Insya Allah: Janji atau Basa-basi?

Alkisah saat saya berinteraksi kepada seseorang di dunia maya. Akhirnya disepakati untuk kopi darat di suatu mall. Sebelum hari yang disepakati itu, dia sms saya untuk memastikan apakah besok jadi ketemuan atau tidak. Saya bilang insya Allah saya akan datang. Dibalas dengan sengit, “nih bro bener-bener serius apa gak? Klo besok ternyata ga ada kan gw gimana???”. Kagetlah bukan kepalang saya, baru kali ini ada yang kasih kritikan keras hanya karena saya mengucapkan insya Allah….

Saat pertemuan ternyata diketahui bahwa dia adalah non-muslim, sehingga rasanya masuk akal kalau dia tidak mengetahui arti sebuah insya Allah yang sesungguhnya, akhirnya saya jelaskan bahwa dalam Islam diwajibkan apabila berjanji harus mengucapkan insya Allah karena kadang-kadang saat kita berusaha memenuhi janji ada halangan yang tak terhindarkan seperti misalnya kematian, kecelakaan, dan lain-lain, setelah dijelaskan barulah dia mengerti…

Saat saya meminta bantuan teman untuk membuatkan suatu desain, dia berkata insya Allah besok. Besoknya tidak ada kabar, maka lusa saya tanyakan bagaimana perkembangannya. Jawabannya ga sempat buat, nanti saya buat deh. Terus saya desak-desak untuk buatkan sebab dia sudah komitmen untuk buat, tapi dia berkata bahwa dia tidak berkomitmen hanya diusahakan. Saya bilang bukannya sudah mengatakan insya Allah? Bukankah itu berarti berjanji untuk membuat desain yang berarti berkomitmen? Dia jawab oke deh besok saya buat. Besoknya tidak ada kabar, saat ditanyakan pun tidak menjawab.

Pada kesempatan lain, saat saya mengadakan suatu acara, saya mengundang teman-teman untuk menghadiri acara tersebut, sebagian besar mengatakan insya Allah. Hanya dua kata saja itu bagi saya cukup untuk percaya. Tetapi kemudian pas hari acara dimulai sampai pertengahan acara tidak ada yang datang, akhirnya saya sms menanyakan kenapa tidak datang, jawabannya bertele-tele mulai dari, maaf saya tidak bisa datang karena lagi di Bandung ada acara lain, ada rencana menengok orang tua, lagi kondangan, maaf tidak bisa datang karena ada acara lain, dan lain-lain. Kemudian salah satu teman yang datang pada acara tersebut mengatakan bahwa sepertinya salah satu ada yang berbohong sebab dia sempat bertemu di kampus.

——————————————————————————————————————————————————

Dari berbagai kejadian diatas, saya jadi mempertanyakan apa arti dari dua kata “insya Allah”? Bukankah menurut yang kuketahui arti kata “insya Allah” adalah “apabila Allah berkehendak”? Kedua kata ini pun sudah diperintahkan oleh Allah SWT didalam Al Quran surat Al Kahfi ayat 23-24 yang artinya:

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini esok pagi”. Kecuali (dengan menyebut) “Insya Allah”. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. (Q.S. Al Kahfi [18]: 23 – 24).

Dari situ sudah jelas perintah-Nya bahwa jika hendak berjanji di masa yang akan datang harus mengucapkan insya Allah dan jika lupa mengatakan insya Allah dan baru ingat maka harus mengucapkan insya Allah sesegera mungkin.

Sekarang mari kita lihat cerita diatas, pada cerita pertama dimana saya mengadakan pertemuan dengan teman non-muslim. Saat saya mengucapkan kata insya Allah sudah dicap buruk dimata teman non-muslim tersebut. Berarti dari pengalaman dia selama ini, bahwa kata insya Allah adalah kata-kata yang meragukan, tidak memberikan kepastian dan tidak ada niat sungguh-sungguh untuk menepati janjinya.

Kemudian kita lihat kembali cerita kedua dimana dia berjanji untuk membuatkan desain namun dia berpendapat bahwa kata insya Allah bukanlah komitmen tetapi usaha saja. Artinya dia mengecilkan arti kata insya Allah, insya Allah dipandangnya adalah usaha bukan janji atau suatu keputusan untuk bersungguh-sungguh dijalankan. Bisa dilihat dari waktunya yang tidak jelas kapan akan diselesaikan yang berarti secara tidak langsung menunjukkan bahwa tidak ada niat untuk berusaha. Jadi mirip dengan cerita Nasruddin Hoja yang dinukilkan dari blog rindurabb

Suatu hari Nasruddin membawa kain ke sebuah tukang jahit untuk dibuatkan sebuah baju panjang (gamis).
“Datanglah dua minggu depan,” kata si tukang jahit. “Insya Allah sudah selesai.”
Dua minggu kemudian Nasruddin datang dengan hati riang mengharapkan hari itu dia bisa memakai baju barunya. Tetapi ternyata baju itu belum selesai.
“Saya masih butuh seminggu lagi. Insya Allah sudah selesai.” Dan Nasruddin pun pulang dengan hati sedih.
Minggu depan dia datang lagi. Kali ini dengan harap-harap cemas. Tetapi ternyata kecemasannya yang terbukti. Baju itu belum selesai juga.
“Datanglah besok”, kata si tukang jahit, “saya janji, Insya Allah sudah selesai.”
Nasruddin akhirnya berkata jengkel, “Berapa lama sebenarnya baju itu bisa kau selesaikan andaikata Allah tidak ikut campur?

Cerita terakhir dimana saya mengadakan suatu acara yang tidak dihadiri oleh teman-teman yang berjanji akan datang dengan mengucapkan kata “insya Allah”. Jika dilihat dari alasan dan niat tersirat saya mendapati bahwa memang tidak ada niat sungguh-sungguh untuk datang ke acaranya. Apalagi tidak ada kabar pula sampai saya yang menanyakannya pada acara berlangsung, ada yang dijawab adapula yang tidak jawab. Kalaulah memang serius akan datang paling tidak akan mengabarkan bahwa tidak bisa datang sebelum acara dimulai atau sekurang-kurangnya sebelum saya menanyakan kabar. Dengan alasan tersebut bolehlah jika saya mengatakan bahwa mereka yang berjanji akan datang itu ingkar janji tidak datang.

Terus terang untuk masalah terakhir itu saya sempat sangat kecewa dan marah kepada yang mengucapkan “insya Allah” tetapi tidak ada niat untuk datang. Saya menangkap kesan bahwa kata “insya Allah” itu adalah penolakan halus atau sekedar alasan untuk tidak datang atau mengerjakan sesuatu, kalaulah ditanya alasannya tinggal bilang bahwa udah usaha. Pantas saja teman non-muslim waktu itu sampai menghardik saya hanya karena saya mengucapkan “insya Allah”.

Dari kejadian terakhir tersebut, saya sampai sempat ragu-ragu untuk mengucapkan kata insya Allah, bukan karena tidak berniat menepati janji, tetapi karena dianggap tidak menepati janji. Setelah saya kembali mempelajari kata “insya Allah” langsung di sumbernya yaitu Al Quran surat Al Kahfi ayat 23-24, akhirnya semakin yakin bahwa memang benar kata “insya Allah” dipergunakan untuk mengawali suatu janji akan melakukan sesuatu di waktu yang akan datang.

Dari peristiwa diatas, saya jadi belajar, semakin berhati-hati dan memastikan apakah saya bisa melakukannya atau tidak, kalaulah bisa maka saya akan mengatakan “insya Allah saya akan datang/lakukan”. Jika tidak, maka saya akan berkata tidak bisa. Saatnya kata insya Allah haruslah kembali disucikan dan ditempatkan makna dan tujuan sesuai dengan perintah-Nya, diharapkan nanti kelak suatu saat jika saya atau orang lain mengatakan “insya Allah” baik kepada muslim maupun non-muslim maka akan dianggap dia akan memenuhi janjinya, tidak diragukan dan tidak pula diremehkan. Wallahu’alam bishowab.

——————————————————————————————————————————————————

Daftar Pustaka:

1. Al Quran, surat Al Kahfi ayat 23-24.

2. http://alamanah1429.wordpress.com/2009/01/03/arti-kata-insya-allah/

3. http://yorijuly14.wordpress.com/2011/04/25/insya-allah/

4. http://rindurabb.blogspot.com/2007/01/jangan-kau-katakan-insya-allah.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: