dapat mendarat di pesisirnya.

Di Pulau inilah kita akan menemukan dunia lain yang masih terkait dengan Pulau Onrust, yaitu sebagai tempat karantina haji. Disini masih ada sisa barak-barak karantina haji. Bangunannya relatif utuh jika dibandingkan Pulau Onrust. Mungkin di Pulau Onrust pernah kejadian penjarahan bahan-bahan material oleh masyarakat sekitarnya sedangkan Pulau Cipir luput dijarah, mungkin karena areal Pulau Onrust memang lebih luas dibandingkan Pulau Cipir yah (lebih luas artinya banyak bangunan gitu loh).

Bekas Rumah Sakit Pulau Cipir

Bekas Rumah Sakit Pulau Cipir

Pada foto diatas, kita bisa melihat bentuk fasad sebuah rumah sakit yang ada di Pulau Cipir. Dari bentuk fasad itu kita bisa membayangkan bentuk rumah sakit seperti apa, kendati sudah kehilangan atap rumahnya. Ohya pada foto diatas terlihat sebuah tali melintas, itu mungkin tali jemuran yang digunakan oleh orang-orang sekitar, disitu memang ada orang-orang yang tinggal di Pulau Cipir. Kurang tahu apakah sekedar menjaga pulau ataukah memang tinggal disitu. Benar-benar merusak pemandangan ya?

Rumah sakit itu kemungkinan didirikan sebagai bagian dari karantina para jemaah haji yang baru tiba dari Makkah. Pulau Cipir ini memang digunakan sebagai salah satu tempat karantina jemaah haji yang baru tiba dari Makkah. Mengapa mesti dikarantina? Katanya untuk pencegahan penyakit menular agar tidak masuk ke Hindia Belanda. Walau demikian, ada yang berpendapat bahwa sebenarnya para jemaah itu dikarantina untuk memeriksa apakah ada yang memiliki pandangan untuk merdeka. Kalau ada indikasinya, biasanya disuntik mati.

Puing-puing Barak Karantina

Puing-puing Barak Karantina

Omong-omong berbicara tentang suntik mati, sekedar informasi sudah banyak jemaah haji yang meninggal dunia dalam perjalanan pulang dari Makkah. Dulu, untuk dapat naik haji itu penuh resiko selain biayanya memang mahal. Ada yang menjual sawah dan rumahnya untuk dapat naik haji, sepulangnya menjadi jatuh miskin. Ke Mekkah mesti naik kapal laut, pesawat pada saat itu belum ada. Bisa dibayangkan untuk sampai di Tanah Suci Mekkah membutuhkan waktu berbulan-bulan. Belum termasuk karantina keluar dan masuk ke Hindia Belanda.

Karantina Haji pada Tahun 1930

Karantina Haji pada Tahun 1930

Pada gambar diatas, terlihat para jemaah haji yang sedang dikarantina. Agak mengerikan ya, pake kerangkeng mirip penjara. Sebagai informasi gambar itu diambil di Pulau Onrust pada abad 20 sekitar tahun 1930. Gambar ini diambil di buku Pulau Onrust Island yang diberikan gratis oleh stand pada waktu festival Kota Tua di Lapangan Falatehan atau Lapangan Stadhuis beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 21 Juni 2009. Maaf gambar itu dimasukin ke sini yang bahasan topik utamanya Pulau Cipir, hanya sekedar alat pembantu untuk membayangkan seperti apa jaman karantina para jemaah haji itu.

Konon banyak jemaah haji yang meninggal dunia di Pulau Cipir dan Onrust. Konon pula, asal nama pulau Khayangan berasal dari peristiwa sejarah banyaknya yang meninggal di Pulau Cipir yang sudah tak terhitung lagi, entah karena sakit atau memang disuntik mati. Jadi ngeri juga nih… apakah bidadari yang hendak kita temui itu sebenarnya hantu? Wah semoga tidak…

Ohya tidak jelas mengapa pulau ini disebut Pulau Cipir, klo dulu di masa penjajahan kolonial Belanda, pulau ini dinamakan Pulau Kuiper. Kurang tau juga artinya ^.^” . Tapi jadi teringat salah satu benda-benda langit yang dinamakan Sabuk Kuiper (Kuiper Belt), gak tau apakah ada korelasi dengan nama Pulau Kuiper yang sedang kita bicarakan ini😛 .

Kera

Kera

Di pulau Cipir ini kita bisa menemui kera-kera yang berkeliaran bebas di pulau itu. Sebaiknya kita hati-hati jika menemukan kera-kera, sering ada cerita bahwa kera sering mencuri barang-barang bawaan kita kendati cerita-cerita itu sebenarnya asalnya dari pulau Bali (disana memang ada kera klo gak salah), gak tau kalo disini, tapi memang sebaiknya kita hati-hati, ya kan? Daripada nanti diambil beneran terus kita berkejar-kejaran sambil lalu minta bantuan bidadari hehehe…😉 .

Pesona pulau Cipir memang indah sentosa nan mempesona. Di sepanjang pesisir, pasirnya termasuk pasir “ramah” alias halus. Ohya disini ada beberapa rumah-rumah bekas karantina yang berada di tepi pantai bahkan ada yang sampai masuk ke laut. Mungkin itulah efek daripada abrasi laut yang memang mengancam sebagian besar Kepulauan Seribu. Saya lihat pada waktu itu sudah dipasang semacam pemecah ombak demi mencegah efek abrasi laut. Tidak cuma Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan Pulau Onrust pun sudah diberi pemecah ombak.

Dalam foto dibawah ini terlihat dermaga Pulau Cipir. Tampak sederhana bahkan tanpa dermaga pun sebenarnya perahu bisa merapat ke Pulau Cipir. Itu bisa terlihat jelas di foto itu.

Pesisir Pulau Cipir

Pesisir Pulau Cipir

Coba bandingkan dengan gambar dibawah ini yang diambil di sisi dermaga Pulau Onrust pada tahun 1930. Di seberang sana itu kemungkinan dermaga Pulau Cipir yang masih utuh jika dibandingkan sekarang.

Dermaga Pulau Onrust pada Tahun 1930

Dermaga Pulau Onrust pada Tahun 1930

Jika sempat, berkelilinglah sekeliling pesisir pantai Pulau Cipir, jika Anda melihat sisi bagian yang tampaknya menjorok ke laut dan mengarah ke Pulau Onrust, maka Anda sudah melihat suatu pondasi yang katanya merupakan jembatan yang terhubung antara Pulau Onrust dan Pulau Cipir. Pondasi jembatan ini umurnya sudah tua, namun sayangnya tidak diketahui pasti apakah benar merupakan pondasi jembatan atau tidak. Kalo dilihat di peta kuno yang ada di museum Onrust yang ada di Pulau Onrust tidak ada gambaran jembatan penghubung antara Pulau Onrust dan Pulau Cipir.

Mengenai penyebab hancurnya bangunan sehingga tinggal pondasi saja pun tidak diketahui pasti, apakah karena perang Britain Raya dengan Hindia Belanda pada tahun 1803-1810 ataukah karena tsunami sebagai akibat dari letusan Gunung Krakatau tahun 1883. Maaf tidak ada fotonya, sebab saat itu batere kamera sudah habis terpakai… T_T . Hari itu sudah menunjukkan sekitar pukul 15:30an WIB.

Setelah puas berkeliling Pulau Cipir, saatnya kita kembali ke pangkalan Muara Kamal untuk pulang. Hari itu mengunjungi tiga pulau sekaligus dalam satu hari telah berakhir (sekaligus berakhirnya trilogi postingan ini juga ^-^). Selamat tinggal Pulau Cipir, semoga ada kesempatan untuk berkunjung kembali tidak hanya Pulau Cipir, tetapi juga Pulau Kelor dan Pulau Onrust.

NB: ohya sayangnya di Pulau Khayangan ini saya gak mendapatkan bidadari… tetapi malah mendapatkan kisah seram mengenai asal nama pulau ini ^.^” . Barangkali Anda lebih beruntung mungkin?🙂 .

Muka Dinding Rumah Sakit

Muka Dinding Rumah Sakit

Seandainya…

Waktu berulang kembali…

Biarkanlah kita melihat bagaimana kejayaan pulau-pulau Onrust…

Seandainya…

Waktu berputar kembali…

Peristiwa penjarahan itu dicegah sehingga dapat melihat bangunan-bangunan berjaya…

Semoga sejarah ini tidak kita lupakan…

Semoga peninggalan arkelogi ini tidak kita rusaki…

Trilogi Cerita 3 Pulau: TAMAT.

——- Catatan Penulis ——-

Sebenarnya ada keinginan untuk mengunjungi Pulau Bidadari yang ada diseberang sana, karena bagaimanapun juga sebenarnya Pulau Bidadari termasuk salah satu bagian dari pertahanan Pulau Onrust, disana ada sisa-sisa reruntuhan benteng bundar yang biasa disebut benteng Mortello. Tapi karena memang waktunya tidak mencukupi, untuk dapat berkunjung tiga pulau dalam sehari saja dimulai dari jam 7 pagi sampai pukul 16:00, kalau dipaksakan bisa-bisa menginap di Pulau Bidadari donk.

Sebenarnya di Pulau Bidadari terdapat fasilitas penginapan (memang di Pulau Bidadari ini satu-satunya pulau yang fasilitas wisatanya lebih lengkap daripada ketiga pulau lainnya), tapi gak bawa duit cukup ^.^” udah gitu kan tujuannya mengunjungi pulau-pulau dalam satu hari kok. Lagian kalo jadi berkunjung, maka serial postingan ini bukan lagi trilogi tetapi tetralogi😉😀 .

Ohya untuk informasi bagaimana kita dapat mengunjungi Kawasan Taman Arkeologi (yup itu nama kerennya dari empat serangkai pulau: Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Kelor dan Pulau Bidadari) bisa dilihat di gambar dibawah ini:

Peta Jalur ke Taman Arkeologi Onrust

Peta Jalur ke Taman Arkeologi Onrust

Cukup informatif kan? Kita bisa mengakses Taman Arkeologi dengan naik kapal dari tiga pelabuhan, yaitu Muara Kamal, Muara Angke, dan Marina Ancol. Masing-masing perjalanan 15 menit untuk Muara Kamal, Muara Angke membutuhkan 20 menit, dan Marina Ancol membutuhkan 45 menit. Untuk tarif naik perahu Muara Angke sekitar 20 ribu atau tergantung negosiasi. Lebih baik datang berombongan, tapi jika sendirian maka sebaiknya ikut menumpang bersama para pemancing yang biasa mancing di sekitar Pulau Onrust. Gak tau klo di Muara Angke dan Marina Ancol, mungkin lebih mahal tarifnya daripada Muara Angke.

Pelabuhan Muara Kamal

Pelabuhan Muara Kamal

Foto diatas menggambarkan suasana pelabuhan Muara Kamal, cukup tradisional bukan? Tapi disini sebenarnya menyenangkan karena kita dapat melewati tempat Pelelangan Ikan Muara Kamal yang menjual berbagai macam ikan-ikan. Kalau Anda datang di pagi hari, suasananya cukup ramai sekali, dan hati-hati terpeleset saking licinnya jalanan. Menarik dapat melihat interaksi antara pembeli dengan pedagang ikan-ikan dan hasil laut.

Pelelangan Ikan di Muara Kamal

Pelelangan Ikan di Muara Kamal

Gambar diatas menggambarkan suasana pelelangan ikan di Muara Kamal, klo Anda perhatikan dengan teliti pada foto diatas, terdapat banyak kucing-kucing disana. Memang kucing-kucing suka pada ikan yah? Lucu memang. Klo mau, Anda dapat membeli beberapa ikan atau hewan laut lainnya lalu dibawa ke Taman Arkeologi Onrust lalu bakar-bakaran ikan di misalnya di Pulau Onrust (minta ijin dulu sama pengelolanya) bersama teman-teman atau kekasih, betapa nikmatnya (alah ngayal… masih belum dapat bidadari nih… huhuh).

Untuk tiket mengunjungi Taman Arkeologi Onrust, berdasarkan Peraturan Daerah Jakarta No. 3 Tahun 1999:

Waktu Buka

Senin sampai dengan Minggu

Untuk perorangan

  • Dewasa                    : Rp. 2.000,-
  • Mahasiswa               : Rp. 1.000,-
  • Anak-anak/Pelajar   : Rp.    600,-

Untuk Rombongan (Minimal 20 orang)

  • Dewasa                     : Rp. 1.500,-
  • Mahasiswa                : Rp.    750,-
  • Anak-anak/Pelajar   : Rp.    500,-

Cukup murah meriah bukan? Nah tunggu apalagi? Buruan ke sana!!😉 .

—- Daftar Pustaka —-

  1. Attahiyat, Candrian. “Pulau Onrust Island”. Dinas Museum dan Pemugaran Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 2000: Jakarta.
  2. Brosur Pulau Onrust dan sekitarnya (didapat di festival Kota Tua tanggal 21 Juni 2009).
  3. Kambali, Asep. “Historical Islands Adventure Onrust, Kelor, & Cipir Island”. Komunitas Historia Indonesia. 2009: Jakarta.
  4. Brosur Taman Arkeologi Pulau Onrust dan Sekitarnya (didapat di festival Kota Tua tanggal 21 Juni 2009).
  5. http://kumpulan-dongeng.blogspot.com/2009/08/telaga-bidadari.html, Januari 2010.
  6. Beberapa link disuatu blog, maaf kehilangan link-link-nya… ^.^”
  7. Jalan-jalan langsung ke lapangan ^o^ .
—-

Postingan Trilogi Cerita 3 Pulau lainnya:

1. Cerita Pulau Kelor

2. Cerita Pulau Onrust

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: