PTD: Bung Karno di Preanger

Hari Sabtu tanggal 14 Juli 2012. Bangun jam 4:30 dini hari demi mempersiapkan diri menuju ke Parkir Timur Senayan. Ada apa gerangan? Ohlala, akan ada perjalanan ke Bandung dengan tema Bung Karno yang diadakan komunitas Sahabat Museum. Iya, berangkat harus pagi-pagi demi menghindari yang namanya macet di Bandung. Ada kabar juga klo sampai jam 6:30 tidak datang, bus ber-AC akan berangkat meninggalkan yang tidak datang tepat waktu. Lagi

Meninjau Sumpah Pemuda

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedoea :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
– KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

(http://sumpahpemuda.org/)

Itulah Sumpah Pemuda yang diucapkan oleh para pemuda dari berbagai kelompok organisasi pemuda yang berbeda-beda, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Pemoeda Kaoem Betawi, dan lain-lainnya pada 83 tahun yang lalu, tepatnya 28 Oktober 1928. Para pemuda dari berbagai golongan kelompok yang berbeda-beda itu sudah berani bersumpah, berani menyatakan nama negaranya dengan sebutan Indonesia, berani berbahasa Indonesia padahal masa itu negeri masih dalam imperium Belanda dengan sebutan resminya Nederlandsch-Indie.

Mengapa para pemuda-pemuda dari berbagai golongan yang berbeda-beda perlu mengucapkan sumpah? Kerena Lagi

Resensi Buku Biografi Sutan Sjahrir

Judul Buku     : Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya.

Penulis              : Rosihan Anwar.

Penerbit            : Penerbit Buku Kompas.

Tahun Terbit  : 2011.

Edisi                   : Cetakan Pertama.

Sutan Sjahrir: Negarawan Humanis, Demokrat Sejati yang Mendahului Zamannya

Buku Biografi Sutan Sjahrir

Sebenarnya saya sudah berniat akan meminjam buku biografi Sutan Sjahrir ke sang sahabat tapi saat saya mengantar sahabat membeli pulpen di toko buku Gramedia. Sambil menunggu, saya melihat-lihat buku-buku yang ada di rak Best Seller terlihat ada buku biografi Sutan Sjahrir. Penasaran dengan harga bukunya saya pun mengambil dan melihat harga bukunya yang ternyata terjangkau (saat resensi ini ditulis seharga Rp. 42.000,-) langsung tanpa tedeng aling-aling saya beli sehingga Lagi

Jelajah Tarakan dan Derawan (Prolog)

Saat mendapatkan informasi bahwa akan ada jalan-jalan ke Pulau Tarakan dan Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur dari email komunitas Sahabat Museum sekitar Nopember 2010, ane tertarik untuk mengikutinya, mulailah ane menabung untuk hari itu tiba kendati belum ada info detail dari email itu, hanya berupa rencana akan ada jalan-jalan telusuri sejarah ke Kaltim, tanggal dan biaya pun tidak ada. Karena tidak tau berapa persisnya, ane perkirakan kira-kira mungkin menghabiskan Rp. 3-4 juta untuk perjalanan ke dua tempat, maka dicoba menabung sejumlah itu dengan menambahkan Rp. 1 juta buat jaga-jaga klo ternyata meleset.

Sebenarnya saya tidak mengetahui ada apa di Tarakan dan Derawan sampai mesti menjadi destinasi yang menarik oleh Sahabat Museum (selanjutnya disingkat Batmus), tapi sudah diinformasikan bahwa nanti disana bertema menelusuri jejak-jejak Perang Dunia II (disingkat PDII yah), khususnya Jepang di Indonesia maka saya sudah membayangkan bahwa nanti disana akan ada Lagi

Menara Syah Bandar, Nasibmu Kini…

Belakangan ini Gedung DPR mengalami miring yang kemudian diisu-isukan sampai 7 derajat (klik saya). Jika memang benar miring 7 derajat, maka kemiringan DPR mengalahkan Menara Pisa yang ada di Italia, dimana kemiringannya bernilai 3.97 derajat :O . Woww.. kalau gitu mestinya Gedung DPR masuk ke nominasi 7 Keajaiban Dunia yang baru donk!

Tapi….. ternyata berita itu hanyalah isapan jempol sebab sebuah tim dari Geodesi ITB mengungkapkan fakta bahwa Gedung DPR itu sebenarnya miring sekitar 0,12 derajat (klik aku). Walau demikian pihak DPR bersikukuh untuk membuat gedung baru untuk menggantikan Gedung DPR tersebut yang sudah miring. Yang mana kemudian menjadi kontroversi di kalangan masyarakat Indonesia sebab nilai pembangunan Lagi