Musik Final Fantasy di Konser Distant Worlds

Banner Distant Worlds

Banner Distant Worlds

Konser Distant Worlds ini awalnya diadakan di Jepang pada tahun 2002 bernama Final Fantasy Concert sebagai perayaan ulang tahun Final Fantasy ke-20. Setelah itu diadakan di kota-kota besar Jepang sampai akhirnya pada tahun 2007 konser ini mulai mendunia dimulai dari Swedia, Amerika, Eropa, dan beberapa negara Asia secara berurutan dengan Arnie Roth sebagai konduktornya sekaligus Direktur Musiknya dan nama konsernya diganti menjadi Distant Worlds: Music from FINAL FANTASY sampai sekarang.

Arnie Roth

Arnie Roth

Siapakah Arnie Roth? Arnie Roth adalah direktur musik untuk beberapa penyanyi terkenal di dunia seperti Charlotte Church, Josh Groban, Diana Ross, Patrick Steward, dan banyak lagi. Pemenang Grammy Award ini juga sering memimpin orkestra (menjadi konduktor) seperti London Symphony, Royal Stockholm Philharmonic, dan Fransisco Philharmonic. Beliau juga dikenal di seluruh dunia dengan konser FINAL FANTASY dengan menjadi direktur musik sekaligus konduktor membawakan musik-musik karya Nobuo Uematsu.

Nobuo Uematsu

Nobuo Uematsu

Mendengar nama FINAL FANTASY pasti tak lepas dari bapaknya musik Final Fantasy, Nobuo Uematsu. Beliau membuat musik instrumental di game Final Fantasy mulai dari seri pertama sampai terbaru, Final Fantasy XIV. Hanya Final Fantasy XII dan Final Fantasy XIII tak dibuatkan aransemennya. Selain Nobuo, konser Distant Worlds juga membawakan karya Masashi Hamauzu yang mengaransemen musik di Final Fantasy XIII namun hanya sedikit jika dibandingkan dengan keseluruhan konser Distant World. Untuk mengetahui musik apa saja yang dibawakan dapat dilihat di situsnya.

Kemarin tanggal 16 November 2012 pada pukul 19:30 waktu Malaysia, saya dan teman saya, Bagus Wirahadi datang ke Dewan Filharmonik Petronas, Malaysia untuk menyaksikan pertunjukkan konser Distant Worlds. Sekedar info, Bagus Wirahadi adalah TS Final Fantasy Kaskus (TS kepanjangannya Thread Starter, merupakan istilah di Kaskus sebagai pemilik trit yang dibawakan) dan juga pendiri sekaligus admin Grup Facebook Final Fantasy Kaskus. Sehingga terasa wajar karena sama-sama penggemar game Final Fantasy, bedanya saya hanyalah fans biasa yang cuma sekedar menggemari game Final Fantasy sedangkan Bagus benar-benar penggemar Final Fantasy sejati dilihat dari koleksinya yang berisi action figure dan game-game Final Fantasy yang asli.

Tiket Konser

Tiket Konser

Saat datang ke tempat Dewan Filharmonik Petronas (sesuai namanya, berada di Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur City Centre), kami berdua menukarkan booking ticket dengan tiket konser. Konsernya sendiri dimulai pukul 20:30 waktu setempat sedangkan jarum jam menunjukkan angka 19:45 sehingga kami berkeliling di dalam Petronas, salah satunya foto-foto di area itu.

Setelah puas berkeliling, kami mulai masuk ke area konser. Di dalamnya ada makanan yang sayangnya harus membeli. Selain itu kami mendapati antrian mendapatkan merchandise Distant Worlds. Awalnya kami mengira akan diberikan gratis oleh pihak Dewan Filharmonik Petronas, ternyata harus membelinya. Daripada sia-sia antri ga jadi beli, kami putuskan untuk membelinya.

Merchandise yang dijual meliputi kaos, CD Audio, DVD film, dan booklet. Karena keterbatasan uang yang dibawa, saya hanya membeli CD Audio Distant World II, sedangkan Bagus membeli booklet dan CD Audio Distant World I. Sekedar info, harga CD Audio Distant World I atau II dijual RM 40, booklet dijual RM 30, DVD dijual RM 70. Gara-gara pembelian inilah, kami sampai nyaris tak bisa makan malam dan pulang ke hotel tempat kami menginap yang berlokasi di Bukit Bintang karena duit yang dibawa benar-benar menjadi tipis (tersisa sekitar RM 5).

Setelah menitipkan tas kami, jarum jam bergerak mendekati jam 20:15, kami mulai masuk ke area Stall dengan nomor kursi E 25 dan E 26 yang ternyata lokasinya sangat dekat dengan para pemain orkestra (persisnya di depan para pemain biola kiri). Tak salah memilih lokasi kursi ini selain harga tiket yang murah untuk ukuran internasional (RM 122, sekitar Rp. 400.000-an).

Karena rasa antusias, saya sempat mencoba memoto didalamnya akibatnya kena teguran seorang petugas wanita, “No photography!!”. Lucunya, Bagus malah berhasil memoto tanpa kena teguran dari petugas itu… Berhubung dalam area ini tak diperbolehkan foto dan perekaman video, jadi pada tulisan ini saya beri tautan youtube untuk menggambarkan suasananya, kalau ada.

Suasana Konser Distant Worlds

Suasana Konser Distant Worlds, milik Bagus Wirahadi

Kemudian datanglah beberapa personel orkestra satu persatu. Ada yang mencoba instrumen musik yang dipakai. Ada pula yang langsung memainkan musik pribadi, sepertinya ingin mempersembahkan lagu khusus para penonton yang hadir. Begitu syahdu. Semua berpakaian serba hitam, laki-laki memakai tuksedo berdasi kupu-kupu putih sedangkan perempuan ada yang memakai blazer atau gaun.

Tiba-tiba violinis perempuan yang duduk dekat mimbar konduktor berdiri memberi aba-aba ke seluruh tim orkestra. Kemudian duduk menggesekkan nada lagu pada biolanya, yang lain pun turut menyanyikan nada sesuai alat musiknya masing-masing selama sekitar 1 – 2 detik, setelah itu keluarlah Arnie Roth dari sisi kiri panggung. Tepuk tangan mengiri perjalanannya ke mimbar konduktor.

Pertunjukkan konser orkestra pun dimulai! Musik pembuka berjudul Prelude. Sesuai namanya, lagu ini adalah pembuka khas game Final Fantasy secara umumnya. Dimulai dari petikan harpa yang syahdu dan tenang dipadu dengan alunan biola puncaknya suara pipa panjang yang menggetarkan dilalui terompet penyambutan lembut. Di atas panggung ada layar besar yang muncul logo Distant  Worlds berupa sayap putih yang mirip dengan logo khas Final Fantasy VIII dimana di punggung Rinoa terdapat simbol sayap itu, hanya saja terbalik yaitu sayapnya mengarah ke bawah sementara logo Distant Worlds mengarah ke atas.

Musik Prelude ini seolah-olah membawa para pendengarnya ke dalam dunia fantasi yang nuansanya berbeda dengan di dunia ini. Bertemu kebudayaan yang tak pernah kita jumpai. Dunia yang asing, sama sekali berbeda. Benar-benar lagu yang pantas dijadikan lagu pembuka. Sayangnya lagu ini tidak ada di Final Fantasy XII dan Final Fantasy XIII, lagu Preludenya sudah berbeda.

Musik kedua, Liberi Fatali, merupakan opening lagu Final Fantasy VIII (FF VIII). Perpaduan suara choir (paduan suara) dengan biola dan bass yang menghentak serta dentuman drum. Mendengar lagu ini terasa nuansa militer dan pertarungan didalamnya. Hal ini terlihat dari teriakan choir sahut bersahutan dan gesekan biola yang cepat. Kecepatan tempo nadanya kira-kira setingkat allegro.

Seiring bergulirnya musik, terlihat opening FMV FF VIII yang terkenal (setidaknya buat saya karena saya penggemar beratnya FF VIII). Selain itu terdapat cuplikan adegan yang seru seperti lepasnya gerbong kereta, festival Deling City dan pertemuan Edea yang fenomenal. Liberi Fatali ini sebenarnya merupakan intisari dari game FF VIII.

Bagi yang sudah pernah main FF VIII, melihat performa konser ini terasa nostalgia dan terasa ingin memainkan kembali gamenya. Menurut saya lagu terbaik pada konser Distant Worlds di Malaysia adalah lagu Liberi Fatali ini, performa konduktor begitu luar biasa dan terasa semangatnya mengarahkan tim orkestra.

Berikutnya lagu Victory Theme, hanya sebentar dimainkan, delapan detik saja. Lagu ini diputarkan pada setiap kemenangan dalam random battle ataupun melawan boss battle dalam semua seri Final Fantasy, kecuali Final Fantasy XIII. Sekedar info, Victory Theme ini sempat muncul dalam film Final Fantasy VII: Advent Children menjadi ringtone HP salah satu musuhnya.

Setelah Victory Theme, dialunkanlah musik Final Fantasy Medley 2010. Musik ini menggambarkan Final Fantasy I sampai dengan III, hal itu dapat terlihat dari cuplikan adegan FF I – FF III pada layar. Benar-benar klasik, battle, magic, worldmap, airship, sampai chocobo pun muncul tak lupa sekilas opening masing-masing Final Fantasy serta guratan desain klasik khas Yoshitaka Amano, sesuai dengan nuansa musik ini. Didominasi gesekan biola yang syahdu, konduktor mengayunkan tongkat dirigennya dengan santai namun tegas. Sebetulnya musik ini buat saya sangat familiar di Final Fantasy III yang belum lama ini dimainkan.

Setelah terhanyut dalam kenangan klasik Final Fantasy, selanjutnya kita dibawa ke dunia yang sama sekali baru dengan iringan musik To Zanarkand. Mari kita menuju dunia yang sudah seribu tahun lamanya hancur di Final Fantasy X ini. Kita dibawa dalam kenangan perjalanan Yuna dan Tidus di Final Fantasy X dalam menghadapi pergelutan dunia melawan Sin, sosok enigma pembawa kehancuran. Musiknya sangat Final Fantasy X. Tidak mengerti? Mainkanlah gamenya, nanti mengerti.

Setelah terpukau dengan kehancuran dan kehidupan dalam To Zanarkand, Arnie Roth rehat sejenak dengan berbicara kepada para penonton. Mengatakan apa kabar dan mengucapkan terima kasih. Beliau juga memperkenalkan penyanyi cantik dari Malaysia, Stephanie Van Driessen untuk menyanyikan musik berikut.

(berhubung tidak ada tautan Distant Worlds Malaysia, anggap saja penyanyi Susan Calloway di atas sebagai Stephanie).

Musik Final Fantasy XI berjudul Memoro de la Stono – Distant Worlds. Cuplikan menampilkan adegan FMV utuh mengenai dunia FF XI, beberapa ada karakter in-game yang sedang memainkan instrumen musik. Menampilkan penyanyi Malaysia yang cantik bernama Stephanie Van Driessen, diiringi choir. Suara Stephanie begitu jernih dan seperti memiliki jiwa. Saya sendiri tak memainkan gamenya karena bersifat online dan berbayar bulanan jadi kurang menangkap inti musik ini walau demikian saya tetap menikmati nyanyian Stephanie yang cantik performanya.

Satu lagi persembahan Distant Worlds Malaysia untuk fans Final Fantasy VIII, musik The Man with the Machine Gun yang diaransemen ulang menjadi berbeda. Alunan musik yang aslinya ada dentuman drum diganti dengan alunan biola dan terompet yang kental. Terasa cita rasa orkestranya. Musik ini aslinya di game sebagai battle theme khusus Laguna Loire dan timnya. Dalam cuplikan layarnya sendiri banyak menampilkan tokoh Laguna Loire bersama teman-temannya, penembakan rudal ber-AI ke seluruh Garden di dunia, dan peperangan Balamb Garden versus Galbadia Garden.

Setelah tayangan peperangan epik itu, mengalunlah musik yang mendayu-dayu. Musik cinta dari Final Fantasy IV, Theme of Love. Ini adalah game Final Fantasy yang lebih kuat dalam hal cerita cinta daripada FF lainnya. Uniknya dalam cuplikan adegan yang dipakai adalah veri NDS, sebagai informasi sekarang sudah ada versi PSP yang grafiknya lebih bagus lagi namun bercitarasa klasik (tidak berformat 3D, tak seperti versi NDS). Musik yang dipergunakan mayoritas alunan biola, terompet, dan bass. Ayunan biola terlihat serempak dan lembut, begitu juga bass, semua tampak indah dalam bayang-bayang harmoni musik.

Setelah hampir terbuai dalam alunan harmoni khusus para pecinta saatnya lagu dipersembahkan untuk para jomblo yang sedang sendirian dan fans Final Fantasy IX. You’re Not Alone. Mendengar lagu ini serta menonton layarnya membuat terkenang dengan sepanjang permainan FF IX. Ada kisah sedih, trauma, dan kekalahan. Walau demikian selalu ada teman-teman yang akan selalu mendukung apapun yang terjadi untuk maju ke depan. Muncul adegan terepik dalam sejarah Final Fantasy, pertarungan antar Eidolon Alexander dengan Bahamut yang memukau seluruh dunia. Benar-benar membangkitkan kenangan manis bersama FF IX…

Setelah mendengarkan musik yang cenderung mengantuk, saatnya bangkitkan semangat dengan mendengarkan performa Chocobo Medley 2010. Melihat lucunya Chocobo berjalan di dunia FF Classic, Cloud FF VII dan Squall FF VIII menunggang Chocobo di world map, para chocobo di parade penobatan kerajaan Dalmasca Final Fantasy XII, teman-teman Ingus di FFIII ramai-ramai menaiki Chocobo, dan banyak lagi dari semua Final Fantasy.

Musiknya terkesan kekanak-kanakan, ceria, dan semangat. Istilah medley berarti lagu ini adalah perpaduan dari dua lagu Chocobo, pertama lupa judulnya apa, yang jelas lagu keduanya berjudul Swing de Chocobo. Perpaduannya terasa halus sehingga terkesan satu padu. Setelah musik ini berakhir saya bertepuk tangan keras-keras, benar-benar terkesan dengan semangat sang konduktor dalam memimpin orkestra.

Setelah itu pertunjukkan istirahat selama 20 menit. Semua tim orkestra meninggalkan panggung setelah Arnie Roth pergi. Para penonton pun ada juga yang keluar entah ke tandas (bahasa Malaysia untuk toilet), ngobrol-ngobrol atau makan cemilan. Saya dan Bagus tetap di tempat duduk mengobrol kesan-kesan tentang acara babak pertama ini.

Setelah beberapa menit kemudian, tim orkestra kembali memasuki panggung dan melakukan pengetesan seperti waktu pertama kali datang. Memainkan nada musik pribadi yang riang, ada pula yang berbincang-bincang membahas partitur musik yang akan dimainkan. Seperti tadi pula, ketua orkestra berdiri memberi aba-aba lalu memainkan nada panggilan untuk konduktor. Arnie Roth kembali masuk ke panggung. Sebelum dia memulai dia memperbaiki terlebih dahulu kursi untuk gitaris, betapa perhatiannya dia. Gitarisnya sendiri belum ada, nanti akan datang.

Sebagai pembuka babak kedua pertunjukkan, Opening Bombing Mission dari Final Fantasy VII dipilih. Disebut demikian karena pada gamenya lagu itu jadi opening, setelah itu disambung dengan lagu Bombing Mission sehingga sudah menjadi satu paket. Untuk layar menampilkan opening Final Fantasy VII seperti seharusnya dengan ditambahkan beberapa adegan random battle.

Musiknya sendiri sudah diaransemen ulang sehingga bergaya orkestra. Sebetulnya musik aslinya masih terasa seperti nada 8 bit namun sudah di tingkat advance, hal ini bisa dimaklumi karena inilah FF yang pertama kalinya muncul dalam bentuk 3D. FF VII menjadi FF termanis dalam sejarah Squaresoft (sebelum merger dengan Enix menjadi Square Enix) karena FF ini menjadi meledak di pasaran AS. Bahkan sempat menjadi sapi perahan Square Enix yang terus menerus menelurkan kompilasi FF VII baik sekuel maupun prekuel berikut spin off-nya.

Musik yang dibawakan Distant Worlds ini seperti membawa Opening Bombing Mission ke level tertinggi karena menjadi kaya instrumen musik yang bervariasi, ditambah gaya kepimpinan Arnie yang sangat menarik, ceria namun serius. Sementara yang lain kompak mengikuti perintahnya. Walau sesekali melihat partiturnya tetap saja mereka bergerak sesuai gerakan tangan dirigennya.

Setelah diajak bersemangat dalam opening FF VII, Arnie Roth memperkenalkan guitar soloist Malaysia bernama Az Samad. Selanjutnya kita dibawa dalam alunan melodi gitar yang tenang dibarengi orkestra berjudul Dear Friends dari Final Fantasy V. Sambil disuguhi beberapa desain karakter karya Yoshitaka Amano, alunan musik mengetuk hati dan pikiran untuk memikirkan teman-teman di sekeliling seperti halnya Bartz, sang tokoh utama FF V. Melihat desain-desain itu jadi ingin memainkan kembali FF V lagi…

Vamo’alla Flamenco dari Final Fantasy IX disajikan selanjutnya. Gitaris solois Az Samad kembali memainkan petikan gitarnya. Sayangnya petikannya hampir tak terdengar, tenggelam dalam alunan melodi orkestra. Padahal musik ini harusnya mendengarkan petikan gitar yang jelas, sepertinya ada masalah di sistem akustik gitarnya sehingga tak terdengar dengan jelas.

Setelah memainkan musik-musik karya Nobuo Uematsu, orkestra Distant Worlds membawakan satu-satunya karya Masashi Hamauzu dalam pergelaran di Malaysia ini, Blinded by Light dari Final Fantasy XIII. Musik ini satu-satunya yang berkesan megah dan membangkitkan rasa merinding. Alunan melodinya membawa nuansa Final Fantasy dalam suasana yang sama sekali baru.

Nuansa militernya sangat terasa seperti halnya di Final Fantasy VIII apalagi ditambah tayangan cuplikan adegan perperangan dalam Final Fantasy XIII. Terlihat konduktor membawanya begitu bersemangat, tempo yang dibawakan sepertinya setingkat allegro, mirip dengan Liberi Fatali.

Setelah battle theme Final Fantasy XIII tersebut, dilanjutkan dengan battle theme khas Final Fantasy VIII yang mirip karakteristik militernya, Don’t be Afraid. Menariknya, sebelum dirigen mengarahkan orkestra layar terlihat ada keempat karakter sedang bercakap-cakap lalu kemudian berlari ke jembatan Dollet City, lalu masuklah ke mode battle. Pada saat itulah sang konduktor baru mengarahkan tim orkestra untuk memulai mengalunkan nada melodi yang mayoritas bersuara biola, terompet, dan bass.

Tempo lagu yang dibawakan agak lambat dari versi gamenya. Dalam musikal ini, hanya menampilkan cuplikan adegan selama perang membantu Dollet City dalam menghadapi tentara Galbadia sampai akhirnya Squall dikejar oleh robot laba-laba X-ATM092.

Setelah battle theme FF XIII dan FF VIII selanjutnya dialunkan battle theme khusus karakter Final Fantasy legendaris, Gilgamesh dari Final Fantasy V berjudul Clash on the Big Bridge. Jika sebelumnya lagu bernada menghentak teratur dan bergaya militer maka kali ini lagunya bernada chaos seperti Gilgamesh sendiri yang memang chaotik. Semua instrumen musik kecuali harpa sepertinya dimainkan sehingga terdengar seperti alunan kekacauan yang rapi. Awalnya terdengar tak teratur namun lama kelamaan akhirnya menemukan pola lagunya.

Setelah battle theme ketiga Final Fantasy selanjutnya mengalun melodi musik yang mengingatkan salah satu tokoh penting dalam Final Fantasy VII, Aerith’s Theme. Musik dimulai dengan cuplikan adegan Aerith dengan Cloud di gereja Midgard Slum kemudian mereka kencan berdua di suatu tempat. Alunan melodinya terasa sedih terasa sesuai dengan kematiannya di dalam game yang sangat fenomenal. Untungnya adegan Aerith tertusuk pedang Sephiroth disensor alias tak ditampilkan jadi kesedihan tak terlalu berlarut-larut.

Setelah itu Arnie memperkenalkan ketiga orang Malaysia yang menjadi tenor, soprano dalam musik berjudul Opera: Maria and Draco yaitu Ho Chi Mei, James Long Chai Hunt, dan Mak Chi Hoe. Judul musik inilah yang telah saya tunggu-tunggu, apakah memenuhi ekspektasi atau tidak. Musik ini juga merupakan musik terpanjang durasi waktunya di pergelaran orkestra Distant Worlds Malaysia ini (sekitar 12 menit).

Berhubung dalam youtube tidak ada ketiga orang itu, anggap saja pengganti mereka karena menurut saya performa sang wanita kurang menonjol. Adegan yang diambil dari Opera House Final Fantasy VI dimana Celes menjadi bintang opera utama di dalamnya dan Locke dan Edgar serta Sabin harus berjuang untuk menyelamatkan Opera dari gangguan.

Saya terkesan dengan kedua tenornya, suaranya begitu lantang dan bergema. Apalagi dalam ujian suara tinggi-tinggi yang tiada habis mereka mampu melaluinya, sayang wanitanya kurang keras suaranya walau demikian masih terdengar merdu dan bergema. Jadi terpikir, adakah orang Indonesia yang bisa menjadi tenor dan soprano yah… ingin menyaksikannya klo ada.

Terakhir sebagai penutup serangkaian orkestra Distant Worlds Malaysia ini dipilihlah lagu Terra’s Theme dari Final Fantasy VI. Sebagai penutup lagu, lagunya benar-benar menggetarkan hati karena berkesan seperti perpisahan yang entah kapan kita jumpa kembali. Layar pun muncul credit penyelenggara acara dan juga ucapan terima kasih kepada yang terlibat sehingga acara Distant Worlds dapat terselenggara.

(harap maklumi suara tepuk tangan di tengah-tengah musik berlangsung, hampir semua youtube tak terlepas dari tepuk tangannya).

Sungguh luar biasa lagu ini, sangat sesuai dengan Terra yang senantiasa diliputi rasa kesepian dan ada kemungkinan akan terpisah dengan kawan-kawan. Sehingga membuat diri saya berkaca-kaca mendengarkan lagu ini. Sungguh maestro sang konduktor dan para pemain orkestra Distant Worlds ini.

Sehingga begitu lagu selesai dimainkan para penonton melakukan standing ovation dan saya pun mengikuti mereka seraya bertepuk tangan keras-keras. Semua pemain termasuk soprano, tenor, dan penyanyi ikut ke panggung memberikan penghormatan terakhir, begitu juga Arnie Roth dan tim orkestra.

Sebagai respon atas standing ovationnya, Arnie memberikan bonus lagu Suteki da ne berbahasa Inggris yang dinyanyikan oleh Stephanie Van Driessen yang tentu saja disambut meriah oleh seluruh penonton hari itu.

(seperti biasa, anggap saja Susan adalah Stephanie).

Lagunya bagus namun tetep lebih bagus dalam bahasa jepang karena saya tak familiar dengan lirik lagunya namun tetap bisa menangkap inti lagu itu karena teringat game FF X apalagi dibantu dengan layar yang menampilkan cuplikan Suteki da ne dimana Yuna berduaan dengan Tidus di suatu tempat berhutan.

(sebetulnya di Distant Worlds Malaysia ini, Nobuo tidak datang, namun saya sengaja pilih ini biar terkesan fenomenal dan menggambarkan bahwa lagu pamungkas ini benar-benar luar biasa di Malaysia hari itu).

Setelah lagu itu, Arnie memberikan kejutan lagi yaitu memberikan bonus lagu legendaris Final Fantasy VII yaitu One Winged Angel. Wah penonton begitu antusias sekali, tepuk tangan tetep terdengar bahkan saat lagu sudah dimulai. One Winged Angel ini menggunakan aransemen seperti pada Final Fantasy VII Advent Children. Penutup lagu yang bener-bener keren dan pamungkas! Choir saling bersahut-sahutan menyebut nama Sephiroth diiringi hentakan dentuman drum orkestra dan pipa panjang serta bunyi terompet yang khas.

Benar-benar bravo pertunjukkannya. Jarum jam tepat menunjukkan jam 22:00 waktu setempat berarti sudah 2 jam berlangsung. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Saat keluar dengan perasaan gembira tiba-tiba Bagus bertemu dengan pak Addie MS dan keluarganya yaitu bu Memes, Tristan, dan Kevin. Bagus begitu antusias berbicara dengan pak Addie MS. Sekedar informasi bagi yang belum tahu, pak Addie adalah konduktor Twilite Orchestra di Indonesia.

Pak Addie mengajak ngobrol tentang dari mana kami berasal dan kesan dengan pertunjukkan orkestra tadi. Beliau juga bertanya apakah ada yang kurang dari pertunjukan tersebut sambil bilang insya Allah tahun 2013 akan menggelar Final Fantasy Beginning di Istora Senayan, Jakarta kira-kira Juli atau Agustus. Pak Addie juga berkata akan mengusulkan ke promotor agar mendatangkan Nobuo Uematsu ke Jakarta walau kemungkinannya kecil. Kabar baik buat penggemar Final Fantasy yang tak bisa menonton Distant World di Malaysia ini.

Berfoto bersama keluarga Addie MS

Berfoto bersama keluarga Addie MS

Karena antusiasnya bertemu keluarga Addie MS, kami sampai nyaris lupa mengambil tas yang dititipkan di loker hehe. Sebenarnya setelah acara pergelaran orkestra akan ada temu muka dan tanda tangan Arnie Roth dan beberapa artis Malaysia yang ikut namun mengingat kereta terakhir jam 22:40 terpaksa kami tak ikut. Daripada ga bisa pulang lebih baik tidak ambil resiko terlebih lagi hanya membawa ringgit yang tipis, hanya cukup untuk pulang naik kereta ke Bukit Bintang.

Alhamdulillah berhasil menggapai impian menonton konser orkestra bertaraf internasional. Tidak menyangka, impian ini bisa tercapai pada hari Jumat, 16 November 2012 kemarin di Malaysia. Dulu pada masa SMA, saya hanya bermimpi ingin bisa menyaksikan langsung pertunjukkan orkestra setelah membaca komik Jendela Orpheus yang didalamnya ada sekolah musik di Jerman. Sebetulnya jauh sebelum komik itu terbit, sedari kecil saya suka mendengar lagu instrumen klasik yang sering diputarkan di radio Sonora. Ingin mendengarkan lagu-lagunya lagi namun sayang saya tidak tahu judul lagu-lagunya. Ah biarlah, kenangan itu akan selalu terpatri dalam hati dan pikiran…

—————————————————-

Referensi:

1. https://www.facebook.com/groups/ffkaskus/doc/377361425685690/

2. http://www.ffdistantworlds.com/

3. http://en.wikipedia.org/wiki/Nobuo_Uematsu

4. http://en.wikipedia.org/wiki/Arnie_Roth

5. http://en.wikipedia.org/wiki/Tempo

2 Komentar (+add yours?)

  1. squaremusics
    Nov 24, 2012 @ 10:43:49

    Sempat pengen ikut ke Malaysia sebenernya, tapi begitu dapet kabar Nobuo gak dateng, langsung down dan batal ikut😦. Dari semua staff / ex-staff SQUARE, rasanya gw cuma pengen ketemu ama 3 orang aja : Nobuo, Hironobu dan Yoshitaka.

    Balas

    • Arkden
      Nov 27, 2012 @ 15:47:25

      Harusnya datang aja ketemu kita, tak peduli ada Nobuo atau tidak yang penting bisa menonton konser FF bersama Arnie Roth yang sudah menjadi konduktor tetap.

      Kabar dari pak Addie nanti di FF Beginning mo diundang Nobuo datang kemari, semoga aja beneran datang beliau ke Indonesia, yuk banyak-banyak berdoa🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: