Mengalah untuk Kemenangan

(Lama ga menulis, terakhir kapan yah… gegara agak-agak perfeksionis sih hehehe :p )

Topik kali ini berdasarkan pengalaman dan pemikiran akhir-akhir ini.  Di hari-hari manapun kita pasti selalu menemui hal satu ini: rasa persaingan. Kalau Anda di lingkungan kerja pasti merasakan situasi seperti ini, Anda dituntut untuk bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan, jika performanya terbaik maka akan mendapatkan penghargaan. Ada orang-orang lain selain Anda yang juga ingin mendapat predikat performa terbaik. Tak jarang saling senggol menyikut dan menjegal jalan Anda agar tak tercapai performa terbaik.

Ada lagi, ini yang sering saya alami sehari-hari setiap kali naik kendaraan umum. Setiap saya mengantri saya selalu waspada karena kadang ada orang yang sampai menyerobot jika ada celah-celah, bahkan sampai mendorong-dorong padahal bus sudah penuh dan masih ada bus di belakang. Begitu sudah di pintu naik busway, sering dihalang-halangi tangan pengantri agar saya tidak naik. Tak jauh berbeda dengan cerita pertama bukan?

Kenapa demikian? Hal itu karena rasa persaingan. Rasa persaingan itu sebenarnya buah dari rasa iri, sejatinya di dalam diri manusia sudah tertanam rasa iri yang membedakan hanyalah kapasitasnya. Jika dikelola dengan baik, rasa iri dapat bersifat positif. Contohnya saat kita melihat kawan-kawan ternyata sudah menyelesaikan skripsinya masing-masing sementara dirimu belum. Maka kau terpacu agar segera menyelesaikannya. Contoh lain, jika di lingkungan kerja ada kawanmu yang pandai mengerjakan sesuatu, kau merasa iri sehingga memintanya untuk mengajarinya agar setidaknya sama-sama bisa.

Jika rasa iri tidak dikelola dengan baik maka dapat bersifat merugikan, tak hanya orang lain juga diri sendiri. Apa pasal? Anda tidak akan bahagia. Anda akan tidak puas dan resah serta merasa sendiri di dunia. Dunia berasa tidak bersahabat dengan dirimu. Sesekali cobalah berpikir bagaimana perasaan Anda jika Andalah yang menjadi korban? Tentu tidak merasa menyenangkan yang berakhir dongkol dan sebal.

Monumen Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan Api

Antitesis dari rasa persaingan adalah rasa mengalah. Mengalah bukan berarti kalah segala-galanya tetapi mengalah demi kebaikan. Mengalah demi kemenangan berikutnya. Kalah hari ini, insya Allah besok menang. Jika dalam persaingan di dunia kerja terasa memberatkan, tak mengapa untuk mengundurkan diri lalu mengambil pekerjaan di tempat lain yang lebih baik nuansanya.

Jika dalam antrian busway terasa begitu kuat rasa persaingannya lebih baik mengalah dan membiarkan mereka-mereka berebutan bus layaknya anak kecil. Nanti akan datang bus yang kosong, sering kali busway sering datang bergerombolan yang tentunya mendapat kursi. Itulah maksud mengalah untuk kemenangan berikutnya.

Banyak cerita-cerita di dunia bahwa mengalah itu justru kelak meraih kemenangan di kemudian hari. Cerita para nabi dan rosul pun ada. Di Indonesia pernah ada sejarah yang terkenal di mana saat terjadinya agresi militer Belanda yang memberikan ultimatum untuk meninggalkan kotanya. Para pejuang akhirnya mengalah lalu meninggalkan kotanya namun sebelum pergi mereka membakar kota tersebut sehingga peristiwa itu dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Para penjajah pun tak mendapatkan apa-apa dari kota tersebut. Mengalah untuk kemenangan. Sampai hari ini, setiap kali saya mengunjungi ke Bandung selalu teringat sejarah ini. Sebuah contoh yang indah untuk mengalah untuk kemenangan.

2 Komentar (+add yours?)

  1. thrashmaniac
    Mar 05, 2014 @ 16:23:12

    Tulisan yang cukup menarik, namun ada sedikit perbedaan pendapat dengan pak penulis. IMHO, dorong-dorongan di kendaraan umum (seperti busway atau angkot) sebenarnya kurang tepat jika diasosiasikan dengan sifat iri. Mungkin lebih tepat jika diasosiasikan dengan sifat egois, karena individu yang melakukan dorong-dorongan tersebut sebenarnya sedang menuntut haknya, namun dengan cara yang kurang tepat, yaitu merebut hak individu yang lainnya.

    Ditunggu tulisan/posting berikutnya, Suf….

    Salam,

    Dito

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: