PTD: Bung Karno di Preanger

Hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012. Bangun jam 4:30 dini hari demi mempersiapkan diri menuju ke Parkir Timur Senayan. Ada apa gerangan? Ohlala, akan ada perjalanan ke Bandung dengan tema Bung Karno yang diadakan komunitas Sahabat Museum. Iya, berangkat harus pagi-pagi demi menghindari yang namanya macet di Bandung. Ada kabar juga klo sampai jam 6:30 tidak datang, bus ber-AC akan berangkat meninggalkan yang tidak datang tepat waktu.

Iklan PTD Bung Karno di Preanger

Iklan PTD Bung Karno di Preanger

Hal inilah yang sempat membuat was-was, kuatir karena tidak datang tepat waktu. Iya betul sudah bangun pagi-pagi dan hari itu hari Sabtu dimana orang Jakarta masih malas beranjak dari buaiannya. Tapi ini adalah Jakarta, kota yang tak bisa diprediksi dalam segi manapun. Mungkin terjadi macet karena ada pak presiden numpang lewat, ada demo, menonton kecelakaan, ada Komo numpang lewat tol, ataupun semacam itu.

Yah namanya juga saya manusia yang pernah berjuang dalam kemacetan lalulintas dan antrian busway Jakarta, wajar saja berpikir begitu. Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terjadi. Bus Batmus memang menunggu saya di Senayan, klo ga ada saya ga akan berangkat hehe sori lebay. Bus baru berangkat sekitar pukul 6:35 lewat sekian menit, ada isu bahwa ada beberapa peserta yang belum datang namun terpaksa ditinggalkan karena sudah melewati batas waktu psikologis “6:30”.

Karena perjalanan ke Bandung memakan waktu kurang lebih 4 jam maka Batmus menyuguhkan tontonan film jadul bertema Bung Karno. Yup via DVD. Lumayanlah biar ga manyun selama di bus. Sayangnya berbahasa Belanda. Maklum dokumenter tentang Indonesia dari sudut pandang Belanda ini adalah oleh-oleh Bang Adep dari Belanda. Ada sih teks berbahasa Inggris namun hanya jika ada percakapan bahasa Indonesia. Menariknya ada cuplikan adegan Bung Hatta yang berpidato dalam bahasa Indonesia di depan khalayak Belanda. Selain itu ane tidak dapat mencerna apa konteksnya jadilah cuman nonton pergerakan gambarnya saja. Sisanya tidur pulas hehehe.

Nonton di dalam bus

Nonton di dalam bus

Saat saya bangun, bus masih di tol. Kok belum sampai ya? Oh ternyata tidur cuman 3 jam, masih kurang 1 jam lagi untuk sampai. Tidur lagi lalu bangun lagi. Udah satu jam berlalu, masih juga belum sampai. Ternyata sudah terjebak macet, entah dari kapan. Mungkin ada si Komo beneran lewat ya. Entah ya. Saya tidur lagi hehe, maklum kurang tidur biar klo jalan-jalan ga kecapean. Klo saya lihat suasana, para peserta masih sibuk bercakap-cakap dengan teman-temannya, ada yang bercanda, ada yang sibuk Blackberry Messenger, ada pula yang menonton siaran DVD.

Akhirnya acara jalan-jalan banyak yang mundur jadwalnya. Bus baru masuk Bandung sekitar pukul 11:00 WIB. Sampai ke destinasi memakan satu jam, jadilah sekitar jam 12:00 WIB baru sampai di Penjara Sukamiskin. Untuk memasuki penjara ini ada beberapa aturan yang ditetapkan seperti harus memakai kaos berwarna hitam untuk pria, untuk wanita harus berpakaian rapi dan tidak menonjolkan keseksian dan berkesan wah, memakai tagname Batmus, dan tidak membawa benda elektronik termasuk kamera dan HP serta membawa KTP asli.

Lapas Sukamiskin

Lapas Sukamiskin

Karena tidak boleh bawa kamera maka tiada pula foto-foto dalam Penjara Sukamiskin. Foto hanya bisa dilakukan oleh satu orang namun menurut kabar terakhir foto-foto yang sudah terkumpul hilang entah bagaimana. Jadi maaf tiada foto Penjara Sukamiskin. Btw, jadi bertanya-tanya apa hubungan Penjara Sukamiskin ini dengan tema Bung Karno? Ternyata Penjara Sukamiskin ini dahulunya dipakai untuk ditempati tahanan politik utamanya intelektual pada era kolonialis Belanda salah satunya Bung Karno.

Penjara Sukamiskin ini mulai dibangun pada masa kekuasaan penjajahan Belanda. Tidak jelas kapan tepatnya dibangun penjara itu, menurut sumber ini dikatakan tahun 1817 sedangkan menurut situs lapasnya mengatakan tahun 1918. Terdapat perbedaan waktu yang sangat jauh. Saya belum menemukan nama awalnya (klo berdasarkan tahun 1817) namun pada masa pemenjaraan kaum intelektual sekitar tahun 1930-an, penjara ini bernama STRAFT GEVANGENIS VOOR INTELECTUELEN, kurang lebih artinya Penjara untuk Kaum Intelektual.

Lapas Sukamiskin dilihat dari Google Earth

Lapas Sukamiskin dilihat dari Google Earth

Desain penjara ini berbentuk unik, seperti kincir angin. Kalau melihat garis silangan panjang di tengah itu disebut blok. Blok dibagi empat bagian yang masing-masing dihuni tahanan berlantai dua. Lantai satu berisi sel yang sempit dan lantai dua berisi sel yang luasnya kira-kira dua sel lantai satu. Saya pernah baca entah dimana (lupa sumbernya) bahwa lantai satu itu diisi para maling, pencopet, dan perampok sedangkan lantai dua diisi para tahanan politik dalam hal ini kaum intelektual. Oleh karena itulah kondisi sel pada lantai satu agak sempit sementara lantai dua pada umumnya nyaman.

Kamar Bung Karno

Bekas Kamar Bung Karno

Bung Karno sendiri ditempatkan di Kamar Nomor 1 Blok Timur atas. Kondisi ruangannya terlihat nyaman, ada tempat tidur, lemari, keran, dan WC duduk. Bekas kamar ini sekarang dijadikan semacam memorability – tempat kenangan bahwa Bung Karno pernah menempati kamar ini. Ada bendera, spanduk penjelasan, dan buku-buku karyanya yang terkenal salah satunya “Indonesia Menggugat”. Di tempat inilah pledoi “Indonesia Menggugat” diselesaikan Bung Karno selama ditahan.

Setelah jalan-jalan mengelilingi penjara, akhirnya bisa menghirup udara bebas. Inilah kemerdekaan sejati, bebas dari penjara. Merdeka, merdeka sahutku dalam hati hehe. Lapas Suka (kata miskin sengaja dihilangkan oleh pengelola, mungkin biar ga selalu miskin abadi hehe) ini katanya ada Gayus Tambunan dan Ariel Peterpan namun sayangnya tidak bertemu mereka. Klo ketemu jadi bisa memeras Gayus dan minta tanda tangan Ariel hehehe. Ohya, ada peserta yang tidak datang tepat waktu datang ke Lapas Suka, rupanya mereka mengejar bus kami dengan datang langsung ke Bandung dengan naik mobil.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju ke rumah makan untuk makan siang setelah itu berangkat ke Makam Marhaen. Perjalanan diiringi oleh kerayapan mobil-mobil yang menyambut kami alias kena macet lagi. Bicara Marhaen, pasti kita mengenal istilah yang dipopulerkan Bung Karno yaitu Marhaenisme. Marhenisme adalah ideologi yang menentang penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Marhaenisme ini menjadi dasar pendirian Partai Nasionalis Indonesia (PNI) oleh Bung Karno.

Makam Marhaen

Makam Marhaen

Bung Karno bertemu dengan seorang petani yang sedang menggarap lahan pertanian di bilangan Bandung Selatan. Bung Karno menanyakan kepemilikan lahan dan hasil penggarapan tesebut, dijawab petani bahwa lahannya adalah miliknya sendiri namun penghasilannya tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sendiri. Geramlah Bung Karno saat mendengar jawaban petani miskin itu sehingga akhirnya membuat ideologi Marhaenisme. Siapakah nama petani miskin itu? Petani itu bernama Marhaen.

Kita sudah sering mendengar cerita tersebut yang seakan-akan sebuah legenda yang berkesan mengada-ada. Dengan berkunjung ke Makam Marhaen kita akhirnya tahu bahwa cerita itu benar-benar nyata adanya, bukan semacam mitos lagi. Semakin membuktikan bahwa pentingnya keberadaan benda sejarah untuk dipersembahkan kepada generasi mendatang bahwa sejarah itu ada bukan sekedar mitos.

Aktifitas depan Makam Marhaen

Aktifitas depan Makam Marhaen

Rombongan tampak antusias melihat-lihat makam Marhaen, ada yang berfoto-foto, berziarah, dan menyimak penjelasan pemandu Batmus pada PTD ini, Mbak Ere. Makam ini terawat dengan baik dan dijaga gerbang tertutup. Setelah mengunjungi Makam Marhaen, rombongan dibawa Batmus ke penjara yang lain. Penjara Banceuy.

Tenang, kali ini tak perlu melewati penjagaan ketat petugas sipir penjara seperti sebelumnya karena penjara ini “istimewa”. Penjara yang didirikan pemerintah Belanda ini sudah hampir tak tersisa kecuali sel penjara dan menara pengawas. Saat memasuki area bekas penjara ini tak terasa apapun yang menyiratkan keberadaan penjara. Setelah memasuki area yang tampak seperti lapangan upacara bendera di sekolahan yang diapit kedua pohon rimbun, barulah ditemukan Monumen Banceuy.

Rombongan Batmus dan Monumen Banceuy

Rombongan Batmus dan Monumen Banceuy

Sebulan lalu sebelum mengikuti PTD ini, saya berkesempatan ke Bandung bersama seorang teman. Pernah melewati jalan Asia-Afrika dan memasuki Museum Asia Afrika, sempat juga jalan-jalan di sekitar Monumen Banceuy yang lokasinya tak begitu jauh dari Museum Asia Afrika namun waktu itu tidak tahu bahwa ada penjara bersejarah di area ini. Barulah di PTD ini saya baru tahu ada satu lagi area bersejarah yaitu Monumen Banceuy. Sayang sekali kondisinya mengenaskan, hanya tersisa sepenggal sel bekas Bung Karno menginap di hotel prodeo.

Sel Bekas Bung Karno

Sel Bekas Bung Karno

Layaknya potongan kue tart, penjara yang tersisa hanya satu sel lengkap dengan atapnya. Itu juga dipindahkan dari lokasi aslinya ke tempat non-strategis, tersembunyi diantara kedua gedung besar terlindungi pohon yang rimbun. Dari sel Nomor 5 Blok F ini, Bung Karno pertama kali dipenjara pada tanggal 29 Desember 1929 setelah itu dipindahkan ke Penjara Sukamiskin. Dalam mengisi waktu-waktu selama di Penjara Banceuy, Bung Karno mulai menyusun pledoi “Indonesia Menggugat”. Ukuran penjara ini sangat sempit dan agak pengap, berbeda dengan Kamar Nomor 1 Blok Timur Penjara Sukamiskin.

Sel Nomor 5 Blok F, Penjara Banceuy

Sel Nomor 5 Blok F, Penjara Banceuy

Di dalam sel ini terdapat bendera merah putih yang cukup besar dan foto Bung Karno lengkap dengan tempat tidurnya. Selain sel, terdapat sebuah monumen batu yang tak saya ketahui artinya. Selain itu tak ada yang menarik dilihat selain keangkuhan kedua gedung besar yang tampak mengancam keberadaan sel bekas Bung Karno dibui.

Setelah mengelilingi Monumen Banceuy, rombongan Batmus diajak ke Rumah Bersejarah Inggit Garnasih yang berada di Jalan Ibu Inggit Garnasih. Sebenarnya jalan ini bernama Jalan Ciateul namun akhirnya diganti menjadi Jalan Ibu Inggit Garnasih sebagai penghargaan terhadap mantan istri pertama Bung Karno atas jasa-jasa besarnya dalam mendampingi Bung Karno selama masa pembentukan jalan kemerdekaan Indonesia.

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

Apa keistimewaan Rumah Bersejarah Inggit Garnasih ini? Rumah ini pernah menjadi tempat diskusi Bung Karno dan teman-teman seperjuangannya untuk mencapai Indonesia Merdeka. Dari rumah inilah keluar ide berdirinya PNI, Sumpah Pemuda, dan Partindo.

Sewaktu Bung Karno dipenjara baik di Banceuy dan Sukamiskin, Ibu Inggit berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga dan Bung Karno di penjara. Bahkan membantu Bung Karno dalam menyusun pledoi Indonesia Menggugat dengan memberikan materi-materi dan referensi secara diam-diam mengingat Bung Karno saat itu sedang di penjara.

Lampu Gantung, Foto Besar

Lampu Gantung, Foto Besar

Mengenai isi rumahnya berisi memorabilia Ibu Inggit dan keluarganya. Dari memorabilia yang dipamerkan tersebut kita dapat melihat berbagai kejadian dan ekspresi yang terjadi. Foto Bung Karno dan Ibu Inggit yang masih muda, bersama anak angkatnya, piagam penghargaan, surat nikah, pertemuan para pemuda untuk belajar politik bersama Bung Karno, dan lain-lainnya.

Hari sudah menunjukkan waktu Maghrib, rombongan Batmus bergerak ke tempat perjalanan terakhir yaitu Gedung Indonesia Menggugat. Awalnya gedung ini adalah rumah tinggal namun kemudian dipergunakan sebagai tempat mengadili yang bernama Landraad pada tahun 1917. Gedung ini pernah dijadikan tempat mengadili Bung Karno pada tanggal 18 Agustus 1930 sampai dengan 22 Desember 1930. Di gedung yang sama pula Bung Karno memaparkan pidato pembelaannya yang di kemudian hari dikenal dengan pledoi Indonesia Menggugat.

Gedung Indonesia Menggugat

Gedung Indonesia Menggugat

Apa yang menyebabkan Bung Karno ditahan dan diadili? Karena Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan penguasa kolonial Belanda merasa terancam dengan keberadaan PNI yang terus berkembang. Dengan menahan Bung Karno dan kawan-kawan seperjuangannya, pihak kolonial berharap dapat merendam aura perlawanan yang dirasakan kolonial.

Namun mereka salah, ruang pengadilan yang seharusnya mengadili Bung Karno dan kawan-kawan berubah jadi panggung pengadilan kekuasaan kolonialisme dan kapitalisme terhadap bangsa Indonesia pada saat Bung Karno membacakan pledoinya. Pada akhirnya Bung Karno dan kawan-kawan divonis bersalah oleh pengadilan Landraad Bandung.

Kursi Hakim

Kursi Hakim

Apa efek dari peristiwa itu? Munculnya harapan rakyat Indonesia akan masa depannya. Dari titik inilah benih-benih semangat pembentukan negara sendiri sudah semakin bertambah banyak yang pada akhirnya mengerucut menjadi satu kesimpulan terakhir: Indonesia merdeka. Itulah asal usul nama gedung yang semula bernama Landraad menjadi Gedung Indonesia Menggugat.

Apa yang ditawarkan pada gedung ini? Saat kami mendatangi gedung ini sudah tampak aura aktifitas para pemuda dan pemudi. Ternyata ada acara pemutaran film dokumenter bertema Bung Karno dan juga ada pergelaran seni dan bazaar. Namun saya tak sempat menjelajahi acara tersebut karena waktu dihabiskan untuk makan malam dan solat Maghrib. Setelah menunaikan solat, para peserta Batmus sudah berkumpul pada acara penutupan PTD Bung Karno. Well, setidaknya saya membeli buku Indonesia Menggugat seharga Rp. 45.000 dari bazaar itu. Lumayan buat oleh-oleh.

Akhirnya rombongan Batmus dibawa pulang ke Jakarta sekitar  jam 20:00 WIB. Sama seperti saat keberangkatan, disuguhi tontonan DVD. Kali ini bertema dokumentasi hasil rekaman dari MetroTV yang membahas Bung Karno. Alhamdulillah perjalanan lancar tiada macet sehingga sampai di Senayan sekitar jam 23:15 WIB. Demikianlah saya mendapat banyak pengetahuan sejarah khususnya mengenai Makam Marhaen dan Penjara Banceuy dan memunculkan rasa kebanggaan Indonesia serta semakin kagum saya kepada sosok Bung Hatta karena pernah membaca pidato berbahasa Indonesia di Belanda. He? Maaf yang terakhir itu ga nyambung dengan tema PTD ini hehehe.

================================================

Referensi:

1. http://www.informasi-bandung.com/2011/07/penjara-sukamiskin.html

2. http://lapassukamiskin.com/artikeltentangkami/07/2012/cat/4/5

3. http://www.indosiar.com/fokus/26441/lp-sukamiskin-sejarah-panjang-penjara-di-indonesia

4. http://syair79.wordpress.com/2009/04/16/sejarah-marhaenisme-bung-karno/

5. http://sardjana.multiply.com/journal/item/43?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

6. http://nasionalisrakyatmerdeka.wordpress.com/2011/03/06/penjara-banceuy-sel-tahanan-bung-karno-di-kota-kembang/

7. http://www.reportase.com/2011/08/soekarno-dan-penjara-banceuy/

8. http://infobandung.in/monumen-penjara-banceuy-%E2%80%93-situs-bersejarah-yg-seakan-terabaikan.dixx

9. Brosur Rumah Bersejarah Inggit Garnasih, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov Jawa Barat.

10. Lembaran “Sekilas Tentang Gedung”, Gedung Indonesia Menggugat.

11. http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/30/dari-landraad-hingga-indonesia-menggugat/

2 Komentar (+add yours?)

  1. Diah Dzihrina
    Agu 14, 2012 @ 10:28:05

    bro, kabar2i donk kalau ada acara ‘kupas tuntas’ tentang bung karno.. sungguh saya berminat,hahayy…

    Balas

    • Arkden
      Agu 17, 2012 @ 00:10:35

      Hahaa… kirain lo kagak minat ma acara ginian. Sayang komentarnya lama, soalnya dua minggu yang lalu ada acara Bung Karno yang berakhir nonton film di MBM bertema tentang proklamasi kemerdekaan loh heheee telat😛

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: