Tekhten Roo (Prolog)

Sebagai penjaga pintu antar dimensi, Rue merasa gelisah dan hampir-hampir tidak fokus dalam tugasnya. Dia telah mendapatkan pesan dari Raja Genesis bahwa dia akan mengunjungi lagi pintu antar dimensi untuk memasuki dunia Gaia. Namun kegelisahannya bukan karena kedatangan Raja Genesis tapi karena hal lainnya. Ya hal lainnya yang merupakan hal tabu bagi penjaga seperti dirinya.

Dia harus menyingkirkan hal itu demi keseimbangan dan kenetralan yang merupakan hal sakral bagi penjaga pintu antar dimensi. Jika tidak mampu maka posisinya akan terancam tidak hanya itu ruang pintu antar dimensi akan terjadi kekacauan sistem.

Semenjak hari dimana dia membuka pintu ke dunia Gaia untuk Raja Genesis dia telah bertemu dengannya. Seorang gadis penjual sayuran. Tampangnya mungkin tampak biasa bagi kebanyakan orang di dunianya namun bagi seorang penjaga antar dimensi yang tidak pernah melihat sesosok perempuan dalam kesehariannya terasa begitu istimewa di matanya.

Kehangatan di dalam dadanya. Itulah yang dia rasakan. Segala keteraturan manajemen sistem yang telah disusunnya menjadi berantakan, karena dia melamunkan berbagai kemungkinan untuk dapat bertemu gadis pujaan hatinya. Pelamunan itu hanyalah sia-sia belaka karena adanya peraturan dimana seorang penjaga pintu antar dimensi dilarang membuka pintu sebebas hatinya kalau dilanggar maka antar dunia akan menjadi ketahuan dan hukumannya adalah lebih dari sekedar hukuman mati.

Frustasi, dia mengambil kue dochglanssat, kue kering bulat tradisional oleh-oleh negeri Terra seiring dengan terkirimnya pesan dari Raja Genesis. Kemudian ditatapnya kue itu seraya menyebut donat. “Semestinya kue ini disebut donat agar mudah diucapkan. Semestinya beta tidak membuka pintu dunia Gaia agar tidak bertemu dengan gadis yang bahkan beta tidak tahu namanya. Demikian agar duniaku menjadi tenteram, dan berjalan sebagaimana seharusnya”. Begitulah yang dipikirkan Rue.

Tiba-tiba pintu dunia Deslen terlabrak terbuka. Lamunan Rue sontak buyar. “Astagajerapah!!”, umpatnya. Karena kelalaiannya, Rue tidak menyadari bahwa ada beberapa mahluk yang berusaha menerobos pintu antar dimensi dari dunia Deslen, dunia yang penuh dengan alam kematian dan terkutuk.

Panik namun berusaha mengontrol keadaan namun terlambat. Dengan ditodong ponsel, senjata yang mampu melumat habis sampai pada tingkat sel-sel. Rue dihantam tentara Deslen seraya berkata, “buka pintu duniaTerra!!”. Rue menolak. Dihantamnya lagi oleh tentara itu.

“Hentikan”.

“Iya herr Lymnos”.

Rue yang setengah sadar lamat-lamat melihat sosok yang disebut Lymnos tersebut. Tak terlalu jelas sosoknya. Namun dia berpikir bagaimana caranya mengontrol situasi. Sesaat dia akhirnya menyadari posisinya. Dalam batinnya dia tersenyum, karena dia jatuh tepat disebelah mesin kecil. Mesin penentu keberadaan pintu antar dimensi.

Maka dengan segenap kekuatannya, Rue menghancurkan mesin itu. Para tentara Deslen terkejut dan berupaya menghentikan Rue dengan menembakkan ponsel-ponselnya. Salah satu pijaran senjata itu mengenai tangan Rue. Seketika itu juga, tangannya hancur melebur seperti meleleh namun hilang tak berbekas.

Rue yang berteriak kesakitan sampai sebuah suara yang diyakini milik Lymnos, “Apa yang kau lakukan?! Mesin apa itu yang kau hancurkan?”. Sambil menahan kesakitan, Rue berkata lirih, “Terlambat… kau takkan pernah bisa memasuki dunia lain… Karena akan ada yang menghancurkan ini…”. “Apa?! Siapa yang akan menghancurkan ruang pintu-pintu ini?”. “…”. “Jawab!! Atau kau ingin kakimu menghilang?”. “Tunggulah… sebentar lagi… dia… akan tiba…”, jawab Rue tertatih-tatih menahan sakit di bagian kanannya.

Braak. Terdengar suara keras dari arah atas. Yang kemudian menggema ke seluruh ruangan. Lampu-lampu cahaya meredup menggelap. Barang-barang, mesin-mesin termasuk para tentara Deslen dan diri Rue melayang-layang perlahan-lahan seperti tertarik ke arah satu titik.

“Aa… appa ini.. kenapa tubuhku seperti tertarik sesuatu…!”. Satu titik hitam itu membesar kemudian keluar daripadanya sesosok mahluk hitam besar berpakaian jubah gelap. “Aa…aa… appa itu…..”, teriak ketakutan tentara Deslen yang melihatnya. Tampaknya tentara itu dalam posisi yang dekat dengan mahluk itu sehingga mampu melihatnya. Terdengar teriakan mengerikan.

Suasana sesaat menghening lalu menggelap dan horror pun terasa, pasukan Deslen berupaya lari menyelamatkan diri menuju ke pintu yang tadi didobraknya. Lymnos yang tak menerima kegagalan hendak melawan mahluk itu dengan menembakkan sinar-sinar dari ponselnya. Namun mahluk itu seperti tiada bergeming, tampaknya senjatanya tidak mempan!

Rue memanfaatkan situasi itu dengan membuka pintu. Pintu itu bertuliskan Tekhten Roo. Pintu yang selama bertahun-tahun tak dibuka karena sudah tak terpakai lagi sejak difungsikannya pintu antar dimensi. Setelah masuk, dia mengatakan semacam kode sandi, “Tekhten Roo… akutifa…”. Sekejap cahaya menyala diseluruh ruangan memanjang yang ada di dalamnya.

Celakanya, cahaya itu menarik perhatian Lymnos yang kelelahan menghadapi sesosok gelap mahluk itu. Dengan murka dia segera menuju ke arah cahaya itu sambil mengerahkan tenaganya karena dia sudah tertarik kuat menuju titik hitam yang tampak menelan mesin-mesin bahkan beberapa tentara Deslen pun ikut tertelan.

Selangkah lagi hendak memasuki pintu yang terbuka lebar itu tiba-tiba pintu di dalamnya tertutup. Ternyata ada pintu di dalamnya dan bergerak menjauh dari ruangan yang sebentar lagi habis dilumat lubang hitam.

“Sialan kauuu…. hei penjaga, terkutuklah kau demi negeriku akan kubalas ini…”, teriak Lymnos yang akhirnya tertarik juga bergabung dengan para tentara Deslen dan mesin-mesin yang terhisap ke dalam lubang hitam. Sementara sesosok mahluk hitam tampak mengarahkan jari kanannya ke arah pintu itu.

Rue yang terduduk lemah di kursi di ruangan lebar memanjang itu bergumam lirih, “Tekhten… Roo… pa…ladin… na… to…”. Seketika ruangan itu bergetar dan bergemuruh. Dari balik jendela, Rue melihat sesosok mahluk dibalik pintu itu yang kemudian pintunya tertarik ke dalamnya. Tekhten Roo bergerak meninggalkan jauh ruangan pintu antar dimensi itu yang pelan-pelan meremuk dan segala material atap dindingnya terhisap ke dalam lubang hitam itu. Rue akhirnya menutup matanya dan Tekhten Roo yang berbentuk seperti kereta… tidak… memang kereta api yang bergerbong delapan itu memasuki dimensi warp menuju entah ke dunia mana.

========================================================================================

Yuk gabung ke komunitas Kalfa (Kaldera Fantasi) di http://www.facebook.com/groups/kalfa/

[Ya]2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: