Djangan Melewati Waktoe Djam Malam (Seboeah Oelasan Film)

Film jang ditoekangi oleh Usmar Ismail ini diboeka dengan sepasang kaki jang sedang berdjalan-djalan. Hari itoe soedah malam. Kemoedian dia berhenti, menjorotkan senternja ke seboeah papan kajoe bertjat poetih. Berisi peringatan bahwa djam malam telah berlakoe di Bandoeng jang dimoelai poekoel 10:00 malam.

Kemoedian moentjoel tentara jang berkeliling. Laloe pemilik kedoea kaki itoe berlari menghindari tentara jang mengedjarnja. Achirnja Iskandar (Achmad Nuncik Alcaff), sang pemilik kedoea kaki itoe telah sampai di roemah toenangannja jang telah menoenggoe dengan tjemas. Norma (Netty Herawati), sang toenangannja, begitoe lega melihat Iskandar jang telah sampai dengan selamat.

Iklan Lewat Djam Malam di Kedaulatan Rakyat, 15 Agustus 1955

Iklan Lewat Djam Malam di Kedaulatan Rakyat, 15 Agustus 1955

Demikianlah adegan pemboeka film Lewat Djam Malam ini. Film ini dipoetar pertama kali pada tahoen 1955 sehingga tak heran djika filmnja berformat hitam poetih dan terkesan soeasana djaman doeloe disana-sini. Naskah tjerita jang ditoelis oleh Asrul Sani ini telah memenangkan hadiah dari Festival Film Indonesia I dalam kategori Film Terbaik pada tahoen 1955. Selain itu, pemeran oetamanya, A.N. Alcaff poen memenangkan penghargaan sebagai Pemain Pria Terbaik di adjang jang sama. Dhalia poen joega memenangkan kategori Pemain Wanita Terbaik berkat performanja di film ini.

Oleh karena itoelah, sangat lajak djika film ini achirnja direstorasi dan dipoetarkan kembali ke masyarakat Indonesia pada tanggal 21 Joeni 2012. Film ini dikatakan kritikoes film J.B. Kristanto adalah film terbaik Usmar Ismail dan djuga sebagai benchmark perfilman Indonesia sepandjang masa. Usmar Ismail adalah soetradara pertama perfilman Indonesia dan beliaoe djoega meroepakan orang jang idealis dalam memboeat film dan tiada terpengaroeh selera pasar dan prodoeser.

Lewat Djam Malam bertjerita tentang realita bekas pedjuang kemerdekaan pastjaperang dimana Iskandar bergaoel dengan kehidoepan sosial masjarakat Bandoeng. Kita akan diadjak oentoek melihat bagaimana nasib kawan-kawan seperdjoeangannja dalam kehidoepan sehari-harinja. Ada Gafar (Awaludin Djamin), temannja jang kini bekerdja sebagai pemborong, jang sedang mendirikan sekolah-sekolah inpres. Pudjo (Bambang Hermanto), anak buahnja jang mendjadi tjenteng rumah bordil, hobi main bola sodok dan joedi gaplek. Di roemah bordil inilah Iskandar bertemoe dengan Laila (Dhalia), pelacoer jang bermimpi memiliki barang-barang mewah dan memiliki masa laloe jang kelam.

Iskandar dan Pudjo

Iskandar dan Pudjo

Selain itoe, Iskandar bertemoe dengan komandannja, Gunawan, jang telah mendjadi orang kaja raja dan memimpin peroesahaan. Dari cerita Gafar diketahoei kebenaran jang sebenarnja tentang asal kekajaan Gunawan. Ternjata pada masa kekatjaoean perang, Gunawan memperalat Iskandar oentoek memboenoeh beberapa orang jang dianggap berbahaya. Hal inilah jang memboeat Iskandar merasa marah dan bertekad oentoek memberi hoekoeman kepada Gunawan.

Apakah hoekoeman itu telah dilakukan oleh Iskandar? Bagaimana nasib Iskandar setelahnja? Dapatkah Is (nama panggilan Iskandar) mendapatkan pekerdjaannja? Silahkan saksikan film Lewat Djam Malam di djaringan bioskop 21/XXI hanja di Plaza Senajan (Djakarta) dan Tjiwalk (Bandoeng) ataoe lewat djaringan Blitzmegaplex jang hanya dipoetar di Grand Indonesia (Djakarta), Teras Kota (Serpong), dan Paris van Java (Bandoeng).

—————————————————————————————————————————————

Setelah membaca resensi diatas, timbul keinginan saya untuk menonton film yang telah direstorasi oleh Konfiden, Kineforum, dan Sinematek di Italia dengan bantuan donasi National Museum of Singapore dan World Cinema Foundation. Bahkan usaha restorasi film ini dibantu oleh sutradara Martin Scorcese, hal itu menimbulkan kebanggaan diri saya terhadap film ini.

Sesudah memasuki bioskop di Plaza Senayan saya mendapati bahwa ada banyak penonton yang menonton film ini. Kembali rasa bangga terbetik dalam sanubari saya, ternyata masih ada banyak yang berminat untuk menonton film hitam putih ini. Mungkin mereka juga merasakan perasaan yang sama seperti saya, penasaran dengan film Indonesia yang dikatakan terbaik dan mengapa film ini direstorasi.

Setelah melewati iklan yang lumayan lama (tumben ada iklan komersial, lama pula, bahkan ada kampanye gubernur Jakarta lagi, padahal biasanya sebelum film dimulai diputar trailer film), akhirnya film dimulai juga. Sempat terasa cemas apakah suaranya bakal hidup atau hilang karena dari pengalaman menonton film lama biasanya hal itu sering terjadi. Alhamdulillah sampai detik terakhir hal yang ditakuti tak terjadi.

Namun justru malah terganggu dengan suara penonton yang tertawa-tawa sampai terbatuk-batuk. Kebetulan posisi duduknya persis di sebelah saya. Kalau saya lihat korelasi adegan dengan kejadian tawa-tawa itu benar-benar tiada sambung. Saat Laila yang merasa sedih dicueki Iskandar menyanyikan lagu sebagai penghiburan dirinya, orang yang disebelah saya tertawa lepas.

Kalaulah saat adegan pesta teman-teman Norma yang menyanyikan bagian lagu Rasa Sayange versi film ini dan lagu Potong Bebek Angsa, maka bisa diterima tawa-tawa terbahak karena memang lucu dan nuansa yang diberikan adegan itu adalah keceriaan. Tetapi saat kesedihan dan cerita yang mulai memuncak? Orang sebelah saya ini selalu tertawa-tawa entah bagaimana pun adegannya. Saat komandan Gunawan dalam kisah masa lalunya berkata, “Ini adalah misi rahasia”, dia tertawa sampai terbatuk-batuk. Saya tidak habis pikir, dimananya bagian tertawa melihat ekspresi Gunawan dan bawahannya yang serba serius.

Sampai akhir film, pemuda itu tepuk tangan. Namun buat saya entah mengapa sepertinya tepuk tangan sindiran yang berkata, “Oh, kayak begini film terbaik Indonesia, menyedihkan”. Gara-gara polahnya itu, saya tidak benar-benar bisa menikmati film ini sampai titik penghabisan. Teman saya sampai berkata sambil geleng-geleng, “Beginilah kalau tidak mempelajari sejarah, padahal dialognya benar-benar puitis. Lagipula film ini bukanlah film komedi”. Jelaslah, jangan menyamakan film jaman dulu dengan jaman sekarang.

Ironis memang, padahal Dhalia yang memerankan Laila memenangkan penghargaan FFI kategori Pemeran Wanita Terbaik. Sekilas lalu, Laila memang menarik perhatian dengan polahnya yang menggemaskan. Dia ditinggal suaminya pergi sehingga akhirnya hidupnya merana dan berakhir di rumah bordil. Karena itulah dia sering bernyanyi untuk menghibur dirinya. Selain itu dia memiliki hobi menggunting gambar-gambar dari majalah Amerika dan bermimpi dibelikan barang-barang sesuai gambar yang ada di majalah gaya hidup itu.

Iskandar yang diperankan oleh A.N Alcaff sangat kentara nuansa depresinya karena tiada kerjaan yang cocok untuk dirinya ditambah sejumlah kebenaran yang memukul Iskandar. Kegalauan yang ditampilkan dengan sangat baik oleh Alcaff ini pantas diganjar dengan penghargaan Pemeran Pria Terbaik. Ohya ada lagu Rasa Sayange yang diklaim milik Malaysia dan Potong Bebek Angsa yang dinyanyikan ramai-ramai dalam pesta Norma. Benar-benar memberi warna dan nuansa yang menyegarkan di film ini.

Terlepas dari polah penonton yang merusak suasana film ini, film ini benar-benar berkorelasi dengan keadaan Indonesia saat ini. Suasana di film itu sudah tenang walau situasi politik yang tak menentu sehingga diberlakukan jam malam. Sama persis dengan keadaan sekarang, suasana terlihat tenang namun sesungguhnya ada bom waktu yang belum meledak. Bom waktu itu ialah jurang antar kaya dan miskin yang semakin mendalam, kriminalitas yang semakin brutal. Bedanya hanya tidak ada jam malam.

Poster Lewat Djam Malam dari Blitzmegaplex

Poster Lewat Djam Malam dari Blitzmegaplex

Iskandar, seorang veteran perang yang sudah banyak membantu perjuangan berdirinya kemerdekaan Indonesia sulit diterima oleh masyarakat sosial. Malahan hendak diberi pekerjaan sebagai preman oleh bekas komandannya yang akhirnya menambah berang Iskandar dengan kehidupan itu. Persis seperti jaman sekarang, dimana nuansa sosial kemasyarakatan seperti autopilot. Masyarakat berusaha hidup dengan sejahtera dan kesehatan yang baik. Namun tiada panduan dan perlindungan dari pemerintah, malahan rakyat diperas dengan pungli, proyek pembangunan yang tidak serius, itu juga dikorupsi dananya sehingga tidak berkualitas bangunannya.

Oke sekian korelasinya, silahkan untuk direnungkan makna dan filosofis film Lewat Djam Malam ini. Sebagai penutup saya kutip kalimat terakhir dari film yang tidak ada kredit film di akhir film ini (kredit hanya ada di bagian pertama film ini).

Kepada mereka jang telah memberikan sebesar-besar pengorbanan njawa mereka, supaja kita jang hidup pada saat ini dapat menikmati segala kelezatan buah kemerdekaan. Kepada mereka jang tidak menuntut apapun buat diri mereka sendiri.

=======================================================================================

Referensi:

1. Menonton film Lewat Djam Malam di Plaza Senayan, Jakarta pada hari Senin tanggal 25 Juni 2012.

2. http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-l014-54-609457_lewat-djam-malam#.T-nVCDktgTN

3. http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/06/23/lewat-djam-malam/

4. http://hiburan.kompasiana.com/film/2012/06/25/review-lewat-djam-malam-malam-kelam-di-kota-bandung/

5. http://hot.detik.com/movie/read/2012/06/21/112656/1946980/218/film-lewat-djam-malam-manusia-indonesia-pasca-revolusi

6. http://id.wikipedia.org/wiki/Lewat_Djam_Malam

7. http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/06/setelah-direstorasi-lewat-djam-malam-siap-rilis-untuk-publik-indonesia

8. http://www.21cineplex.com/review/lewat-djam-malam-warisan-utama-usmar-ismail-untuk-indonesia,2718.htm

9. http://www.antaranews.com/berita/314160/3-lembaga-sukses-restorasi-film-lewat-djam-malam

2 Komentar (+add yours?)

  1. bagoesyasha
    Jun 27, 2012 @ 09:43:01

    haha itu yg sebelahnya kebiasaan nonton film horror komedi mungkin :p
    nice review😀

    Balas

    • Arkden
      Jun 27, 2012 @ 09:53:50

      Bisa jadi, memang film horor di Indonesia kebanyakan bermuatan komedi. Justru hal ini makin membuktikan bahwa film-film horor merendahkan perfilman Indonesia T_T

      Thanks Goes😀

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: