Manifesto Weekend

Halohaii.. lama banget ga nulis… duh rasanya hidup ini hampa gak membuat tulisan,, tapi emang ane lagi banyak kesibukan akhir-akhir ini. Sampai-sampai waktu santai di rumah begitu sangat berharga sekali sampai ke menit-menitnya. Yups… akhir-akhir ini jarang di rumah, klo pun di rumah hanyalah sebentar seperti mck (alias mandi cuci kakus, maksudnya mandi sambil cuci kakus alias cuci wc-nya hehe😀 ), makan minum, tidur.

Tentunya sudah diupayakan untuk hidup berkualitas. Artinya membangun interaksi yang baik, makan minum teratur, membaca buku dan koran, menulis-nulis cerpen-puisi-ide, membaca Al-Quran secara konsisten, rajin-rajin ke mesjid dan lain-lain. Intinya sih menghindari malas-malasan tapi bikin relaks dan hidup bermakna gitu…

Sebetulnya ane sudah tau jauh-jauh hari dimana pada saat itu gw lagi santai,, bahwa suatu saat nanti beta pasti akan mengalami fase kesibukan. Dan inilah saya, tengah berada di fase kesibukan di bulan penuh hikmah ini, bulan Juni (ada yang masih ingat postingan bulan JuJu ga?😛 ).

Ohya belakangan ini ane sering keluar kota pada saat weekend. Itu juga bukan karena pengen keluar kota tapi memang karena lagi ada keperluan, misalnya menengok nenek sakit, melayat, dan kondangan. Di satu sisi mungkin keliatannya seperti pemborosan, tetapi bagi ane merupakan pengalaman luar biasa. Dengan keluar kota, ternyata ada ibrah dan hikmah yang sangat bernilai, yang klo kata saya, sepertinya sudah menjadi suratan takdir bahwa memang saya mesti keluar kota… Bingung? Iya nih saya juga binun hehe😀 . Berikut inilah manifesto perjalanan keluar kota… Bacalah, semoga Anda ikut bingung bersamaku😀 hehehe…

====

Manifesto Tegal

Pada waktu weekend panjang di akhir bulan Mei tempo hari, saya akhirnya melaksanakan kunjungan tertunda yang sebelumnya gagal total pulang kampung gara-gara satu kata: macet.

Jadi gini rencana awalnya, berangkat bareng sama paman yang ada di Bekasi. Tetapi pada hari H, beliau ternyata sedang ada perlu di Cibubur dan saat mo pulang ke Bekasi kena macet di jalan sehingga akhirnya kita berdua ketinggalan bis😦 … padahal hari libur kerjaku cuman ada 2 hari pada saat itu dan belum tentu dapat lagi libur…. T__T .

Kegagalan yang simpel tapi bikin repot, soalnya setelah itu ditelpon terus sama sodara-sodari sanak kerabat Tegal, pada nanyain kapan Yaya main ke sini, Ah Yaya ini cuman banyak janji kayak parpol (aduh emang gw poli-tikus?? Alias banyak tikus gitu :p ). Gitu deh..

Akhirnya dengan keputusan bulet tapi gak bunder, saya memutuskan kedepannya dan seterusnya gak akan lagi berkata-kata dan melapor ke sodara-sodari sanak kerabat bahwa saya akan datang ke situ biarlah datangnya dadakan aja ah.

Oleh karena saya sudah kangen sama nenek apalagi katanya beliau sakit, akhirnya tanpa tedeng aling-aling, saya langsung mempersiapkan koper dan telpon ke paman satu lagi di Pondok Kopi untuk berangkat bareng. Alhamdulillah hari itu lancar, bahkan temen-temen kantor mendukung sehingga dapat libur bahkan satu keluarga paman sampai ikut juga dengan naik mobil.. heheh alhamdulillah bisa nebeng mudik padahal rencana awal mo naik bis bareng… lumayan dapat menghemat ongkos perjalanan.

Tapi ternyata perjalanannya tidak mudah, sampai-sampai malam-malamnya mobil tersendat-sendat di tengah jalan, dan di jalanan itu tidak ada rumah penduduk sama sekali,, sekelilingnya sawah gitu. Saat itu paman sampai terlihat merokok berkali-kali, yang bagi saya menandakan paman sedang stress. Memang ada kekuatiran bahwa mobil bakal ditabrak oleh kendaraan dibelakang…

Yang saya bisa lakukan hanyalah berdoa, berdoa, dan berdoa memohon keselamatan dan kemudahan kepada Allah. Untung alhamdulillah,, hari itu sudah mulai terang, artinya sekeliling jalanan mulai terang. Dan alhamdulillah mobilnya kembali berjalan lancar… subhanallah…

Nah sesampainya di rumah nenek, ternyata ada kejadian lagi, kali ini sodara sepupuku yang masih kecil kena kecelakaan motor. Wah pada panik seisi rumah nenek pagi itu. Apalagi bibi sampai histeris. Bibi takut kalau anaknya nanti lumpuh gak bisa jalan. Kakak-kakaknya juga pada menangis meneriaki dan membangunkan paman yang saat itu tengah tidur kecapean.

Setelah berdebat dengan diduga pelaku yang menabrak sodara sepupu (saat itu saya tidak melihat kejadiannya langsung, soalnya lagi di toilet), saya bilang sudahi dulu, yang penting itu (maksudnya luka sodara sepupu saya) diobatin dulu. Akhirnya paman membawa sodara sepupu ke puskesmas terdekat dengan diantar motor warga. Dan saya pun ikut kesana.

Di tengah jalan paman tiba-tiba bermuka pucat, katanya paman mo semaput, mungkin kecapean mudik…. Akhirnya saya yang menggendong sodara sepupu saya ke puskesmas. Paman istirahat dijalan. Sayangnya puskesmasnya sedang tutup karena lagi libur hari itu (maklum tanggal merah). Untung alhamdulillah para warga yang melihat memberikan saran bahwa ada rumah dokter didekat situ.

Akhirnya saya segera kesana dan alhamdulillah segera ditangani cepat oleh dokternya… Kata dokter dengan tegas bahwa lukanya itu gak parah-parah sehingga nanti dia bisa jalan lagi. Fiuhh lega. Kemudian paman, bibi, dan pelaku akhirnya damai, sang pelaku sendiri yang membayar biaya pengobatan sodara sepupuku itu. Alhamdulillah segalanya berakhir dengan baik-baik.

Fiuh… di malam hari mobil tersendat-sendat, di pagi hari, disaat tiba, disaat sedang lelah, langsung ada kejadian… Seisi rumah panik. Tetapi bagi saya kok aneh ya, tidak panik gitu. Masih bisa berpikir tenang. Bahkan ada suara hati berkata untuk bersikap tenang saja. Barangkali karena di Jakarta saya sudah sering mengalami yang namanya kejadian panik yah… Entahlah… tapi klo dipikir-pikir terasa sekali ujian dari Allah untuk kami di Tegal.

Dari hasil kejadian itu kini saya berpikir boleh jadi itu membuat diri ini menjadi lebih dewasa dan matang pemikiran. Secara jujur, diriku ini masih belum stabil dan kadang diri ini bisa berubah menjadi panik dan mungkin bisa emosional. Di Jakarta sering panik, tetapi di Tegal kok tidak panik. Patut direnungkan. Kenapa ya?

====

Manifesto Yogjakarta

Setelah seminggu dari Tegal, tiba-tiba ada kabar buruk dari Jogja (saya lebih suka menyebut Jogja ketimbang Yogyakarta,, keren aja nyebutnya hehehe) bahwa nenek buyutku meninggal dunia. Akhirnya hari itu sepulang kerja langsung memesan tiket ke Jogja kemudian mempersiapkan koper dan berangkat subuh naik kereta api.

Bersama siapa? Sendiri. Saudaraku sedang berhalangan hadir. Well tidak apa-apa. Tokh ada kereta api. Loh? Iya dunk, saya suka mendengar suara kereta api yang asek didengerin bagai musik dan perjalanannya juga termasuk mudah karena rumahnya masih di kota, tidak seperti di Tegal dimana lokasinya adalah desa yang cukup jauh dari pusat kota.

Sesampainya di stasiun, tidak langsung ke rumah sodara, tetapi antri 1 jam untuk memesan tiket yang ternyata sudah tahap kritis alias tiket di beberapa kereta sudah habis. Duh deg degan jadinya.

Tiit… tiiit.. tiit… tunggu,, itu bukan suara denyut mesin jantung. Tapi suara pergantian antrian. Memang ada pengumuman pergantian antrian disitu kok. Well itu tidak penting, karena alhamdulillah dapat tiket dengan sukses berhasil!!!

Tapi nungguin sodaraku lama banget… di-sms-in katanya akan datang abis magrib, sementara ini masih waktu ashar… ya sudah tunggu di stasiun sambil baca novel Adriana. Novelnya keren juga, sampai-sampai kepalaku masuk ke dunia Adriana sehingga tak sadar waktu sudah berlalu 2,5 jam. Setelah itu barulah sodaraku datang menjemput.

Setelah melayat dan mengunjungi sodara-sodara sanak kerabat jauh, akhirnya malamnya baru bisa mengunjungi Monumen Tugu. Ternyata diluar bayanganku selama ini, selama ini saya berpikir kalau Monumen Tugu itu berada di dalam sebuah taman yang penuh kebun bunga-bunga indah dan ada kupu-kupu menari-nari disertai lebah yang rajin bekerja. Ohhh… ternyata… pantaslah kalau saudaraku berkata bahwa waktu terbaik ke monumen adalah di malam hari.

Monumen Tugu

Bahwa Monumen Tugu itu berada di tengah-tengah jalan raya. Yups. Seperti Patung Selamat Datang di Bundaran HI Jakarta. Bedanya tidak ada air mancur dan pembatas jalan yang tegas.

Well,, tidak apalah, toh banyak juga pemuda-pemudi yang berfoto-foto ria di Monumen Tugu itu. Dan saya pun termasuk dalam salah satunya. Lalu diceritakan tentang Monumen Tugu, kata sodaraku monumen ini adalah pertanda kilometer nol dengan berlokasi tepat ditengah-tengah antara Gunung Merapi dengan Keraton. Ckckck… penuh filosofi ternyata… Setelah puas foto-foto, lanjut ke tujuan berikutnya.

Nongkrong di warung ngejoss. Nongkrong? Mungkin gak banget kali ya. Tapi enak juga lesehan di pinggiran jalan raya. Cukup banyak pemuda-pemudi yang nongkrong disini bahkan para artis dan aktor datang duduk disebelahku. Minta ttd? Minta foto bareng? Saya emoh.

Nongkrong Ngejoss

Nongkrong Ngejoss

Anyway, minum kopi ngejoss disitu benar-benar enak. Ada satu kata yang terkenal untuk menggambarkan rasanya: maknyuuusss hehe😀 . Kopi yang dicelup arang, tapi arangnya sendiri sudah diangkat. Ada rasa gosong. Memang tercium bau arang di kopinya. Selain kopi, saya juga mencoba susu jahe, rasanya juga enak ditambah rasa jahe yang menghangatkan badan.

Tapi jadi pertanyaan juga,, mengapa banyak orang-orang nongkrong di depan jalan rel seperti di tempat ini? Bagaimana cerita asal muasal tempat ini dijadikan nongkrong? Kok bisa ya kopi dikasih arang? Darimana ide tersebut? Terbesit pikiran, barangkali awalnya kopinya tercelup arang yang gak disengaja, karena sayang akhirnya kopi tersebut diminum eh… ternyata enak,, gitu kali… Ah gak tau ah….

Tak terasa lama, akhirnya segera bangkit dari temaram nongkrongan, karena sodaraku ternyata ada tugas kuliah yang mesti dikumpulkan esoknya. Ya sudah pun kembalilah kami ke rumah tuk tidur. Besok paginya saya pulang naik kereta lagi.

Saat perjalanan kereta dimulai, saya berkenalan dengan penumpang yang duduk disebelahku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Riko. Setelah berbincang-bincang padanya, ternyata dia sering pulang pergi ke Jakarta – Jogja. Ada apa gerangan? Ternyata dia pergi ke Jogja demi menemui pacarnya.

Bahkan demi menemui pacarnya dia sampai-sampai pernah tidak membawa koper, hanya memakai pakaian yang melekat di badannya. Berangkat pagi itu, langsung pulang di malam itu juga. Ternyata pemilik nama lengkap Yuriko ini seorang pejuang cinta. Saat ditanya bagaimana bisa jadian, diceritakanlah lengkap olehnya yang saya pendekin cerita bahwa dia diutus markas ke Jogja kemudian bertemu dengan pacar disana, sisanya silahkan kalian menebak :p .

Markas? Iyup. Dia seorang polisi. Tapi di bidang IT, sama sepertiku. Yang menarik dia ternyata seorang backpaker ekstrem sejati. Dia ternyata tipe easy going dalam arti jika diajak temen ke Batam, hari itu juga dia langsung ke Batam.

Ckkckck.. lumayan dapat ilmunya. Katanya pernah dia ke Bali hanya dengan tiket pesawat 27 ribu. PP. Serius katanya. Sering-sering cek website Air Asia, biasanya sering ada promo tiket murmer (murah meriah, maksudnya), hanya saja mesti dipesan 3 bulan sebelumnya. Oke siap! Semoga saya dapat tiket 30 ribu ke Bali bareng Riko selaku pemandu jalanan hehehe😀 .

Akhirnya sampailah aku di Stasiun Pasarsenen Jakarta. Riko? Dia sudah turun duluan di Stasiun Bekasi. Sesampainya hujan langsung menyambut, lumayan setidaknya tidak gerah kepanasan. Tetapi jadi mengenang betapa serunya perjalanan Jogja….

====

Manifesto Bandung

Setelah mendapat sms dari paman, bahwa ada sodara jauh yang menyelenggarakan kondangan di Bandung, maka saya pun mengontak temen kerja yang tinggal di Bandung. Katanya ada beberapa pilihan ke Bandung, yaitu naik travel dan kereta api.

Agak kaget mendengar ada kereta api ke Bandung mengingat diberita-berita selama ini dikatakan bahwa kereta api jurusan Jakarta – Bandung yang bernama Parahyangan ditutup, eh ini ternyata masih ada. Oh lala… ternyata kereta Parahyangan digabung dengan kelas Argo eksekutif sehingga melahirkan kereta Argo-Parahyangan, perpaduan kelas eksekutif dengan bisnis, hanya saja untuk Parahyangan (kelas bisnis) diberi dua gerbong kereta…

Dengan mempertimbangkan lokasi dan kecepatan, akhirnya dipilih travel karena lokasinya dekat kantor, cepat sampai, selain itu murah dan ber-AC lagi. Sebetulnya lebih suka naik kereta karena merupakan favoritku, tapi karena kondangannya mulai pagi, ya dipilih travel. Demi memudahkan, akhirnya diputuskan untuk menginap semalam dikantor. Tak dinyana di masa depan, keputusanku ini benar-benar tepat sekali.

Saat lagi asik-asiknya tidur diwaktu dini hari di kantor. Tiba-tiba alarm berbunyi panjang di jam 2:45 dini hari. Ternyata ada kejadian di kantor yang butuh penganganan darurat. Alhasil saya jadi bantu-bantu dan temenku itu yang sedianya mo mengantar ke Bandung pun jadi sibuk. Akhirnya baru selesai jam 4:45.

Kemudian tersadar bahwa keputusanku untuk naik travel daripada naik kereta api adalah tepat. Sebab kereta api berangkatnya jam 5 pagi. Dengan waktu 4:45 tentu dirasa gak mungkin bisa ke Stasiun Gambir tepat waktunya. Mana belum solat subuh lagi. Untung Alhamdulillah telah memilih naik travel karena berangkatnya jam 6 pagi. Toh pulangnya nanti naik kereta api.

Setelah sampai di Bandung, dan habis kondangan setelah diantar temen naik motornya, bersiaplah daku ke stasiun Bandung…. sayang jalan-jalannya hanya disekitar stasiun karena situasi dan kondisi tidak mendukung… Cuman bisa beli roti kartika sari saja. Lalu setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kereta api pun tiba.

Ternyata… perjalanan naik kereta api sore itu sungguh indah sekali pemandangannya. Serasa seperti naik kereta terbang, karena tidak kelihatan jalanan raya (seperti yang biasa saya naik kereta api jurusan Jakarta – Jogjakarta). Yang ada begitu banyak bukit, lembah, dan hutan yang cantik mempesona….

Belum lagi sunset menjelang, waow… subhanallah indahnya… Kali lain seandainya ada sang istri pasti akan kuajak ikut serta naik kereta argo-parahyangan eksekutif pada jam 4 sore atau jam 5 pagi untuk menyaksikan keindahan ciptaan Allah Yang Maha Indah ini…

Rasanya tidak menyesal naik kereta api dari Bandung, jadi kepingin mengunjungi Bandung sekali lagi dengan naik kereta argo-parahyangan… Bandung, tunggulah daku tuk kembali….

~~~

Demikianlah manifesto-manifesto. Manifesto Tegal menceritakan perjuangan, ketangguhan, kesabaran, dan ketenangan. Manifesto Jogja menceritakan kebudayaan, filosofi, hikayat, dan pertemanan. Manifesto Bandung menceritakan kebijaksanaan, kreatif, keindahan, dan syukur.

Demikianlah manifesto-manifesto yang telah kuserap dari Tegal, Jogja, dan Bandung. Nantikan manifesto-manifesto terbaru di edisi mendatang. Semangat!!!! Merdekaaa~~!!!

4 Komentar (+add yours?)

  1. ellen
    Jul 09, 2010 @ 19:51:41

    asik nya bs jalan2 terus…btw, tegal nya dmn? bokap gw dari slawi. klo ke tegal lg harus cobain makan sate tegal tirus. manyuzzz!!!

    Balas

  2. Arkden
    Jul 09, 2010 @ 19:54:55

    Iya nih… seru klo jalan-jalan keluar kota. Saya di Prupuk, di dusun Kesambi. Ohya?? Tar klo ke Tegal saya cariin deh sate tegal tirus… ehm… kalau tak keberatan, kirimin paket ke rumahku ya klo dah dapat hehehe…😀

    Balas

  3. kiminuklir
    Jul 09, 2010 @ 20:42:10

    pengen nyobain kopi ngejoss-nya, tapi nggak susu jahenya…
    kok saya lebih suka bau arang daripada jahe ya?
    cxcx

    great trip sepertinya, mas.. ^^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: