Berziarah ke Kerkhof Tanah Abang

[Kleng kleng kleng kleng]

Lonceng berbunyi, segerombolan orang berpakaian hitam-hitam berjalan menuju ke rumah terakhir. Kereta kuda bak kereta kerajaan berwarna hitam berjalan membawa jenazah ke gerbang makam. Gerbang pun membuka dirinya untuk pendatang baru itu. Terdengar tepuk-tepukan kaki kuda menyambut sambutan dingin itu.

Kereta Kematian

Kereta Kematian

[Kleng kleng kleng kleng]

Pertanda bahwa para penjaga kuburan harus bersiap-siap untuk menguburkan jenazah kedalam peristirahatan terakhirnya. Peti jenazah itupun dikeluarkan dari keretanya dan diantar menuju ke liang lahat yang sudah dipersiapkan untuknya. Doa-doa berkumandang, hikayat diceritakan, terdengar isak tangis tertahan maupun terluapkan. Akhirnya bunga-bunga pun menyambut peti jenazah untuk kemudian menutup-nutupnya. Selamanya.

—————————–

Itulah gambaran imajinasi saya yang bergelora saat memandangi taman yang penuh dengan patung-patung bisu yang memancarkan rona kesedihan, kemurungan, dan kemuraman. Sorot dingin dan aura menakutkan di balik nisan-nisan putih pualam yang bertebaran dimana-mana. Selamat datang ke Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober yang merupakan kebun makam tertua di dunia.

Anda akan disambut oleh trio angels yang telah lama menunggu Anda di depan pintu masuk pemakaman. Perkenalkan yang sebelah kiri, angel yang akan memohon kebaikan langit untuk Anda, yang kanan, angel yang akan mencatat segala perbuatan Anda selama hidup di dunia. Dan yang tengah, angel yang akan menyimpan dan membawa abumu. Mereka tidak bernama, namun memiliki tugas penting. Mengingatkan Anda akan dunia kematian.

Trio Angels

Trio Angels

Sebelum Anda memasuki gerbang utama pemakaman yang bahasa Belandanya disebut Kerkhof, Anda akan menjumpai nama-nama manusia yang telah berlalu. Di kiri kanan terdapat nisan-nisan dengan nama serta deskripsi lengkap dengan lambang keluarganya. Melihat rupa nisannya, tampaknya mereka bukanlah manusia yang sembarangan, mungkin merupakan manusia yang terpandang pada jamannya.

Setelah memasuki pemakaman yang berlokasi di Tanah Abang itu, maka akan dijumpai berbagai nisan-nisan lengkap dengan hiasan-hiasan khas Eropa. Ada patung-patung malaikat, pastor, wanita, anak kecil, harpa, bahkan miniatur gereja pun dapat Anda jumpai. Mari kita datangi sebagian makam yang terkenal.

Harpa Pengantar Kematian

Harpa Pengantar Kematian

Terlihat tengkorak coklat yang terpancang paku pada nisan. Begitu mengerikannya. Pernahkah Anda mendengar Kampung Pecah Kulit? Kampung yang berlokasi di Jalan Jayakarta ini dahulunya adalah tempat dilaksanakan hukuman mati yang paling kejam dalam catatan hitam sejarah Batavia.

Dialah Pieter Erberveld yang dituduh pemerintah Batavia memberontak terhadap pemerintahan yang sah. Masing-masing tangan dan kakinya diikat keempat ekor kuda, lalu kuda-kuda tersebut berlari ke empat arah yang berbeda. Pecah! Darah tertumpah! Sisa tubuh yang terkoyak dimakan anjing, tengkoraknya ditancapkan ke monumen yang kemudian diberi nama Monumen Pieter Erberveld.

Monumen Erbervield

Replika Monumen Pieter Erbervield

Monumen Pieter Erberveld didirikan pemerintah Batavia sebagai peringatan agar tiada lagi pemberontakan yang tercipta setelah kematian Pieter Erberveld dan sejak saat itulah kampung itu berganti nama menjadi Kampung Pecah Kulit. Namun lokasi monumen tersebut telah berubah wujud menjadi Showroom Toyota, monumennya sendiri sudah dipindahkan ke Museum Sejarah Jakarta. Yang ada di Museum Taman Prasasti ini adalah replikanya.

Nobody knows the troubles. I see nobody knows my sorrow“. Begitulah tercatat di nisan dengan patung malaikat yang syahdu di dekat sebuah pohon besar. Seorang aktivis dan mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah Universitas Indonesia dan juga penulis produktif dalam beberapa media massa seperti Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, dan Mahasiswa Indonesia. Salah satu karyanya telah terbit dalam buku berjudul Catatan Seorang Demonstran. Dialah Soe Hok Gie yang meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 tanggal 16 Desember 1969. Sosok Soe Hok Gie sempat dibuatkan layar lebar berjudul Gie yang dibintangi Nicholas Saputra pada tahun 2005.

Soe Hok Gie

Soe Hok Gie

Selain kedua makam tadi, adapula Miss Riboet (tokoh opera tahun 1930-an), Kapitan Jas, JHR. Kohler (tokoh militer perang Aceh), Dr. H.F. Roll (pendiri STOVIA, sekolah kedokteran), Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles, mantan Gubernur Hindia Belanda), dan banyak lagi. Bahkan terdapat nisan bertuliskan huruf Armenia dan Hebrew. Yang paling menarik terdapat simbol Freemason di salah satu nisan prasasti. Simbol berupa bintang bersegi enam dan ular menggigit ekornya (sering disebut Ouroboros). Melihat dari ukuran prasastinya bisa dipastikan bahwa orang tersebut adalah orang yang berpengaruh dalam Freemason.

Ouroboros dan Freemason

Ouroboros dan Freemason

Peneliti nisan VOC Batavia, Lilie Suratminto mengetahui sejarah masing-masing nisan yang ada di Museum Taman Prasasti. Sewaktu acara Plesiran Tempo Doeloe (PTD) yang digelar pada tanggal 27 Maret 2011 lalu, pak Lilie menerangkan simbol-simbol dan sejarah hidup pemilik nisannya satu persatu. Saking hapalnya, peserta PTD saat itu sampai berkurang sedikit demi sedikit hingga tersisa berjumlah hitungan jari dari semula puluhan. Mungkin karena mereka kelelahan mengikuti setiap makam yang ditelusuri.

Menariknya, dari nisan-nisan yang ada di Museum Taman Prasasti ini dapat mengungkap situasi sosial masyarakat Batavia pada zaman VOC, khususnya masyarakat kristiani. Hal itu dapat dilihat dari simbol ukiran yang ada pada nisan atau patung yang dipakai. Berikut saya kutip sebagian penjelasan simbol dari bukunya yang berjudul Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC Di Batavia.

Analisis Semiotik No. 34 Adriaan Oostwald

Analisis Semiotik No. 34 Adriaan Oostwald (Lilie Suratminto. halaman 73)

Menarik bukan? Untuk mengetahui lebih lanjut hasil penelitian Lilie Suratminto dapat dibaca pada buku tersebut. Didalamnya sudah dijelaskan sangat detail bahkan tidak hanya nisan-nisan di Museum Taman Prasasti, tetapi juga makam di Museum Wayang, Pulau Onrust, dan Gereja Sion.

Keadaan Museum Taman Prasasti sendiri cukup indah, berupa taman terbuka yang dihiasi patung-patung nisan. Jangan takut dengan kesan angker karena isi nisan semuanya sudah dipindahkan ke tempat lain, entah dibawa oleh ahli warisnya ke negeri asalnya atau di TPU terdekat. Sehingga tiada lagi hantu Casper bergentayangan. Tiada pula kisah pocong berlompatan kesana-kemari.

Kebun Taman Prasasti

Kebun Taman Prasasti

Karena berupa kebun terbuka, disarankan agar membawa payung sebagai persiapan hujan mendadak dan jangan lupa kulit sudah diolesi lotion antinyamuk. Cukup banyak nyamuk berkeliaran di sana, tangan saya sampai penuh bentol-bentol rasa gatal mengganas. Untuk pakaian direkomendasikan agar memakai celana panjang dan baju berlengan panjang sehingga peluang kontak dengan nyamuk berkurang sekaligus meminimalkan kulit menggelap bagi wanita yang ingin kulitnya secerah mentari pagi.

Selain itu pastikan untuk datang ke Museum Taman Prasasti dalam keadaan cuaca cerah, minimal setelah 2 hari tidak hujan. Pernah datang pada hari sebelumnya telah turun hujan, keadaan tanah begitu lembek dan becek sehingga dijamin sendal atau sepatu Anda begitu disenangi tanah merah yang cukup tebal. Memang sebagian besar jalanan berupa tanah segar bukan aspal kaku. Namun hal itu lebih baik daripada seluruhnya tertutup semen karena bagaimanapun juga ini adalah taman.

Seribu sayang berulangkali saya ucapkan karena beberapa nisan dan patung indah disematkan vandalis yang menggelorakan kekacauan dalam harmoni kecantikan. Entah apa yang di benak vandalis mencorat-coret kekayaan sejarah milik bangsa Indonesia ini yang jelas hal itu bersifat merusak sehingga dikhawatirkan anak cucu generasi mendatang tak dapat menyaksikan lagi. Seribu sayang saya ucapkan kembali.

Vandalisme Akut

Vandalisme Akut

Dalam berfoto-foto, selama bukan kepentingan komersial tidak dipungut biaya sama sekali. Lain halnya jika melakukan pemotretan prewedding, film, dan hal komersial lainnya dipungut biaya sesuai Perda No. 1 Tahun 2006 Tentang Retribusi Daerah yang bervariasi antara Rp. 1.000.000 sampai dengan Rp. 350.000 per hari.

Mengenai kendaraan menuju ke Museum Taman Prasasti, cukup mudah dilalui dengan menaiki Mikrolet M08 dari arah Kota. Katakan password ke sopir, “ke Walikota?”, jika setuju maka naiklah. Turun di dekat pintu masuk Walikota karena pintu masuk Museum Taman Prasasti persis di sebelahnya. Dari arah Tanah Abang pun dapat dilakukan di M08, hanya saja sedikit jalan kaki terlebih dahulu ke Museum Taman Prasasti, jaraknya tidak terlalu jauh.

Adapun alternatif lainnya, dapat menggunakan busway koridor 8 jurusan Lebak Bulus – Harmoni namun agak jauh sedikit dari halte. Lebih baik melihat postingan ini karena ada panduan menuju ke sana melalui busway. Selain itu, dapat pula naik kereta api listrik (KRL), turun di Stasiun Kota atau Stasiun Tanah Abang, dari situ naiklah Mikrolet M08. Alternatif lain naik bajaj, taksi, dan ojek. Tak perlulah saya jelaskan lebih detail mengenai kendaraan-kendaraan tersebut.

————————————————————-

Alamat
Jl. Tanah Abang I no.1
Jakarta Pusat
Telp. 021-3854060

Jam Kunjungan
Hari Selasa – Minggu pukul 09.00 – 15.00 WIB
Hari Senin dan hari libur nasional tutup

Tiket
Dewasa Rp 2.000
Mahasiswa Rp 1.000
Anak-anak/Pelajar Rp 600

Angel Mengupil

Angel Mengupil

————————————————————————————————————————————

Referensi:

1. Suratminto, Lilie. Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC Di Batavia. Wedatama Widya Sastra: 2008.

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie

3. http://sukrablog.blogspot.com/2009/02/catatan-kampung-pecah-kulit.html

4. http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Taman_Prasasti.

5. http://www.museumindonesia.com/museum/3/1/Museum_Taman_Prasasti_Jakarta_Pusat

6. Plesiran Tempo Doeloe: Kebon Prasasti Tertoea di Doenia. Sahabat Museum: 27 Maret 2011.

7. Foto-foto adalah milik saya, yang dikumpulkan dari bulan Juli 2010 dan Maret 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: