Ke Malaysia (lagi)

Jika pada postingan sebelumnya ditanggung akomodasinya oleh teman-teman yang ada di Malaysia maka pada perjalanan kali ini benar-benar murni direncanakan jauh-jauh hari, istilah kerennya backpacker. Jika pada kunjungan sebelumnya bertujuan untuk menyaksikan anak didik yang presentasi di seminar Kuala Lumpur, maka kunjungan kali ini bertujuan untuk menonton konser Distant Worlds di Kuala Lumpur (juga).

Tentu di kedua perjalanan itu ada jalan-jalan juga sih namun jalan-jalan lebih terasa pada kunjungan kali ini. Jika sebelumnya keliling sekitar Kuala Lumpur menggunakan mobil sewaan sampai tengah malam bersama teman-teman sekampus maka kali ini saya dan seorang teman Kaskus hanya berkeliling sekitar Kuala Lumpur dengan menaiki transportasi umum. Tentu saja sensasinya sangat berbeda jika dibandingkan dalam mobil. Merasakan tatap muka langsung dengan peradaban Malaysia serta berinteraksi dan menyaksikan tingkah dan polah mereka benar-benar mengasyikkan.

Setelah dipertimbangkan akhirnya saya membuat tulisan yang agak berbeda dengan sebelumnya, saya akan membahas sisi lingkungan dan budaya Malaysia lebih mendalam, khususnya sekitar Kuala Lumpur berdasarkan pengamatan dan pengalaman di sana. Jalan-jalan ke destinasi lain tak memungkinkan dalam kurun 2 hari 1 malam.

Mau ke mana?

Mau ke mana?

Sebetulnya sih harusnya 3 hari 2 malam namun ternyata ada aral melintang seperti pesawat kepenuhan sehingga kami gagal berangkat jadilah rencana-rencana yang sudah disusun berantakan. Kami ke sana seperti tidak ada rencana. Bolehlah klo dikatakan misi perjalanan kami adalah tersesat di Kuala Lumpur. Yap, slogan Get Lost in Malaysia saya dengungkan dalam hati. Tentu saja tetap pada tujuan utama yaitu menonton konsernya dilaksanakan, sisanya tersesat saja di Kuala Lumpur. Mengenai konser saya sudah membuat detail acaranya di postingan lain, silahkan diklik di sini.

Transportasi Umum

Bicara transportasi umum di Kuala Lumpur benar-benar menyenangkan. Saya berbicara transportasi kereta api dan bus. Istilah kereta api di sana disebutnya tren. Kereta api disana ada beberapa macam seperti LRT (Light Rail Transits)/rapidKL, KTM (Keretaapi Tanah Melayu), dan KL Monorel. Sebenarnya secara garis besar terbagi dua tipe yaitu monorel, dan kereta api. KTM dan rapidKL adalah tipe kereta api sedangkan monorel ya KL Monorail.

KL Monorel

KL Monorail

Perbedaannya hanya pada kapasitas daya angkutnya dimana KRL berkapasitas 10-15 gerbong dan gerbong agak panjang namun lebarnya kecil sementara monorel berkapasitas empat gerbong dan panjang gerbongnya pendek namun lebarnya cukup besar. Untuk mudahnya saya menyebut KRL untuk kereta api yang menggunakan dua rel, sedangkan monorel untuk kereta layang yang menggunakan satu rel.

Jalur KRL dan monorel semuanya sudah nyaris terintegrasi dan sudah menjangkau banyak wilayah Kuala Lumpur. Saya menyebut nyaris karena sebetulnya tidak benar-benar terintegrasi hanya beberapa stasiun (disana disebut stesen, serapan dari bahasa Inggris ‘station’) yang terkoneksi itupun juga monorel tidak terintegrasi.

Peta Rute KRL Kuala Lumpur

Peta Rute KRL Kuala Lumpur

Kami pernah mencoba perpindahan dari KRL ke monorel melalui stasiun KL Sentral yang menurut peta kereta sudah terintegrasi. Setelah bertanya-tanya ke penduduk setempat rupanya kami perlu berjalan kaki keluar dari KL Sentral menuju ke jalan raya lalu mengikuti papan penunjuk monorel. Sebetulnya lebih mengandalkan feeling saat menuju ke stasiun monorel karena terkadang papan penunjuknya hilang di akhir jalan.

Menuju ke Stesen Tun Sambanthan

Menuju ke Stesen Tun Sambanthan

Klo dihitung-hitung, jalan kaki dari stasiun KL Sentral ke stasiun monorel terdekat (namanya Stesen Tun Sambanthan) kira-kira 10 menit. Setelah sampai di stasiun Tun keringat sudah mengucur dimana-mana karena kami sedang membawa bagasi yang berat di punggung sekitar 4-5 kg. Klo dilihat baik-baik dari peta, ternyata hanya monorel yang tampak terpisah dari KRL (terlihat ada jarak dan lambangnya berupa tangga). Jadi tidak benar-benar terintegrasi.

Setiap perpindahan jalur (di sana disebut istilah laluan) KRL maka harus membayar lagi. Berbeda dengan busway dimana satu tiket dapat berpindah jalur kemana saja sepanjang tidak keluar dari halte dan bukan halte terakhir. Pada sistem perpindahan jalur KRL di Kuala Lumpur memaksa untuk keluar dari stasiun untuk berpindah karena antar satu jalur stasiun tidak terhubung satu sama lainnya. Jadi benarlah tidak terintegrasi dari segi pembayaran.

Pintu stasiun

Pintu stasiun

Walau tidak terintegrasi sepenuhnya, sistem KRL dan monorel di sana sangat nyaman dinaiki. AC terasa dingin walaupun isi gerbong penuh. Kalau pun sangat penuh penumpang bisa menunggu kereta berikutnya yang datang setiap 3-5 menit sekali. Bahkan ada penunjuk waktu kedatangan kereta berikutnya sehingga bisa menunggu dengan pasti serta dapat memperkirakan waktu dengan tepat. Waktu beroperasi mulai jam 6 pagi sampai jam 11:45 malam.

Dalam rapidKL

Dalam rapidKL

Stasiunnya sendiri terbagi dua jenis, bawah tanah (subway) dan stasiun biasa. Stasiun subway sudah dilengkapi AC dan ruangannya tertutup. Sepertinya KRL-nya berjalan otomatis karena saya lihat pintu KRL sangat sesuai dengan pintu stasiun subway, entah dikemudikan robot atau memang ada mekanisme tersendiri.

Stasiun subway ada lampu di setiap pintu KRL, hal ini berguna pada pengoperasian KRL malam hari dimana jumlah gerbong dikurangi menjadi 4 gerbong. Jadi klo Anda melihat lampu menyala, maka berdirilah disitu karena disitulah pintu KRL akan dibuka. Waktu itu saya tidak menghitung persisnya jumlah gerbong, klo dikira-kirakan sekitar 10-15 gerbong.

Stasiun rapidKL

Stasiun rapidKL

KRL rapidKL berjalan sangat cepat, karena antar stasiun membutuhkan hanya 3-5 menit. Saking cepatnya sampai bersuara seperti suara jet. Pemandangan? Di luar hanya gelap gulita, tak ada yang menarik dilihat. Walaupun bertipe subway tetap ada stasiun biasa (stasiun layang), stasiunnya mirip seperti stasiun Gambir, Jakarta. Perlu diketahui tidak semua satu jalur itu seluruhnya stasiun subway, ada stasiun layang juga.

Membeli token di mesin tiket KRL

Membeli token di mesin tiket KRL

Bagaimana dengan sistem tiket? Sistem tiket sudah bersifat elektrik, tidak berbasis kertas sebagaimana halnya tiket busway Transjakarta. Alih-alih berbentuk kartu tapi token. Bahkan membelinya pun lewat mesin tiket. Bayar bisa pakai uang kertas ataupun uang logam sen (di mesin, sen disebut stiling). Tampaknya untuk uang kertas mesti uang yang bagus, klo lecek sepertinya akan ditolak. Cara pembelian hanya tinggal menyentuh layar memilih dari stasiun mana ke mana lalu masukkan uang kertas atau uang logam lalu ambil token dan kembaliannya. Kembaliannya biasanya berupa uang logam sen, setidaknya dari pengalaman kami.

Token rapid KL

Token rapidKL

Bicara tentang pembelian token agak sedikit sulit sebab kami pernah berkali-kali memasukkan uang kertas tapi sering ditolak sampai-sampai kami mencari loket pembelian karcis yang sayangnya tidak ada. Pernah tanya ke petugas dijawab dicoba lagi klo perlu ganti mesin tiket. Akhirnya dicoba lagi ternyata sudah bisa saja. Mengherankan.

Ohya perlu cermat dalam memilih stasiun yang dituju di mesin tiket, klo berbeda jalur (misalnya dari jalur KRL ke monorel) maka Anda akan membayar mahal karena antar satu jalur yang berbeda tidak saling terkoneksi sehingga Anda akan terpaksa untuk membeli tiket baru lagi.

Walau sistem tiket sudah terelektrisasi tetap saja ada anomali sistem. Kami pernah kejadian dimana setelah memasukkan token ke pintu keluar ternyata pintunya tak terbuka, untung alhamdulillah setelah dijelaskan petugasnya mengerti sehingga akhirnya dibukakan pintunya. Berapakah harga tiketnya? Tarifnya bervariasi, paling murah RM 1 (Rp. 3.000-an) untuk berjarak 1 stasiun, semakin jauh semakin naik tarifnya. Kemarin dari monorel Stesen Tun Sambanthan sampai ke Stesen Bukit Bintang (kira-kira 5 stasiun) kena tarif RM 1,20 (Rp. 3.700-an).

Hiruk Pikuk

Hiruk Pikuk

Mengenai bus (disana disebut bas) kami hanya naik bus pengumpan (bas pengantara/feeder bus) bandara LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Kami naik yang tujuannya ke KL Sentral sebab tidak ada kendaraan langsung dari LCCT ke Bukit Bintang, tempat dimana kami akan menginap. Naik bus ini lumayan aman dan nyaman. Yang diperlukan hanyalah membeli tiket di loket yang ada di terminal bukan di dalam bus.

Ada dua perusahaan yang melayani bus ini, AeroBus dan SkyBus. Harga tiket AeroBus per sekali jalan ke KL Sentral sebesar RM 8 (Rp. 25.000-an) sedangkan SkyBus RM 10 (Rp. 31.500-an). Tiket ini nantinya akan diperiksa kenek di dalam bus saat berangkat. Bedanya apa di antara kedua perusahaan itu? SkyBus mungkin menawarkan sedikit kemewahan tapi tak tahu pastinya sebab kami lebih memilih AeroBus karena tarifnya lebih murah. AeroBus ini beroperasi 24 jam dengan waktu keberangkatan setiap 30 menit untuk jurusan LCCT – KL Sentral.

Saya sarankan di LCCT belilah tiket yang berlaku pp, harga tiket pp AeroBus sekitar RM 14 (Rp. 44.000-an), lebih murah daripada beli sekali jalan saja. Lagipula tiket pp berlaku untuk 30 hari. Kami sendiri baru tahu itu saat hendak membeli tiket untuk pulang, yeah agak terlambat namun setidaknya dapat pengetahuan.

Kemacetan di Bukit Bintang

Kemacetan di Bukit Bintang

Selain bus pengumpan, kami tidak mencoba naik bus-bus yang ada di Kuala Lumpur karena kami tidak tahu ke arah mana saja bus itu berlalu daripada makin tersesat lebih baik naik transportasi yang jalurnya lebih diketahui pasti yaitu KRL dan monorel. Klo saya perhatikan, bus-bus yang ada di sana berhenti di titik tertentu, tak jelas apakah itu halte atau bukan. Tidak seperti bus yang ada di Jakarta yang bebas berhenti dimana saja, sampai-sampai ada sebutan “kapan bus berhenti, hanya sopir dan Tuhan saja yang tahu”.

Bagaimana dengan taksi? Teksi (sebutannya), kata teman yang tinggal di sana, kebanyakan tidak memakai argo. Jadi pastikan untuk bertanya apakah memakai argo jika tidak pakai tawar menawar saja. Klo oke bersiap-siaplah di tengah-tengah jalan akan dinaikkan penumpang. Loh? Iyap mirip seperti angkot bedanya Anda naik dengan tawar menawar. Itu kata teman yang sudah pernah di sana, kami sendiri tidak menaikinya.

Penduduk dan Bahasa

Penduduk Kuala Lumpur secara umum terlihat muka arab, india, dan melayu. Muka china juga ada namun paling banyak yang kami lihat pada saat itu adalah bermuka arab dan india. Sehingga kami sempat terpikir sebetulnya kami sedang berada di India atau salah satu negara Timur Tengah bukan di Malaysia.

Kalau diperhatikan dari segi pekerjaan, kebanyakan yang bekerja sebagai kuli adalah berdarah india dan arab. Walau ada juga melayu namun memang mayoritas india. Entah mungkin daerah yang kami kelilingi memang kebetulan bermayoritas india dan arab. Ohya di tempat pekerjaan formal terlihat semua wanita memakai jilbab hitam. Di KFC, di Dewan Filharmonik Petronas, maupun gift shop Petronas semua wanitanya memakai jilbab. Entah memang diwajibkan atau tidak.

Keluarga

“Keluarga”

Mengenai keramahan penduduk saya nilai lumayan. Sebab pernah bertanya mengenai jalan ke monorel dijawab dengan muka masam. Mungkin suasanya hatinya sedang kurang bagus. Walau gitu keramahan akhirnya didapatkan di hotel, pemilik dan staf-stafnya ramah. Ada juga saat saya bercakap-cakap dengan teman ada orang di dekat kami menyapa dengan senang dan membantu memberikan arahan ke hotel. Pernah juga ditanya orang hendak kemana. Saya jawab dengan bahasa Melayu seadanya sambil senyum.

Bicara bahasa, secara jujur saya agak bingung berbicara dengan orang-orang di sana. Memakai bahasa Melayu dijawab pakai bahasa Inggris. Di sekitaran Bukit Bintang hampir semua orang yang kami temui memakai bahasa Inggris. Bahkan di KFC KL Sentral, gift shop Petronas, dan Dewan Filharmonik Petronas pun petugasnya memakai bahasa Inggris. Jadi bertanya-tanya, kemanakah bahasa Melayu dan kapan dipakainya? Di saat saya bingung, teman saya malah berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.

Tatto

Tatto

Bukannya saya tidak bisa bahasa Inggris (pernah berbincang-bincang ke orang yang ada di bandara LCCT pakai bahasa Inggris) cuman memang belum terbiasa saja bercakap-cakap. Pernah ditanya jalan oleh bule disana, dia ngomongnya cepat sekali sampai saya tidak bisa menangkap apa yang dibicarakan. Oh bicara ditanya, ternyata saya lumayan ditanyain orang selain bule itu tentang arahan jalan, tentu saja saya jawab tidak tahu hehe.

Makanan

Walau Malaysia adalah negara Islam, makanan babi sering dijumpai di sekitaran Bukit Bintang terutama di restoran masakan china. Karenanya kami sempat ragu mau makan apa di sana sampai akhirnya malah mampir di KFC karena sudah terjamin kehalalannya.

Menu KFC KL Sentral

Menu KFC KL Sentral

Awalnya saya kira menu KFC di Kuala Lumpur sama seperti menu Jakarta ternyata salah total karena menu di sana sangat berbeda dengan di Jakarta. Ambil contoh nasi saja, di sana nasinya berbumbu sehingga makan nasi tanpa lauk saja sudah nikmat. Entah nasi apa itu yang jelas berwarna agak kuning sedikit. Menu paket yang kami beli mencakup nasi, ayam goreng, dan salad. Ayamnya sama namun salad? Sepertinya salad di sana sudah lazim. Klo di sini sup yang lazim malah di sana tidak ada sup. Sempat juga mencoba es krim oreo dan es krim coklat chips.

Nasi lemak daging, teh tarik, dan roti plata

Nasi lemak daging, teh tarik, dan roti plata

Selain KFC, kami menemukan restoran yang berbahasa arab dengan lafal bismillah. Melihat ini kami jadi yakin dengan kehalalannya sehingga mampir ke dalamnya. Menu yang saya pilih berupa nasi lemak daging, roti plata india, dan teh tarik. Teman saya hanya makan mie goreng mamak. Saya sudah menyarankan agar makan yang lain, merasakan cita rasa negara ini namun ditolak dengan alasan sewaktu di Medan dia sudah sering makan roti plata, nasi lemak bahkan teh tarik. Wah fakta yang menarik sampai membuat saya merasa ini kuliner biasa saja…

Mie Goreng Mamak

Mie Goreng Mamak

Harga makanan sebetulnya sama saja dengan di Indonesia. KFC total paket per orang sekitar RM 6.95 (Rp. 21.000-an) belum termasuk pajak dan es krim. Kalau nasi lemak daging, teh tarik, roti canai plata, mie goreng mamak, dan susu milo es totalnya RM 14.1 (Rp. 44.500-an).

Budaya dan Lingkungan

Sepanjang pengamatan saya di Kuala Lumpur, para penduduk termasuk juga bule semuanya patuh pada aturan yang ada di sana. Salah satu contoh dalam lalu lintas, mobil-mobil akan berhenti pada lampu merah sebelum garis sepanjang zebra cross. Bahkan saat sepi sekalipun tetap berhenti pada tempatnya.

Ada pula lampu lalu lintas yang dilengkapi fasilitas penyebrangan. Kalau dipencet tombolnya maka lampunya akan menjadi merah (tidak langsung sih tunggu beberapa detik) setelah itu akan berbunyi nada pendek, “tut tut tut”. Semua kendaraan langsung berhenti terlepas sedang sepi atau ramai sekalipun.

Parkiran

Parkiran

Lampu lalu lintas yang berbunyi itu sebenarnya ditujukan untuk penyebrang tuna netra. Kebetulan saat kami berjalan menuju Stesen Tun Sambanthan bertemu dengan seorang tuna netra. Merupakan kesempatan emas buat saya bagaimana Kuala Lumpur memperlakukan tuna netra ini.

Dia berjalan di sepanjang marka jalan trotoar yang berwarna kuning, yang ada undak-undaknya. Tentu sambil membawa tongkatnya. Saat menyebrang dia hanya mendengarkan nada lampu lalu lintas saja jadi benar-benar membuat dia mandiri untuk berjalan sendiri di sepanjang trotoar. Rupanya Kuala Lumpur sudah memberikan fasilitas yang mendukung tuna netra secara mandiri.

Jembatan Stesen Pasar Seni

Jembatan Stesen Pasar Seni

Selain itu tampaknya ada budaya menghargai pejalan kaki di sana sebab saat kami hendak menyebrang ke seberang jalan, di sekitarnya tak ada fasilitas zebra cross dan juga lampu lalu lintas penyebrangan. Tahu-tahu ada mobil yang berhenti dan memberikan isyarat kepada kami untuk menyebrang. Saya salut dengan mereka dengan memberikan salam hormat selagi menyeberang.

Saat berjalan-jalan mengelilingi sekitaran Kuala Lumpur (Bukit Bintang, Bukit Nanas, Dang Wangi, KLCC, Pasar Seni dan Tun Sambanthan) saya tak mendapati adanya sampah di jalanan. Bahkan di stasiun sekalipun terlihat bersih, kecuali tentunya tempat pembuangan sampah di down town Bukit Bintang. Di sungai walau warnanya kecoklatan pun tak ada sampah yang menggenang.

Tampaknya peraturan yang ada di Kuala Lumpur sangat tegas diterapkan sehingga lingkungan menjadi tertata rapi, bersih, dan manusia-manusianya pun ikut tertib. Mungkin ada CCTV dipasang di suatu tempat yang tersembunyi. Entahlah yang jelas hasilnya sudah terlihat di lingkungan yang kami lihat.

Awan Gelap Menggantung

Awan Gelap Menggantung

Cuaca pada perjalanan dua hari kami di sana sebenarnya sama saja dengan cuaca di Jakarta. Kebetulan di Indonesia, khususnya Jakarta sudah memasuki musim hujan maka di Kuala Lumpur seharusnya juga masuk musim hujan. Hari pertama kami tiba cuaca bersinar terik. Pada hari kedua hujan turun pada siang hari. Benar-benar kontras dan juga memberikan pengalaman bagi kami.

Kami sempat tertahan di suatu tempat di Stesen Kuala Lumpur menunggu hujan reda untuk bisa berkeliling lebih jauh lagi namun tampaknya kami harus membatalkan kelilingnya karena waktu keberangkatan pesawat akan dimulai sekitar 4 jam lagi sehingga diputuskan untuk kembali ke KL Sentral saja.

Ohya ada yang menarik, dari semua fasilitas tangga baik di jembatan penyeberangan maupun di subway ada eskalator (tangga berjalan) untuk naik. Klo turun tidak ada eskalator hanya berupa tangga saja. Sangat berguna untuk manula yang tentunya sudah tak mampu naik tangga sekuat orang muda. Walaupun begitu karena tidak setiap saat ada manula, orang-orang menggunakan fasilitas eskalator ini untuk naik.

Tangga atau Eskalator

Tangga atau Eskalator

Naik eskalator pun juga tertib dan ada etikanya. Harus berdiri di sisi kiri eskalator agar memberikan kesempatan bagi yang buru-buru di sisi kanan eskalator. Sangat membantu sekali. Saya sempat berpura-pura sedang terburu-buru dan hasilnya bisa sampai tanpa halangan sama sekali.

Sewaktu di mall Jakarta saya sering terburu-buru naik eskalator untuk dapat tiket duduk bioskop terbaik namun seringkali terhalang orang-orang yang menguasai eskalator. Kalau saja diterapkan aturan berdiri di sisi kiri eskalator maka akan membantu saya dalam situasi seperti itu tapi memang tipikal orang mall Jakarta biasanya tak suka terburu-buru.

Destinasi Tempat Menarik

Berhubung tujuan utama perjalanan ini adalah menonton konser orkestra Distant Worlds: Music from FINAL FANTASY tentunya tempat yang dikunjungi pertama adalah KLCC (Kuala Lumpur City Central). Tentu saja setelah menaruh bagasi dan istirahat sebentar di hotel Green Hut di Bukit Bintang terlebih dahulu.

Menara Kembar Petronas

Menara Kembar Petronas

Ada apa di KLCC? Di situ ada tempat yang menjadi ikonik Malaysia yaitu Menara Kembar Petronas. Menara ini senantiasa terlihat diberbagai penjuru dimana pun kami berkeliling Kuala Lumpur. Waktu terbaik datang ke sini adalah waktu sore dan malam hari. Mengapa? Karena kilauan lampunya membuat sosok menara ini terlihat indah.

The Hidden Gems

Poster The Hidden Gems

Di bawah menara terdapat Dewan Filharmonik Petronas, di sinilah tempat kami menuju karena inilah tempat konsernya. Untuk detail konser silahkan dibaca di sini. Selain orkestra Distant Worlds ada juga konser orkestra lainnya seperti The Hidden Gems namun di tanggal yang berbeda. Kalau suka menonton konser orkestra tempat ini layak dikunjungi hanya saja harus memesan tiket jauh-jauh hari agar mendapat tarif yang lebih murah.

KTM Berhad

KTM Berhad

Gedung Tua

Gedung Tua

Selain itu berjalan-jalan di sekitar Stesen Pasar Seni dan Stesen Kuala Lumpur akan menemukan gedung yang arsitekturnya tampak terlihat tua dan unik. Gedung kantoran itu bernama KTM Berhad. Entah kapan dibangun dan awalnya dipergunakan untuk apa.

Yang paling menarik adalah menemukan museum secara tak sengaja di Stesen Kuala Lumpur. Niat awalnya sebenarnya adalah Museum Negara yang (harusnya menurut peta) terletak di luar stasiun ternyata terhambat hujan tak tahunya menemukan museum tersembunyi di situ. Lumayanlah daripada tidak sama sekali.

Museum Kereta Api Malaysia

Museum Kereta Api Malaysia

Saya tak tahu nama resmi museumnya namun dilihat dari isinya museum ini memamerkan berbagai hal tentang kereta api dan sejarahnya di Malaysia maka bolehlah kalau saya memberi nama Museum Kereta Api Malaysia. Tampaknya keadaan museum di negara ini sama seperti di Indonesia, sama-sama sepi dan sedikit pemeliharaan.

Tidak ada petugas yang berjaga dan koleksinya berdebu walau masih terlihat sepintas tampak bersih dan tiada sarang laba-laba. Tidak ada penjelasan sejarah di situ selain memamerkan benda-benda miniatur dan mungkin benda yang memiliki nilai sejarah tersendiri bagi Malaysia khususnya perkeretaapian.

Jalan-jalan di Bukit Bintang

Jalan-jalan di Bukit Bintang

Selain museum kita sebenarnya bisa berjalan-jalan sekitar Bukit Bintang, waktu terbaik adalah sore dan malam hari karena orang-orang yang berjalan lumayan banyak daripada pagi hari. Saya sempat bercakap-cakap dengan salah satu penduduknya yang menawarkan hotel dengan bahasa Inggris. Lumayan seru. Banyak bule yang berlalu lalang di sini. Eh tunggu, kami pun juga bule di Malaysia hehe.

Di Bukit Bintang banyak bertebaran hotel maupun hostel. Beda hotel dengan hostel terletak pada jenis penginapannya. Hotel memiliki kamar-kamar tersendiri untuk penyewa sedangkan hostel satu kamar bisa berisi berbagai penyewa yang berbeda-beda. Biaya penginapan sangat bervariasi, sebagai info tarif satu malam di hotel Green Hut sekitar RM 75 (Rp. 236.000-an).

Pengamatan dari Jembatan

Pengamatan dari Jembatan

Kalau kehabisan ringgit namun membawa uang rupiah lewat dari jam 11 malam, jangan takut datang saja ke Bukit Bintang. Ada banyak money changer yang beroperasi sampai malam hari, mungkin saja beroperasi 24 jam. Adanya layanan 24 jam sangat membantu bagi kami karena kami sempat kehabisan ringgit karena membeli merchandise Distant Worlds.

Nilai kurs yang berlaku tampaknya kurs jual yang berlaku hari itu, kami tak terlalu memperhatikan detailnya. Biasanya money changer yang ditemui sering tidak memberikan uang sen jadi harap diperhatikan bagian ini, agar tidak terlalu rugi banyak mengingat negeri ini memberlakukan uang sen sebagai nilai terkecil dalam ringgit.

Seandainya punya koin sen dalam jumlah banyak lebih baik dipergunakan untuk membeli tiket KRL atau monorel di mesin tiket daripada uang kertas. Mengapa? Karena dikuatirkan saat penukaran kembali ke rupiah uang sen tidak diakui atau tidak berharga kecuali jika berniat untuk mengoleksi sen.

——————————————————————-

Referensi:

1. http://www.un.org/gmun/archive/2010/w/content/site/gmun/lang/en/home/logistics/accommodations/pid/6642.html

5 Komentar (+add yours?)

  1. Shukri
    Mei 03, 2014 @ 17:48:08

    Salam Dari Malaysia, terima kasih kerana melawat negara kami Malaysia terutamanya Kuala Lumpur, sedikit perkongsian tentang artikel anda (saudara), biasanya gerbong ( carriages, gerabak ) bagi LRT paling panjang adalah sebanyak empat sahaja tidak sampai 8 dan 10 sebagaimana saudara katakan…, yang gerbong (carriages) paling panjang adalah KTM antarabandar iaitu mungkin sampai 15 atau lebih (carriages), monorel paling panjang 2,.. Adapun dari segi Bahasa pula, memang Bahasa Melayu adalah bahasa Kebangsaan Malaysia dan diwajibkan kepada rakyatnya bertutur, tetapi Bahasa Inggeris di Malaysia di kenali sebagai Bahasa Kedua, dan wajib digunakan pada tempat-tempat tertentu dan dalam urusan tertentu.., Jadi, mungkin mereka melihat saudara dari luar negara ( Indonesia ) rakyat Malaysia akan cuba untuk bercakap dalam BI, jika menggunakan dalam BM mungkin saudara tidak faham, jadi kata mudah kami menggunakan BI sebagai bahasa pengantaraan…, Dan Tambahan Untuk saudara mungkin berkunjung Ke Malaysia lagi, LCCT telah ditutup sepenuhnya pada tanggal 9 MEI 2014, dan telah berpindah KLIA2 bukan KLIA… pastikan ada 2 dibelakang.., hi2.. disitu adalah terminal tambang murah terbesar di dunia dan paling bagus kedudukannya.. dan kemudahannya cukup lengkap dan 300 meter sahaja dari KLIA…, hanya menggunakan ERL sebagai pengangkutan untuk ke KL Sentral.. ada juga bas dan taxi… Oleh itu, kami rakyat Malaysia mengalukan kedatangan anda sekali lagi ke Kuala Lumpur…, semperna tahun melawat MAlaysia 2014… Jom, datang ramai-ramai dengan keluarga…, Salam dari Malaysia.

    Balas

    • Arkden
      Mei 04, 2014 @ 14:16:52

      Halo Shukri! Terima kasih atas koreksi dan masukannya yang berharga😀 Insya Allah kalau ada kesempatan akan berkunjung ke Malaysia lagi. Jom, mari pusing-pusing (jalan-jalan) ke Indonesia.

      Salam dari Indonesia!

      Balas

      • Shukri
        Mei 08, 2014 @ 00:16:55

        Sama-sama, sekarang shukri sedang melanjutkan pelajaran.. jadi kekangan waktu memaksa shukri tidak berhajat lagi nak melancong ke Indonesia, tapi In Sya Allah…, bila cukup kewangan dan Masa.. akan shukri melancong ke Indonesia…, Indonesia tunggu aku datang…., Salam dari Kuala Lumpur..,

  2. Eulis Watidihati
    Agu 30, 2016 @ 14:33:53

    Salam jua Shukri …. kami kemaren pade tgl 25 ampe 29 Agustus 2016, sore berlamo2 di KL, namun sayang masih sepiii yakh gak kayak di Bandung, Jakarta dan juo Bali. di Kami nampak kemacetan sangatlah tek ter ukur & tak ber aturan, alhasil pabilo jalan2 / ada cara penting … jangan pake mobil Teksi zzz amboy lama penantian awak di jugjug …bisa2 nya awak terlewatlah masa beberapa jam …. yang biasanya mmakan masa 1 – 1,5 jam bisa lewat makan masa jadi 3 – 4 jam … saja …. kami bareng2 sama anak2 Putri yg masih kuliah nan jaoh di mato … yak di Fikom UIN Bdg, kemaren baru saja ikut ujian Sidang S1 nya dan dinyatakan lulus, sedangkan yg ke 2 : Danisa Dzulhidr DwiPutri masih berlanjut di FISIP – UNpad di Bandung. hayyo Shuykri ….. jln2 ke Betawi nampak luas, anda berwisata …. Salammm … Wassalamu álaikum. Wr. Wb.

    Balas

    • Arkden
      Sep 26, 2016 @ 17:36:13

      Wa’alaikumsalam wr wb.

      Iya jangan naik teksi di KL, klo di Jakarta itu seperti naik angkot, nunggu penumpang penuh dulu baru jalan….

      Wah selamat atas kelulusan putrinya, semoga sukses ya di dunia kerja dan akhirat dan semoga dek Danisa dimudahkan urusan kuliahnya🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: