Keraton Langit

“Kau yakin mau ke sana, Fei?”.

Sambil berpijak pada rantai raksasa yang mengikat pulau keraton di langit, aku mencoba memastikan bahwa rantainya cukup stabil untuk dipanjat.

“Hei Fei… jawab dong…”.

“Iyaa… kita kan sudah susah payah sampai di sini, masak datang cuman melihat-lihat doang”, sahutku dengan kesal.

“Tapi Fei… kau tahu legenda yang diceritakan kakek bah…”.

“Iya tahu-tahu, gw sudah hapal legenda itu. Katanya ada banyak hantu penghuni keraton gitu kan? Masa bodoh, yang penting gw harus bisa melihat isi keraton kosong itu. Ren, lo klo takut ga usah ikutan deh”.

“Fei… dengarkan dulu Fei…”

 

Hm… kelihatannya rantai berkarat ini cukup kuat untuk dinaiki, tinggal perlu menggunakan sarung tangan magnet maka aku bisa mencapai tanah keraton itu.

“Fei!!”.

“Ren, klo lo balik ke kampung jangan bilang-bilang kakek klo gw mo masuk ke keraton itu ya. Nanti gw foto-foto isi keratonnya jadi lo ga penasaran, oke ya Ren”.

 

Diam terdiam.

“Ren… mengertilah….”.

Akhirnya gadis itu mengangguk. Tampak di matanya berkilauan. Sepertinya air mata akan tumpah.

 

Ren, kuharap kaumengerti. Sudah merupakan impianku untuk bisa memasuki keraton langit itu, penasaran dengan cerita-cerita legenda Keraton Langit. Mengapa bisa kosong padahal keraton itu mempunyai teknologi dan sihir yang berkelas tinggi sehingga mampu terbang seperti itu. Mengapa pula keraton ini terikat dengan tanah bumi padahal bisa berjelajah mengelilingi dunia. Dan masih banyak pertanyaan yang kupikirkan. Sekarang saatnya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Saat ini dan sekarang inilah waktunya.

Sambil menghapus air matanya, gadis itu mulai berusaha untuk tersenyum. “Fei… hati-hati… berjanjilah kau harus kembali. Janji ya! Aku tunggu di kampung. Kau harus kembali!”.

Aku mengangguk dan melihatnya berlari kecil menuruni bukit. Reni teman kecilku. Aku tahu Reni sedikit menangis gara-gara kata-kataku tadi. Tapi mengertilah Reni, karena inilah waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku tentang Keraton Langit ini.

 

Sekarang waktunya untuk membuktikan kekuatan… hei dimana sarung tangan magnet itu? Kucari-cari dalam ransel kok ga ada ya? Jangan-jangan ketinggalan?? Aduh… eh tunggu dulu… Ada! Ada! Siplah sudah kubuat sarung tangan ini sejak seminggu lalu demi bisa memanjat rantai besi ini. Jangan sampai sia-sia usahaku itu. Semoga kuat. Semoga selamat.

Sambil menapakkan kaki, kutapakkan tangan. Uh hei ini bekerja! Magnetnya cukup kuat menahan tubuhku agar tidak jatuh. Dengan tombol on-off yang ada di pangkal telunjuk sarung tangan, hanya perlu jempol untuk menyentuhnya. Yup, jempol ini tidak mengandung magnet sehingga bisa fleksibel untuk bergerak.

 

Ukh… ketinggian memang menakutkan walau dibawahnya ada sungai Rein yang biru indah dan hutan Borneo yang hijau zamrud namun itu semua membuatku bergetar. Tidak boleh. Aku harus melihat keraton itu. Harus bisa mencapai keraton itu!

Akhirnya. Sedikit lagi sampai. Impianku akan menjadi kenyataan. Aku bisa melihat keraton dari dekat! Keraton Langit dalam legenda Ngatreb! Keraton yang katanya dibangun oleh bangsa Ngatreb dengan teknologi dan sihir yang dimilikinya. Dahulu mengelilingi dunia sampai kemudian diikat rantai-rantai ke bumi lalu tiba-tiba Keraton Langit kosong. Katanya penghuninya habis disapu wabah penyakit sehingga menjadi hantu yang bergentayangan di seluruh penjuru pulau terbang itu. Apakah legenda itu benar? Akan kubuktikan.

Akhirnya sampai! Kujejakkan kaki ke tanah Keraton Langit. Hahaha.. aku adalah orang pertama yang menjejakkan ke pulau keraton terbang! Hm… Keraton Langit ini berwarna biru, persis pas dilihat dari bawah sana. Hm.. klo dipegang temboknya sepertinya bahannya sejenis kaca khusus sehingga memantulkan warna biru langit. Kaca masih terlihat mengkilap padahal usianya sudah ratusan tahun. Teknologi bangsa Ngatreb memang hebat, sayang mereka musnah ditelan wabah… Mengapa bisa musnah padahal teknologinya tingkat tinggi tentunya teknologi kedokteran pun juga tinggi. Wabah apa yang bisa menyapu mereka ya?

Kulangkahkan kaki bergerak mencari pintu gerbang masuk. Seharusnya ada di sekitar sini. Sengaja memilih rantai ini daripada rantai-rantai lain agar bisa langsung memasuki Keraton Langit. Hm.. tampaknya aku salah perhitungan karena gerbang pintu yang kulihat dari bawah sana sebenarnya hanyalah reruntuhan gazebo keraton.

Rumputnya begitu tinggi dan tebal sehingga menyulitkan untuk berjejak. Dimanakah letak pintu masuk keraton itu ya…? Kuberjalan terus sehingga tersandung sesuatu. Apa itu ya? Aku coba memeriksa sesuatu yang membuatku tersandung. Berupa bebatuan persegi panjang berwarna hitam. Kelihatannya tidak asing, kulihat sekelilingnya.

Ternyata ada banyak bebatuan persegi panjang disekitarnya. Namun warnanya berbeda-beda, ada yang hitam, putih, adapula abu-abu. Jangan-jangan… aku memeriksa apakah ada gundukan di batuan persegi panjang yang membuatku tersandung… Tepat yang seperti kupikirkan. Ini adalah kompleks kuburan!!

Cepat-cepat aku bangun dan beranjak dari kompleks itu. Kuatir kalau hantu itu benar ada terus marah karena kuburannya diusik-usik. Kuberlari menuju tembok keraton. Lebih baik menyusuri tembok ini sampai ketemu pintu masuk. Sedikit lagi sampai tembok namun saya jatuh terperosok ke dalam suatu jurang yang tak terlihat karena tertutup rerumputan tinggi.

***

Duh.. aduh. Pantatku sakit. Ah… dimana aku? Begitu gelap tak ada cahaya yang masuk. Sepertinya aku jatuh di jurang yang sangat dalam. Eh tidak terlalu dalam sebab aku masih hidup. Duh iyung… senter.. senter… dimana kau. Kuperiksa ransel sembari berbisik senter… senter…

Terdengar suara seperti tepukan tangan lalu tiba-tiba cahaya muncul dimana-mana sehingga menerangi tempat dimana aku jatuh. Oh cahaya lilin. Tapi siapa yang menyalakannya? Hawa dingin mulai meyergapku. Keringat mulai berbulir, bulu kuduk berdiri. Reflek memundurkan badan sehingga menabrak sesuatu dibelakangku. A..ada sesuatu dibelakangku! Ingin menoleh namun leher terlalu tegang sehingga sulit menoleh.

“krs… SELAMAT DATANG krs KE KERATON krs…”.

“NAMA krs….”.

Suaranya keras membahana, seolah-olah hendak membangunkan para hantu dari kompleks kuburan tadi.

 

“Aa…. sii… si… siappaa…”, dengan susah payah saya mengucapkan kalimat. Mulut terasa kelu karena rasa takut yang akut. Sosok itu berpakaian besi berkemilau keoranyean. Bermuka helm berteralis lengkap dengan jambul di ujung helmnya. Tangannya menghunuskan pedang. Ke arah… aku.

 

“SELAMAT krs… DATANG KE KERATON krs…”.

“NAMA krs…”.

Se…selamat datang? Dengan mengacungkan pedangnya ke aku? Ap.. apa maksudnya ini??

 

“krs… NAMA krs…”.

“Iy.. iiyaa… nama gw”.

Belum sempat menyebutkan nama, ada api yang membakar mahluk itu. Apa yang terjadi?

 

“Feiii…!!!”.

Terdengar sayup sayup seseorang memanggil namaku. Suara itu. Logat itu. Tak salah lagi!

 

“Fei… jangan sebut namamu!!”.

Ingin kumemanggil namanya namun rasa takut masih menghinggapku. Lagipula pedangnya masih menghunus.

 

“This setsize 150, 150. This set attack true!!”.

Api membakar mahluk berbaju besi itu sekali lagi. Namun ukuran api membesar daripada sebelumnya.

 

“Feiiii… bergeraak.. jangan diam saja…”.

Terdengar suara engah-engahan. Suaranya sudah didekatku.

 

“Re.. Ren… gu… gue ga bisa ber… bergerakkk”, susah payah kuucapkan kata demi kata. Aduh kenapa aura ketakutan mesti menghinggapku di saat genting seperti ini!

 

“Public FeiWheel. This set size 300, 300. This set who Fei. This set where leg. This set vehicle fourwheel. This set move true!!”

Seiring kata-katanya, kakiku muncul dua roda di kedua kakiku. Apa ini, kenapa muncul roda-roda di kakiku? Eh… eh… keempat roda di kedua kakiku ini bergerak!

 

“Rr… reen… a… apa ini??!!”.

“Ayo bergerak Feii!!”, sahutnya sambil menggamit pundakku. Aku ikut bergerak dengan keempat roda di kakiku seiring berlarinya Reni ke arah yang tak kutahu ke mana. Merasa aneh dengan roda-roda yang ada di kedua kakiku ini. Apakah ini? Mengapa benda ini muncul di kakiku!!? Apa yang Reni lakukan padaku?

 

***

 

Setelah bersembunyi sekaligus menenangkan diri, aku akhirnya bisa menguasai diriku sendiri. Keraton Langit ini sudah lama tak dihuni bertahun-tahun. Terlihat dari bau debu. Adanya jaring-jaring tebal laba-laba. Serta tampak kotor.

 

“This set move false. FeiWheel false”.

Bulatan roda-roda di kakiku mencair dan melebur ke dalam kakiku. Tak meninggalkan bukti bahwa pernah ada roda-roda yang tumbuh di kakiku.

 

“Ren, apakah itu… mantera sihir?”.

“Hm… entah bagaimana menyebutnya… itu adalah bahasa kuno yang digunakan bangsa Ngatreb untuk mengendalikan lingkungan ini. Bahkan dunia”.

“Bahasa kuno? Maksudmu Ren…. bahasa… Java?”.

 

Reni mengangguk.

“Tapi bagaimana bisa…”.

“Sudah lama diajarkan oleh kakek”, potong Reni sambil tersenyum sinis. Sepertinya aku tahu arti senyumnya itu. Jangan lagi, Reni… jangan….

 

“Kau tahu mengapa hanya aku yang diajarkan?”. Ah…. mulailah keluar Reni sang sinister. “Itu karena kau tidak pernah mau belajar! Inilah akibatnya klo tidak serius belajar dan mendengarkan kakek!”.

 

“Habisnya bahasa itu sulit… lebih praktis klo…”.

“Sudahlah”, sergah Reni sambil membuka suatu buku, Eh buku itu… sepertinya familiar… itu kan jurnal punya kakek!

 

“Ren…”.

“Fei aku tahu apa yang kau tanyakan. Tentang kenapa aku berada di sini, kan? Itu karena ada pintu teleportasi di gudang rumah kakek. Nah teleportasi itu menuju ke keraton tua ini”.

 

Sebetulnya saya ingin menanyakan kenapa Reni ke sini. Dengan niat apa gadis kulit putih ini ke sini? Bukankah dia katanya tadi akan menunggu di kampung? Tapi demi melihat raut mukanya… lebih baik tidak berdebat.

 

“Fei. Jangan berdiam di situ saja. Bergerak. Menuju ke portal itu, menurut buku kakek ini seharusnya ada portal terdekat di kamar ini”.

“Eh… tapi tapi…”.

“Klo berdiam lama-lama di sini, mahluk itu akan melacak kita”.

 

Akhirnya aku ikuti saja apa maunya. Mungkin akan terjawab saat menuju ke portal telemorasi.. atau apalah itu. Setelah memastikan keadaan aman, Reni memegang tanganku seraya berkata, “Ohya saya lupa Fei. Kau pasti akan membutuhkan ini”.

Oh ternyata gadis biasa -yang ternyata tidak biasa!- memberikan aku sebuah pistol.

 

“Kau hanya perlu berkata FeiGun true. This setShoot true. Itu saja!”, katanya sambil berkacak pinggang.

 

“Hm… ah… eh ga hapal! Gw ada pistol mekanik di ransel”, sahutku canggung, tak terima pemberiannya dengan cara seperti itu.

“Klo gitu kenapa ga dikeluarkan Fei? Hm?”, ketus Reni sambil mengacuhkan kepala.

 

“Tadinya mo dikeluarkan tapi lo malah memegang tanganku jadi yaa gimana mau ambil?”, sahutku membuat alibi atas kealpaan mengeluarkan pistol dari ransel. Sial. Gara-gara ketakutan itu aku jadi lupa tentang pistol di ransel.

 

“Ohya Fei, satu hal lagi. Jangan pernah menyebutkan namamu sekali saja di sini. Atau mereka akan menguasaimu dengan bahasa Java-nya”, katanya sambil menatap mataku lekat-lekat. Matanya berbicara meminta persetujuan tanpa ditolak.

 

Tertegun. Gadis ini menjadi pribadi yang berbeda. Tak seperti Reni yang biasa. Iya ini Reni Radalfai yang keluarganya termasuk biasa tapi tatapan ini, tatapan yang tampak seperti srikandi dalam legenda. Eh? Srikandi? Kenapa aku meracau?

 

“Fei!”, lamunanku membuyar.

“I.. iya Ren. Ren, tadi lo sudah nyebut namaku di depan mahluk itu. Bukannya mahluk itu jadi tahu klo namaku adalah…”.

“Fei, jangan sebut namamu!”

“Ups…”.

“Sebab mahluk itu hanya bertanya kepadamu Fei, bukan padaku. Fokus mahluk itu hanya padamu”.

“Tapi… kenapa dia mengucapkan selamat datang? Padahal dia mengacungkan pedangnya ke hidungku? Apa itu gaya bangsa Ngatreb?”.

“Tidak tahu. Menurut kakek, ucapan selamat datang itu adalah trik mahluk itu agar kau mengucapkan nama. Itu adalah jebakan agar orang menyebutkan namanya sehingga mahluk itu menguasai dirinya.”

 

“Sudahlah Fei, jangan sekali-kali sebut namamu. Ayo berjalan melalui lukisan di aula tengah. Di balik lukisan itu ada portal tersembunyi. Lokasinya semestinya berada di atas tangga ini”.

 

Sambil menyusuri area remang-remang yang diterangi lilin, aku mencium udara. Udara tercium pengap. Area ini sempit, hanya bisa dilalui satu orang. Namun ketinggian area ini lumayan tinggi. Di ujung ketinggian bertengger lilin yang menari bergoyang-goyang. Entah ruang apakah ini. Ohya aku teringat sesuatu.

“Ren, tadi gw jatuh ke sini. Tempat ini sepertinya cukup dalam sebab melihat ketinggian area ini lumayan tinggi. Tapi kok gw bisa hidup?”.

 

“Itu karena sesampainya aku ke sini, sudah kurapal bahasa Java untuk melindungi dirimu. Agar kau tidak kenapa-kenapa”, sahutnya tanpa menoleh. Reni masih berjalan menyusuri area sempit ini.

“Bagaimana bisa?”.

“Karena aku menyebutkan namamu”, sahutnya ketus.

“Oh… itu sebabnya kau sebut namaku dalam bahasa Java itu”, sahutku sambil menunjuk-nujuk ke ketiadaan. “FeiWheel, FeiGun!”, ujarku senang setengah teriak.

 

“Stt… diamlah Fei!”, akhirnya Reni menoleh juga kepadaku. “Karena itulah jangan sekali-kali menyebutkan namamu atau kau akan dikuasai oleh mahluk-mahluk itu”.

“Lalu gimana lo bisa menemukan gw di bawah ini?”

“Huh, kau seharusnya tahu jawabannya Fei. Bahasa Java”.

“Oh… ya ya… jadi lo panggil namaku dalam bahasa Java ya”.

“….”.

“Kalau begitu kaukah yang menyalakan semua lilin-lilin ini?”.

“Tidak”.

“Hah? Lalu…”.

“Waktu aku tiba disini, lilinnya tiba-tiba menyala sendiri. Flop. Begitu saja. Lagipula aku tidak tahu nama lilin apa yang ada di sini. Sayangnya tidak ada keterangan lebih lanjut dari jurnal kakek ini. Hanya dikatakan bahwa sepertinya lilin ini hidup jika ada orang yang masuk”.

“Waah… bukankah itu hebat Ren!”, girangku ceria.

“Apa? Aduh… Fei… kita di Keraton Istana yang angker. Kenapa kau malah antusias? Kita dalam bahaya, Fei!”, sahutnya gusar. Alis matanya hampir bertemu di kedua sisi belahan alisnya.

 

“Justru itu, Keraton Istana ini harus dipulihkan kembali ke kejayaannya! Teknologi ini jangan sampai disia-siakan”, ujarku. Klo aku bisa menguasainya lalu bisa berpetualang mengelilingi dunia menggunakan Keraton Istana ini. Ha… ha… ha…

 

Duk. Rasa sakit menimpa kepalaku. Aku mengaduh kesakitan.

“Fei! Kita harus kembali, jangan sampai usahaku untuk ke sini menjadi sia-sia karena antusias sintingmu itu. Aku tahu kalau kamu senang dengan petualangan. Tapi mohon Fei, kembalilah dulu oke. Oke. Lupakan tentang menguasai istana ini atau apalah. Dan lagi sebentar lagi kita akan sampai di aula tengah”. Tercium udara yang agak lebih baik daripada bau udara pengap yang dibawah di sana.

 

“Ah udah mau sampai?”, aku merengut. Aku dipelototi. Padahal petualanganku baru saja akan dimulai. Tapi biarlah, mungkin sebaiknya mundur dahulu toh persiapan agak kurang. Pahlawan dalam sejarahnya selalu kalah dan mundur untuk kemudian menang. Ada portal teremoter atau apaan itu jadi bisa kembali lagi ke sini untuk menguasai Keraton Istana ini. Hehehe… okelah.

 

“Fei, itu lukisannya. Tadi aku keluar dari situ”.

Kulihat lukisan besar yang tertempel di aula. Lukisan yang menggambarkan sesosok seorang yang sedang berdiri. Sepertinya penguasa istana ini. Ada sobekan disana-sini. Bagian wajahnya tersobek sehingga muka persisnya seperti apa tak diketahui. Tangan kanan tokoh itu menunjuk ke bawah. Di bawahnya ada apa ya?

 

“Fei, lukisan ini hendak memberitahu sebuah lokasi rahasia. Aku rasa kau pasti tahu apa yang dimaksudkan Fei?”, ujarnya sambil melihat ekspresiku. “Tentu saja, pasti portal teremoler kan? Tempat untuk pelarian diri para penghuni Keraton Istana ini”.

“Ralat Fei, portal te-le-por-ter. Te-le-por-…”.

“Iya ya, teleporter!”, ujarku kesal dengan kejahilan Reni. Kutarik bagian lukisan yang diarahkan tangan itu.

“Hm.. loh? Ga bergeming?”.

 

“Hh… kau memang tak bisa diandalkan dalam hal ini Fei. PortraitOpen true!”. Seketika debu-debu yang menempel di lukisan itu seperti berterbangan lepas. Aku terbatuk mencium debu-debu itu.

 

“Nah sesaat lagi kita pulang Fei. Aku lelah dengan semua ini”, sahutnya membuka lukisan besar itu. Sambil batuk-batuk aku melihat sebaris tulisan dibawah lukisan yang tadi tak terbaca karena tertutup debu-debu. Debu-debu itu sendiri terhapuskan karena batukanku. Ini?

 

“Reni, lihat ini! Orang yang di lukisan ini bernama Feihong Long . Itu kan suatu nama suku Timur Jauh!”. Teriakanku menggema aula.

“Eh masa? Seharusnya nama dalam bahasa Java bukan seperti itu”, nongolnya dari balik lukisan. Dia pun ikut memperhatikan deretan tulisan di bawah lukisan itu.

“Jadi sebenarnya penguasa Keraton Istana ini adalah dari suku Timur Jauh! Jadi fakta ini akan….”.

 

Terdengar getaran gemuruh di seluruh aula tengah keraton itu. Gantungan lilin bergoyang-goyang. Di langit-langit bertaburan debu-debu dan kotoran.

 

“Apa… apa… yang terjadi padaku?”, tanganku terasa membatu. Seluruh tubuhku terasa kaku. Sulit digerakkan. Apa yang terjadi???

“Oh aduh Fei, kau menyebutkan namamu!!”, sahutnya terkejut seraya menyadari bahwa ada yang salah. “Kau menyebutkan namamu secara tidak langsung dengan membaca nama tokoh lukisan ini!!”.

 

“Tap..tapi… namaku buk..buk…an”, sahutku dengan susah payah. Lidahku rupanya tidak mau diajak kerja sama. Namaku bukan Feihong Long tapi Feinardo Larkisas!! Itu yang ingin kukatakan padanya.

“Fei! Cara kerja bahasa Java adalah mencari nama yang mirip! Biarpun namamu bukan itu tetapi karena ada sebutan Fei maka itu disematkan padamu. Karena kau yang menyebutkan namamu sendiri!”, isak Reni. Kepanikan melanda dirinya. Juga diriku.

 

“Kucoba batalkan…. Public FeiRecover. This set size 800, 1.000. This … aduh apa bahasanya ya!!!”, panik Reni yang telah dikuasai kekalutan.

“Ng… ng….”, lirihku sia-sia. Sudah tak ada suara yang dikeluarkan. Aku akan membatu gara-gara mahluk sinting itu! Cepatlah Reni! Kau benar, tempat ini berbahaya!

“This leg… this leg… eh.. this set leg… this set leg free… This… set mouth free… this…”.

 

Terdengar suara langkah berat. Suara kaleng besi. Dengan keremangan cahaya lilin yang bergoyang-goyang. Tampak mahluk berpakaian besi berwarna oranye. Bukan. Tepatnya warna hitam oranye. Bekas terbakar dari serangan Java-nya Reni. Dia berjalan sambil mengacungkan pedang pendek ke arahku, persis seperti pertemuan pertama.

 

“FEISTONE krs… TRUE krs… FEISTONE TRUE krs…”.

“Krs… FEISTONE TRUE krs… FEISTONE krs.. TRUE krs…”.

Mahluk itu mengucapkannya berulang-ulang. Mungkin untuk memperkuat mantra Javanya ke arahku. Tangan dan badanku sudah mengeras. Kakiku masih bisa kugerakkan. Mataku mulai merabun. Sudah tak ada harapan untukku. Reni…

 

Reni? Reni…? Reni harus selamat dari mahluk itu! Tapi bagaimana caranya?? Hanya kaki yang bisa kugerakkan. Dengan cara apa bisa menyelamatkan Reni? Tak tahulah. Kutendang-tendang Reni semampuku, kakiku ini sudah mulai mengeras.

 

“Fei, tenanglah…”. Dia melanjutkan, “this set body… this set body free. FeiRecover true!”, teriaknya. Sekujur tubuhku mulai melunak kembali. Tanganku mulai mengendurkan genggaman. “Java ini bekerja! Kualihkan perhatian mahluk itu. Selagi kau sempat, masuklah ke dalam lukisan itu ya. Fei. FeiRecover true!”, seraya mengacungkan tangannya ke helm berteralis itu sambil berseru, “This set attack true!”.

 

Reni menyerang mahluk besi berjambul itu dengan apinya. Kekuatan Reni memang bekerja. Namun tidak begitu kuat menahan serangan Java kaleng rombengan itu. Di bagian tangan dan badan memang melunak namun kembali mengeras. Sepertinya ada pertarungan kedua kekuatan di dalam tubuhku.

 

Entah mengapa aku merasa mual dengan pertentangan kedua kekuatan Java ini. Aku tak kuat lagi menanggung rasa ini. Kekuatan ini… entah mengapa terasa kenal. Bulir-bulir keringat muncul di sekujur tubuhku. Pengelihatanku menghilang. Sepertinya kekuatan Java jahat telah menguasaiku. Kegelapan menjangkiti duniaku.

 

Tapi apa ini? Mengapa aku pernah merasakan kegelapan ini di suatu tempat? Rasanya…

 

Familiar?

Siapa itu? Siapakah yang berbicara?

Aku yang baru menguasai dirimu.

Ah kau kekuatan jahat! Enyahlah dari diriku ini!

Hahaha aku disebut begitu ya?

Hentikan ini. Bebaskan aku!

Mengapa? Apakah kau lupa?

Lupa? Apa yang kau bicarakan?

Bahwa kau adalah bagian dari kami.

 

Ka… mi? Apa… maksudmu?

Kau dahulunya adalah bagian Keraton Istana ini.

A…apa? Itu…? Yang benar…?

Hm hm hm… ingatanmu terkunci ya. Baiklah kubuka ingatanmu!

 

Sesuatu bergerak di otakku. Setitik cahaya muncul. Seperti semua dunia kegelapan musnah disapu cahaya kecil itu. Pikiranku mulai blank. Muncul bayangan-bayangan yang tak kukenal di sekelilingku.

 

“Fei”.

“Ibu”.

Apa? Aku menyebutnya ibu?

 

Sekelilingku mulai terbentuk jelas. Segalanya penuh cahaya. Dinding berlapiskan putih gading. Gantungan lilin yang bergoyang-goyang. Kali ini tampak ceria, tidak terlihat suram. Lantai terlihat jelas. Kristal bening berwarna kebiruan. Sungguh tampak indah ruangan yang pernah kulihat.

 

“Fei, cepatlah pergi ke lukisan itu. Dan jangan sekali-kali menyebutkan namamu di istana ini”.

“Tapi ibu, aku tak ingin terpisah!”.

Orang ini… ya… dia…

 

“Fei pergilah, biar ibu yang akan menahan robot-robot itu. Kau harus selamat!”.

“Ibu… jangan pergi! Jangan…!”.

“Fei… maafkan ibu!”, sahutnya sambil mendorongnya ke dalam lukisan. “PortraitOpen false”.

“Jangan ibu, jangan tutup pintu ini! Ibuuu…..!!”, isak aku.

Iya itu aku… aku yang terpisah sejak beribu-ribu tahun yang lalu….

 

“Ibu… hiks..hiks… Ibuu….”.

Itu aku yang berusia 3 tahun pada saat itu. Karena tak ingin berpisah dengan ibu dan juga Keraton Langit ini maka saat itu aku mengucapkan….

 

“This myBodyStone true!”.

Aku yang waktu kecil hanya tahu kalimat itu. Entah dari mana.

 

Iya betul. Akhirnya kau ingat.

Kalau begitu. Keraton ini adalah milikku.

Hahaha betul hahaha….

Tak seharusnya aku pergi dari keraton ini.

Hahahaha….

Aku akan menetap di keraton ini bersama ibu.

 

Sayup-sayup kudengar….

Fei!! Jangan dengarkan dia!!

Reni….

Fei!!

Maafkan aku Reni… aku harus di sini…

Tidak Fei, jangan!!!

Ini adalah tempatku. Tempat dimana rumahku berada….

Hahahahah….

.

.

.

.

Fin?

——————————————————————————————————————————–

Tulisan ini merupakan karya saya untuk diikutkan ke Lomba CerBul KasFan (Feb ’12), lihat di username Arkden di post terakhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: