Drama Sinetron Real-Time

Di mana-mana, baik di berita stasiun TV maupun surat kabar termasuk di kantor saya pada membahas tentang kebijakan pemerintah terkait dengan kenaikan Bahan Bakar Minyak yang biasa disingkat BBM. Kalau Anda mengikuti semua berita-berita tersebut terlihat jelas tarik ulur antar satu sama lain dengan berbagai kepentingannya masing-masing. Ada yang mengatakan bahwa hal itu akan memberatkan masyarakat terutama kaum marjinal. Ada pula yang mengatakan kebijakan BBM yang berjalan saat ini tidak memihak kaum papa.

Saling kontradiksi. Saat membaca dan menonton berita terkait BBM, saya merasakan nuansa emosional daripada pemikiran intelektual. Ada demo menentang kenaikan BBM di berbagai daerah kota Indonesia. Semuanya berteriak lantang menolak. Bahkan sampai membajak berbagai kepentingan umum sehingga fasilitas tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Macet di tol karena diblokir atau ada penyempitan jalan, pengantaran BBM terhambat karena truk milik Pertamina diambil alih. Semua berteriak menolak dengan speaker portabel ataupun di spanduk. Namun adakah mereka menawarkan solusinya? Tidak ada. Yang ada malah turut memboroskan penggunaan BBM itu sendiri. Membuat macet jalanan berarti bensin terbuang percuma, BBM jadi langka karena distribusi terhambat. Inilah drama sinetron real-time di sisi pihak antagonis, saking jahatnya sampai menolak semuanya.

Kemudian kita juga disuguhi drama lain dari pemerintah. Beberapa waktu lalu pemerintah berkali-kali melempar wacana pembatasan BBM ke seluruh lapisan masyarakat. Namun adakah realisasinya? Nol besar. Padahal Pertamina sudah menyiapkan berbagai peralatan untuk mendukung pembatasan BBM tersebut namun akhirnya pembatasan tidak pernah dijalankan, seolah-olah dipetieskan oleh alam. Menariknya, hampir setiap tahun selama 10 tahun kita disuguhi drama wacana kenaikan BBM oleh pemerintah yang kemudian akhirnya selalu berakhir tidak jadi dinaikkan. Inilah drama sinetron real-time di sisi pihak protagonis, saking baiknya sampai bingung bagaimana caranya agar semuanya menjadi senang.

Ada lagi contoh nyata di kehidupan sehari-hari secara real-time. Tengoklah pasar tradisional. Setiap kali angkutan mikrolet melewati pasar, mereka selalu memberikan recehan ke orang yang berlaku bak tukang parkir. Padahal mikrolet itu tidak sedang parkir tapi hanya melewati pasar saja sebagaimana trayeknya. Kenapa mereka memberikan recehan ke “tukang parkir” tersebut?Rupanya mereka menghindari drama dengan “tukang parkir” tersebut yang belakangan diketahui adalah preman pasar. Jika tidak membayar maka akan dimulai drama ala sinetron antagonis versus protagonis. Dan drama ini sering saya lihat seperti itu, ada supir yang menolak memberi recehan, preman itu memukul mobilnya keras-keras. Inilah rasanya seperti di sinetron, yang jahat menjadi jahat sekali, yang baik menjadi baik sekali.

Tengoklah drama real-time yang lain. Kalau berurusan dengan kaum birokrat pemerintahan maka Anda sedang menghadapi drama sinetron real-time. Apa-apa dalam pengurusan pasti selalu dimintai uang. Uang yang tidak ada dasarnya dalam peraturan pemerintah. Bukan hal yang aneh lagi jika Anda datang ke kantor pemerintahan dipampang spanduk besar-besaran bertuliskan “Tidak dipungut biaya”, sementara di depan Anda, aparat meminta nominal uang. Paradoks bukan? Jika tidak memberi maka urusan Anda akan dipersulit sesulit-sulitnya dan diancam-ancam bakal lama prosesnya persis seperti karakter antagonis yang selalu mencari akal untuk menghalangi tokoh protagonis mencapai tujuannya.

Itulah drama sinetron real-time. Pertanyaannya, kapankah kita benar-benar terlepas dari semua drama yang sudah dead-lock ini? Hampir seperti tidak ada jalan keluarnya. Benar-benar negara auto-pilot, masing-masing menyelamatkan diri sendiri. Seperti kata Chairil Anwar dalam puisi “Aku”.

——————————————————————————————————————————

Aku

Kalau sampai waktuku
Kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi!

(Chairil Anwar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: