Antologi Puisi: Edisi Galau

Status

Apakah kita memerlukan sebuah status?
Mengapa manusia memerlukan status?
Apa yang dicari-cari dari status?
Padahal status tidaklah kekal?

Apakah kita hidup untuk sebuah status?
Mengapa hidup terasa sulit jika tak ada status?
Apakah status itu penting?
Adakah jaminan dengan status hidup bahagia selamanya?

————————————————————————————————————

Menunggu

Detik demi detik
Waktu terus berlalu
Melongok ke arah dimana dia mungkin datang
Tak terlihat keberadaan sosoknya

Gelisah bak rumput bergoyang
Waktu terus berlalu
Panas mentari mengejek diriku
Kaki gatal bergerak

Melanggar titik kesepakatan
Waktu terus berlalu
Tampak cahaya menyala dalam kegelapan
Dia tak datang

————————————————————————————————————

Lubang

Ada sesuatu yang berbeda
Di dalam lingkupan dada
Sesuatu yang hilang, membentuk lubang
Hari-hari tidaklah sama
Berjalan dengan hati yang berlubang

Seandainya tubuhku terbuat dari batu
Niscaya kutambal dengan adukan semen
Seandainya tubuhku merupakan mesin
Niscaya kuganti dengan yang baru

————————————————————————————————————

Segel

Benda itu tak terkendali
Mengamuk luar biasa
Mengacaukan tatanan keteraturan
Chaos telah menguasainya

Cosmos memberi kebijaksanaan
Air merendam api kemarahan
Tanah menghalangi gerakannya
Ditutup pintu kayu rapat-rapat

Rantai besi mengikat terkunci gembok
Ditempel kertas beraksara sansekerta
Dibekukan kilauan es dingin
Ruangan itu takkan lagi sama
Terlarang dimasuki

————————————————————————————————————

Kunci

Ada sebuah pintu putih
Tak terbuka dan bergeming bak batu
Kecewa tak dapat meneruskan perjalanan
Air mata berubah menjadi kristal

Kristal berkata, cari kunci
Maka kucari kunci
Walau tak ada petunjuk
Kutahu kunci ada di luar sana
Berdiam menunggu ditemukan

————————————————————————————————————

Bebas

Rantai mengunci kakiku
Tangan terikat tali
Kulihat bintang menyapaku
Bulan tersenyum dingin

Sepasang sayap patah
Api hangat berpendar
Liukan bayangan bergoyang
Tikus mencicit bersembunyi

Akankah aku terbang
Terbebas dari ikatan
Terlepas dari penjara
Berdiri merdeka bebas

————————————————————————————————————

Sarung Pedang

Pandangan matanya dingin
Nanar aura bergelora
Mulutnya tak berkata
Pedang yang berbicara

Semenjak sarung pedangnya hilang
Para lawannya tumbang bersimbah darah
Setiap langkahnya berkilauan sinar perak
Bahkan kerikilpun terbelah tanpa ampun

Menjejak tanah mempertanyakan hidup
Penipuan ketakadilan kekerasan merajalela
Pohon mati menebarkan takut
Dunia gelap pekat semesta

————————————————————————————————————

Dalam

Ku takut menulis untukmu
karna tajam penaku,
kan gores harimu dalam,

lembut tintaku,
kan sentuh hatimu dalam

baris kataku,
kan ganggu mimpimu dalam

dan bias maknanya,
kan buatmu tau, rinduku dalam

#Puisi “Dalam” ini milik dearKUR

6 Komentar (+add yours?)

  1. dearKUR
    Feb 26, 2012 @ 13:43:24

    punya saia juga galau, boleh sekalian dimasukin –v

    salam,

    Balas

  2. Diah Dzihrina
    Jul 11, 2012 @ 08:08:49

    hahha.. ada apa dengan si status? kenapa pula ditaruh yang paling atas? ;p

    Balas

    • Arkden
      Jul 11, 2012 @ 23:14:30

      Yaa itu cuman judul, dikelompokin aja puisi dengan tema itu biar seragam. Masing-masing puisi sih dah lama sebenernya, ga dibuat dalam satu malam loh😀 .

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: