Cerita Menarik di PTD Tarakan Derawan (Epilog)

Sebagai penutup perjalanan Plesiran Tempo Doeloe (PTD) Tarakan – Derawan, saya mau menceritakan cerita-cerita menarik selama perjalanan ini. Sengaja saya menjadikan postingan terpisah karena kalau dimasukkan kedalam posting bagian-bagian PTD Tarakan – Derawan terdahulu nanti menjadi tidak fokus dengan tema utamanya. Oke kita mulai saja ceritanya😉 .

Dimulai dari perjalanan menuju ke jejeran meriam di bukit yang menghadap ke pantai (saya lupa nama tempatnya) dimana jalanannya utamanya berupa tanah liat yang agak berlumpur dan liat. Saat rombongan kendaraan (terdiri dari bus-bus dan minibus) hendak memasuki tempat situs, salah satu bus di depan rombongan terjebak tanah liat sehingga para peserta berjalan kaki menuju ke tempat situs.

Walau jaraknya masih jauh tapi para peserta tetap antusias dan semangat melihat-lihat berbagai meriam yang ada disitu tapi saat pulang para peserta mulai menampakkan rasa lelah dan kecapean. Alhamdulillah ada mobil sekelas jip yang akan mengantarkan peserta kembali ke tempat bus yang tadi berhenti, maka sebagian peserta yang kelelahan itu ramai-ramai menaiki mobil tersebut. Nah saat hendak berangkat ada yang bilang bahwa masih ada satu peserta yang berada di salah satu bukit melihat-lihat meriam, maka mobil pun menunggu peserta yang terakhir itu.

Akhirnya karena kelamaan, peserta yang tadinya menaiki mobil jip akhirnya mengambil jalan lain yaitu: jalan kaki menyusuri jalan balik (emangnya ada jalan lain lagi? Hehehe😛 ). Sedangkan saya tetap setia menunggu bukan karena capek tetapi karena ingin merasakan kayak apa sih naik jip menyusuri tanah-tanah yang seperti di game Dirt — game balapan bertema off road racing😛 .

Setelah lama menunggu, akhirnya jip pun berangkat!! Tetapi ternyata malah terhenti padahal baru mulai berangkat. Setetelah turun dari jip barulah ketahuan bahwa jipnya terperangkap tanah liat yang agak cair sehingga mau digas keras-keras mobilnya tidak akan beranjak. Akhirnya kita pun mencari-cari kayu untuk mengganjal sekaligus memberinya jalan. Sesudah itu semua peserta yang cowok, termasuk saya, mendorong-dorong mobil agar keluar dari perangkapnya. Sedangkan yang cewek hanya memberi arahan dan semangat ^_^ . Alhamdulillah setelah berjuang keras dan kotor-kotoran, akhirnya mobil pun berjalan meninggalkan situs meriam ke rombongan bus yang sudah terlalu lama menunggu😛 .

Cerita yang lain, kali ini pada keberangkatan ke Kepulauan Derawan, dimana saat berangkat peserta Sahabat Museum (Batmus) dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menaiki kapal tipe speedboat Presidium Express (disingkat PE) yang memiliki fasilitas AC dan toilet, sedangkan kelompok kedua menaiki kapal speedboat “biasa” yang terbuka dan tidak ada AC dan toilet. Para manula kebanyakan ditempatkan di kapal PE sedangkan para pemuda-pemudi ditempatkan di kapal biasa. Nah karena saya termasuk tipe pemuda bukan manula😛 maka saya ditempatkan ke kapal biasa.

Setelah bagasi-bagasi diangkut seluruhnya di kapal PE, saatnya kelompok kedua akan menaiki kapal biasa, itu berarti saya bersiap-siap menaiki kapal itu. Karena saya kelamaan dalam bersiap-siap, saya jadi termasuk peserta yang belakangan di antrian menaiki kapal kedua itu, setelah antrian selesai saya justru tidak dapat kebagian kapal tersebut karena seluruh kursi yang ada sudah diisi oleh para pemuda-pemudi Batmus (dengan kata lain penuh!!). Akhirnya saya malah menaiki kapal ekspress PE haha lumayan dapat AC dan toilet, lah ini karena situasi dan kondisi sehingga saya terpaksa naik PE (padahal dalam hati mengatakan “Yess”)😀 .

Setelah para peserta manula dan panitia (plus saya) menaiki kapal PE, saatnya kapal berangkat menuju ke Kepulauan Derawan. Mulailah imajinasi saya mengenai Derawan berbayang-bayang sambil ditiup angin sepoi-sepoi angin laut (loh bukan AC? Well, saya dapatnya duduk di paling belakang yang tidak terkena AC…. sama aja kayaknya dengan naik kapal terbuka yah hahaha…). Tiba-tiba kapal terhenti… persis kira-kira 5 menit perjalanan.. loh kok cuman sebentar yah? Apa yang terjadi? Ternyata… kapal PE mogok!!!

Saat mogok, hanya bisa terbengong-bengong mau apalagi, masak mo berenang ke Kepulauan Derawan… kesananya butuh sekitar 4 jam perjalanan naik speedboat, gak kebayang kalau berenang ke sana butuh satu bulan mungkin, itupun kalau berhasil hidup -_-“. Alhamdulillah ada yang membawa koran Radar Tarakan setidaknya saya bisa membunuh kebengongan dengan membaca koran. Yang menarik ternyata ada artikel tentang perjalanan Batmus ke Tarakan dengan berjudul “Kelola Dong Dengan Lebih Baik…!!”.

Kelola Dong Lebih Baik...!!

Kelola Dong Lebih Baik...!!

Lumayan, ane masuk koran walaupun cuman tas dan sebagian badan aja. Heheee alhamdulillah lagi-lagi masuk koraaan ^^” . Selagi bengong menunggu bantuan, ane baca tuntas artikelnya. Mengenai isi artikelnya akan panjang kalau diceritakan disini (ada foto-fotonya kok), intinya didalamnya ada dukungan Batmus dengan situs-situs sejarah PDII di Tarakan, walau ada kritikan di judulnya itu sebenernya adalah pengingat buat yang berwenang dan masyarakat Tarakan agar mau dan mampu menjaga dan merawat situs-situs sejarah agar generasi penerus kita bisa melihat sisa-sisa bukti sejarah PDII yang terjadi.

Setelah selesai membaca artikelnya, alhamdulillah kapal bantuan telah datang😀 jadilah kapal diperbaiki dan berangkat. Oiya, karena posisi duduk saya persis didepan toilet jadi klo ada yang mau pakai toilet kapal, pasti saya ditanyain ada orangnya gak. Sampai-sampai ada yang bilang klo saya itu jadi penunggu toilet, kayak di toilet-toilet pada umumnya hahaha…

Saat mau balik ke Pulau Tarakan dari Pulau Derawan dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kali ini ane naik kapal yang sebenarnya, karena ane pemuda jadilah saya naik kapal yang non AC. Tidak apa-apalah sekali-kali saya ingin merasakan suasana yang berbeda dari kapal PE apalagi kapal itu pernah mogok. Sempat ada tawaran dari panitia agar pindah kapal ke kapal PE karena disana masih banyak yang lowong. Beberapa dari penumpang kapal non-AC ada yang pindah ke kapal PE, sementara saya lebih memilih tetap di kapal non-AC karena ingin merasakan pengalaman kapal non-AC itu.

Kemudian berangkatlah kapal kami menuju Pulau Tarakan untuk kembali. Suasana di kapal non-AC cukup meriah karena peserta satu sama lain membahas kegiatan yang menarik salah satunya membahas tentang penyelaman dan bertemu ikan pari dibawah laut. Lalu kemudian saya melihat awak kapal yang tampak gelisah sampai bolak-balik menemui kapten kapalnya. Saya curiga pasti ada apa-apa apalagi melihat semacam pasokan cairan yang terlihat menipis di sisi kapal yang sepertinya jeriken, mungkin itu bensin kapal.

Ternyata kecurigaan saya terbukti bahwa kapal kehabisan bensin. Jadilah kami terkantung-kantung tidak jelas di tengah-tengah laut dimana tidak ada kehidupan diatas laut, bahkan lumba-lumba pun tidak sudi menemui kami (sori lebay, emang tidak pernah ada lumba-lumba kok disini, kendati demikian kata orang-orang netizen kadang-kadang ada lumba-lumba lewat di sekitar pulau Derawan – Tarakan). Sudah berjalan kira-kira tiga jam perjalanan dari total 4 jam perjalanan, berarti kira-kira satu jam lagi sudah sampai ke Pulau Tarakan.

Senjakala saat terapung-apung

Senjakala saat terapung-apung

Selama 1,5 jam kapal terkantung-kantung, para peserta berupaya menghilangkan kejenuhan dengan bercakap-cakap dan bercanda, ada pula yang tidur dan bengong. Ada pula yang melihat-lihat sundown yang subhanallah sungguh indahnya. Mungkin salah satu hikmah terapung-apungnya kapal adalah untuk melihat keindahan ciptaan Allah yaitu sundown… Akhirnya kapal bantuan datang membawa pasokan jeriken bensin. Alhamdulillah. Sebagai jaga-jaga, mesin kapal yang totalnya ada empat hanya dioperasikan tiga mesin saja untuk menghemat bensin.

Kemudian para peserta kembali ceria setelah lama terkantung-kantung terombang-ambing tidak jelas di tengah-tengah laut. Saking cerianya, sampai ada salah satu peserta yang sok tahu bahwa jeriken bensin yang ada itu sedang mengisi stok bensin dalam kapal, padahal menurut pengamatanku ketiga mesin kapal menggunakan jeriken bensin itu langsung, tidak menggunakan stok bensin kapal. Kemudian ada peserta yang bertanya langsung kepada awak kapal apakah teori temanku itu benar, dijawab dengan gelengan kepala sambil tersenyum, hebohlah para peserta kepada teman yang sok tahu itu. Sedangkan ane cuman tertawa-tawa melihat polah temanku yang saat itu kelihatan lucu😀 .

Tinggal setengah jam lagi akan sampai di Pulau Tarakan, namun tanda-tanda kehabisan bensin sudah terlihat dari bayangan air bensin yang tinggal sedikit di jeriken. Akhirnya kembali terapung-apung tak jelas…. Namun kali ini pemandangannya sudah lebih baik, setidaknya ada kapal tanker diseberang jauh sana, ada keramba pula, intinya ada kehidupannya lah lebih baik daripada sesi pertama tadi. Tak lama kemudian datanglah kapal PE yang menyusuli kami. Kapal kami memang berangkat terlebih dahulu, apalagi dengan kecepatan turbo jet, namun apa daya kalah dengan kapal PE yang menyusuli kami.

Alih-alih meninggalkan kami, kapal PE justru membajak kapal kami selayaknya derek mobil jika didaratan. Efeknya kira-kira 15 menit kemudian kapal PE kehabisan bensin, sehingga kembali terkantung-kantung di laut, kali ini berdua dengan kapal PE😛 . Alhamdulillah datang kapal bantuan yang sama seperti kejadian pertama, kali ini membawa dua stok jeriken bensin. Alhamdulillah dengan bantuan terakhir itu, kapal PE dan kapal kami telah sampai dengan selamat di pelabuhan Tarakan…

Sundown saat terapung-apung untuk kedua kalinya

Sundown saat terapung-apung untuk kedua kalinya

Tak dinyana… naik kapal non-AC lebih parah daripada kapal PE… kehabisan bensin dua kali.. haha pengalaman yang seru dan tak akan terlupakan. Sekurang-kurangnya ane mengambil pelajaran hari itu bahwa mesin bertenaga maksimal kalau energinya cepat habis tentu tidak akan selesai menyelesaikan satu putaran, sedangkan mesin yang bertenaga biasa-biasa saja akan maksimal melakukan satu putaran karena berhasil menghemat energi.

Demikianlah cerita penutup PTD Tarakan-Derawan. Seru ternyata perjalanan kali itu, sudah mendapat teman-teman baru, energi positif pantai dan pengetahuan sejarah pun didapatkan… alhamdulillah. Sampai jumpa lagi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: