Bifurkasi Dua Peristiwa

Lama tidak memutakhirkan blog ini. Hari-hari terakhir ini (tepatnya berbulan-bulan lamanya :p ) ada dua peristiwa yang cukup fenomenal. Pertama, hilangnya dompet beserta isinya. Kedua, reuni di dunia maya.

Hilangnya dompet beserta isinya merupakan sebuah bencana. Mengapa tidak sebab yang hilang itu bukanlah sesuatu hal yang remeh. Saya tidak mengkhawatirkan sejumlah nominal rupiah karena memang hanya membawa sedikit. Hal yang paling merisaukan selama satu bulan lalu adalah hilangnya e-ktp sebab pengurusan di kelurahan sudah santer terkenal dengan tingkat kerumitan dan berbiaya tinggi serta memakan waktu, hati, dan energi.

ATM, kartu langganan, dan berbagai hal lainnya bisa diurus dengan mudah di perkantoran masing-masing –siapa sih yang senang mempersulit seorang calon pelanggan yang akan memberikan keuntungan nantinya. Berbeda dengan e-ktp, walaupun sudah diurus, pencetakan kartunya bisa memakan waktu berbulan-bulan lamanya karena saat ini masih tersentralisasi dalam proses percetakannya. Hal ini menimbulkan kegalauan tingkat tinggi karena dalam hal administrasi, e-ktp sangat dibutuhkan sebagai persyaratan. Bisa saja menggunakan fotokopinya namun hal itu menimbulkan kredibilitas yang diragukan keasliannya oleh lembaga terkait.

Alhamdulillah atas kuasa Allah Swt dan tentu doa-doa yang dipanjatkan, kartu e-ktp saya dikembalikan ke kampus dengan bermodalkan kartu mahasiswa saya yang ada di dompet saya. Sayangnya hanya dua kartu ini yang dikembalikan, dompet beserta isinya sudah raib dimakan void atau mungkin saat ini begitu. Peristiwa ini mengingatkan saya bahwa sesuatu yang hilang dapat kembali walau kondisinya tidak 100% sama. Hikmah terbesarnya adalah kita semua pasti akan dikembalikan kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Btw saya pernah membuat tulisan tentang kejadian hilangnya penghapus namun selalu kembali berkali-kali, simak di sini. Pelajaran terpenting adalah jangan pernah membawa kartu asli selama perjalanan cukup ditemani fotokopiannya saja biarkanlah yang asli ditinggal di rumah atau di tempat yang aman.

Reuni di dunia maya sebenarnya bukan hal yang baru. Awalnya tidak ada yang istimewa sampai kemudian di salah satu grup chatting yang hampir-hampir tidak ada interaksi tiba-tiba kembali ramai dengan pembahasan undangan pernikahan teman seangkatan. Beberapa kawan baru diundang masuk ke grup, yang menarik perhatian adalah dia selalu leave grup tanpa ada pemberitahuan apapun. Bahkan yang mengundang pun leave grup setelah acaranya berakhir tanpa ada interaksi satu pun.

Hal ini mengundang kekecewaan mendalam dan membuat hati yang terluka. Apa sebabnya sampai berlaku demikian? Padahal dahulunya di era keemasan kita semua bergembira dan senang berkumpul di awal-awal setelah kelulusan. Apakah selama interaksi sempat membuat tersinggung? Hal ini membuat saya berkontemplasi berhari-hari sehingga mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa teman itu tidaklah abadi.

Mungkin lebih tepatnya teman yang diabadikan di masa lalu tidak bisa dibawa ke masa kini. Lihatlah pada saat bertemu secara tidak sengaja bersama sebutlah kawan atau kekasih. Anda memperkenalkannya dengan sebutan “dia adalah teman sewaktu kuliah”. Seperti memberi kesan bahwa dia hanyalah teman masa lalu di waktu kuliah dan tak dapat dibawa ke masa kini. Dengan kata lain setelah perjumpaan tersebut hubungan pertemanan tidak diteruskan ke masa kekinian.

Bisa juga dibilang teman sejarah karena ikatan satu-satunya adalah historis dan memorial. Seperti museum-museum di belahan Indonesia manapun selalu kondisinya tertinggalkan bahkan hampir-hampir tidak dikunjungi pengunjung karena hanya bermodalkan historis. Kebetulan negeri kita memang memandang remeh nilai historis suatu kebendaan apalagi kemanusiaan.

Walaupun begitu ada juga teman berbasis historis yang telah dibawa kekinian sehingga disebut teman kekinian karena tidak lagi berbasis masa lalu tetapi kekinian. Namun untuk masa mendatang tidak tahu apakah hanya akan berbekas menjadi teman historis atau kekinian, biarlah waktu yang akan menjawab. Intinya tetap sama, teman itu tidaklah abadi, yang abadi hanyalah Allah Swt. Jadi mulai sekarang perlu ditertawakan jika ada yang menyatakan bahwa kekasih boleh hilang namun teman tetap abadi.

4 Komentar (+add yours?)

  1. thrashmaniac
    Mar 05, 2014 @ 16:32:02

    Mungkin maling ny jg prnah ngerasain ilang dompet, trus ribet ngurus KTP-nya. Mkanya yg bersangkutan rela balikin lagi KTP-nya, walaupun isinya sudah ‘null’, hahaha…..makanya ati2 klo lg jalan2 kluar brow….

    Balas

  2. Dee
    Mar 07, 2014 @ 21:54:29

    nice post bro.. pertemanan itu memang lekang dimakan waktu. tapi keluarga tidak.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: