Kematian dan Kelahiran serta Sejarah

Manusia lahir mendapatkan nama. Manusia mati meninggalkan nama.

Manusia mati, lahir manusia baru.

Cerita berakhir muncul cerita baru.

Segala kenangan manusia yang tertinggal menjadi sejarah.

Segala peninggalan manusia yang tertinggal menjadi artifak.

Demikianlah dunia terus berputar, sejarah terus dituliskan.

(Anonimus, 2011)

————————————————————————————————————————————————-

Belum lama ini, tanteku dari pihak ibu datang ke Jakarta menemani putrinya -yang notabene saudari sepupuku- yang akan bekerja di Jakarta. Tante meminta saya untuk melihat foto-foto maluku. Maksud maluku adalah nama suatu jalan di Semarang tempat tempat tinggal nenek dulu sekaligus rumahnya. Dari foto-foto itulah, ane jadi teringat bapak dan ibu serta nenek. Didalam foto-foto tersebut ada bapak dan ibu masa mudanya, dan juga nenek yang masih aktif dan hidup. Mereka kini sudah tiada, foto-fotonya pun sudah tidak ada yang baru.

Mereka sudah lama meninggalkan dunia ini, sehingga sejarahnya pun berakhir saat kepergian mereka. Titik. Yang tersisa hanyalah kenangan yang jika dituliskan menjadi sejarah, dan segala peninggalannya menjadi artifak. Segala kenangan itupun terkait dengan pelaku sejarah, jika tidak ada kaitan maka tidak berarti apa-apa.

Seperti itulah saat saya melihat teman-teman bapak dan ibu serta nenek. Tidak mengenali semuanya. Tidak berarti apa-apa. Ada foto-foto yang selalu ada orang yang itu-itu saja, kemungkinan adalah sahabatnya. Namun sekali lagi tidak berarti apa-apa. Seperti itulah cara kerja sejarah dan artifak. Sejarah ada karena kita mengenalnya, artifak ada karena kita mengetahuinya.

Kita mengenal bung Karno, bung Hatta sebagai pahlawan proklamator, karena ada sejarah yang menceritakannya. Padahal mereka lahir dan mati sebelum era saya dimulai di dunia ini. Mengapa? Karena bung Karno dan bung Hatta milik nasional. Tanpa sejarah nasional, maka sebuah negara takkan berarti sebagaimana halnya saya tidak mengenal teman-teman bapak dan ibu didalam foto-foto tadi.

Artifak. Bagaimana artifak dapat dikenali? Karena kita mengetahui. Dahulu kala kita memiliki banyak tembikar-tembikar dan uang-uang dari emas. Berdasarkan catatan sejarah, bahwa ada suatu kota di daerah ini itu, lalu dilakukanlah penggalian dan akhirnya terbukti memang ada peninggalan-peninggalan sesuai dengan catatan sejarah. Begitulah cara kerja artifak. Kita mengenali artifak karena kita mengetahui. Kalau tidak mengenali, maka akan dianggap barang rongsokan tiada arti, sebagaimana kita melihat barang-barang peninggalan bapak dan ibu karena kita tahu bahwa barang-barang tersebut memang milik mereka. Sama halnya seperti kita melihat barang-barang loak di pasar loak yang tidak berarti apa-apa bagi kita. Yup, artifak adalah warisan.

Demikianlah. Ceritanya telah tamat. Tapi dunia terus berputar. Selalu ada kelahiran baru seorang-berorang manusia. Manusia lahir diberi nama pada saat itulah sejarahnya dimulai. Artifak-artifak pun juga disediakan, kendati demikian tidak semua artifak-artifak itu bersisa. Ada yang berakhir di tempat sampah, pasar loak, atau malah hancur sama sekali tak bersisa. Sehingga terasa wajar jika artifak-artifak saat dia  bayi sering tak bersisa saat meninggalnya.

Dari kematian, lahirlah kehidupan. Manusia mati agar menyisakan ruang untuk manusia baru yang lahir di dunia ini. Andaikan manusia tua terus hidup dari jaman nabi Adam AS sampai sekarang, tentu bumi akan menjadi macet karena begitu penuhnya manusia. Manusia baru pun tak akan mendapat tempat karena penuhnya manusia di dunia ini. Itulah gunanya kematian.

Dari kematian pecah tangis sanak saudara dan teman yang memiliki sejarah terkait dengan jenazah. Dari kelahiran pecah tangis sang bayi karena kesendiriannya serta tak memiliki sejarah di dunia ini, bahkan teman pun ia tak punya. Namun dari kelahiran sang bayi, orang tuanya dan bapak ibu orang tuanya itu bergembira dan berbahagia, termasuk juga sanak saudara kerabat dan teman-temannya. Karena telah lahir generasi baru yang akan melanjutkan cita-cita dan harapan agar dunia menjadi lebih baik versi mereka masing-masing.

Seperti itulah saat saya menyaksikan bayi yang ditimang oleh bapaknya dengan wajah penuh bahagia. Begitu pula ibunya juga bahagia melihat putra pertamanya ditimang-timang dan dibanggakan di depan kawan suaminya. Melihatnya, saya jadi ikut bahagia. Memang kebahagiaan adalah bersifat menular sama halnya dengan semua perasaan emosi manusia, marah, sedih dan lain-lainnya. Begitulah. Mengutip dari teman, “dari kematian, aku hidup”. Begitulah yang kupikirkan mengenai itu semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: