Insya Allah: Janji atau Basa-basi?

Alkisah saat saya berinteraksi kepada seseorang di dunia maya. Akhirnya disepakati untuk kopi darat di suatu mall. Sebelum hari yang disepakati itu, dia sms saya untuk memastikan apakah besok jadi ketemuan atau tidak. Saya bilang insya Allah saya akan datang. Dibalas dengan sengit, “nih bro bener-bener serius apa gak? Klo besok ternyata ga ada kan gw gimana???”. Kagetlah bukan kepalang saya, baru kali ini ada yang kasih kritikan keras hanya karena saya mengucapkan insya Allah….

Saat pertemuan ternyata diketahui bahwa dia adalah non-muslim, sehingga rasanya masuk akal kalau dia tidak mengetahui arti sebuah insya Allah yang sesungguhnya, akhirnya saya jelaskan bahwa dalam Islam diwajibkan apabila berjanji harus mengucapkan insya Allah karena kadang-kadang saat kita berusaha memenuhi janji ada halangan yang tak terhindarkan seperti misalnya kematian, kecelakaan, dan lain-lain, setelah dijelaskan barulah dia mengerti…

Saat saya meminta bantuan teman untuk membuatkan suatu desain, dia berkata insya Allah besok. Besoknya tidak ada kabar, maka lusa saya tanyakan Lagi

Renungan Ramadhan…. Begitulah

Akhirnya… saya selesai semedi OL (baca: puasa OL). Memang akhir-akhir ini saya jarang online lagi. Sampe-sampe ditanya: “Napa ga online lagi Suf?”. Wah… ternyata saya dirindukan… he..eh kok GR. Well, saya sengaja ga online dulu sebab saya hendak membangun jiwaku di bulan-bulan lalu, sekalian merenung apa yang telah saya lakukan di masa lalu demi memperbaiki diri. Begitulah.

Saya sudah memasang target di bulan ramadhan lalu bahwa satu bulan penuh harus sholat berjamaah bukan sholat sendiri. Sayangnya saya gagal, bolong sebanyak 11 sholat berjamaah. Gara-garanya sih banyak, seperti ketiduran sehingga lewat waktu azan sampai keasyikan baca koran sehingga lewat waktu azan. Hm… harus diperbaiki lagi. Tapi Lagi