Snorkeling 3 Pulau (Part 3 [Terakhir] – PTD Tarakan Derawan)

Pada perjalanan mengunjungi tiga pulau disekitar Pulau Derawan pihak panitia membagi menjadi dua rombongan yaitu rombongan yang berminat jalan-jalan mengelilingi pulau dan rombongan yang berminat snorkeling. Kenapa dibagi dua ya karena tentunya ada peserta yang tidak berminat snorkeling selain itu juga karena keterbatasan kapasitas kapal dan waktu.

Kapal PE (Presidium Express) dipilih untuk rombongan yang berminat jalan-jalan keliling pulau, sementara kapal terbuka non AC diperuntukkan rombongan yang mau snorkeling. Oleh karena saya termasuk salah satu anggota rombongan yang berminat snorkeling maka mau tak mau harus naik kapal non-ac. Loh? Ya karena sebenarnya saya ingin keliling pulau juga… ­čśŤ . Ohya ada juga peserta yang ingin menyelam (scuba diving), sayangnya kapalnya yang dinaiki adalah kapal PE, padahal saya ingin melihat seperti apa sih menyelam itu secara langsung. Buat yang belum tahu, untuk bisa menyelam peserta diharuskan memiliki sertifikat menyelam yang sah dan berlaku, kalau tidak punya sertifikatnya, nelayan disana tidak akan melayani.

Oleh karena saya ikut rombongan snorkeling otomatis saya kurang tahu persis dipulau-pulau tersebut ada apa saja yang menarik untuk dijelajahi jadi Lagi

Iklan

Kematian dan Kelahiran serta Sejarah

Manusia lahir mendapatkan nama. Manusia mati meninggalkan nama.

Manusia mati, lahir manusia baru.

Cerita berakhir muncul cerita baru.

Segala kenangan manusia yang tertinggal menjadi sejarah.

Segala peninggalan manusia yang tertinggal menjadi artifak.

Demikianlah dunia terus berputar, sejarah terus dituliskan.

(Anonimus, 2011)

————————————————————————————————————————————————-

Belum lama ini, tanteku dari pihak ibu datang ke Jakarta menemani putrinya -yang notabene saudari sepupuku- yang akan bekerja di Jakarta. Tante meminta saya untuk melihat foto-foto maluku. Maksud maluku adalah nama suatu jalan di Semarang tempat tempat tinggal nenek dulu sekaligus rumahnya. Dari foto-foto itulah, ane jadi teringat bapak dan ibu serta nenek. Didalam foto-foto tersebut ada bapak dan ibu masa mudanya, dan juga nenek yang masih aktif dan hidup. Mereka kini sudah tiada, foto-fotonya pun sudah tidak ada yang baru.

Mereka sudah lama meninggalkan dunia ini, sehingga sejarahnya pun berakhir saat kepergian mereka. Titik. Yang tersisa hanyalah kenangan yang jika dituliskan menjadi Lagi

Insya Allah: Janji atau Basa-basi?

Alkisah saat saya berinteraksi kepada seseorang di dunia maya. Akhirnya disepakati untuk kopi darat di suatu mall. Sebelum hari yang disepakati itu, dia sms saya untuk memastikan apakah besok jadi ketemuan atau tidak. Saya bilang insya Allah saya akan datang. Dibalas dengan sengit, “nih bro bener-bener serius apa gak? Klo besok ternyata ga ada kan gw gimana???”. Kagetlah bukan kepalang saya, baru kali ini ada yang kasih kritikan keras hanya karena saya mengucapkan insya Allah….

Saat pertemuan ternyata diketahui bahwa dia adalah non-muslim, sehingga rasanya masuk akal kalau dia tidak mengetahui arti sebuah insya Allah yang sesungguhnya, akhirnya saya jelaskan bahwa dalam Islam diwajibkan apabila berjanji harus mengucapkan insya Allah karena kadang-kadang saat kita berusaha memenuhi janji ada halangan yang tak terhindarkan seperti misalnya kematian, kecelakaan, dan lain-lain, setelah dijelaskan barulah dia mengerti…

Saat saya meminta bantuan teman untuk membuatkan suatu desain, dia berkata insya Allah besok. Besoknya tidak ada kabar, maka lusa saya tanyakan Lagi