Cerita Menarik di PTD Tarakan Derawan (Epilog)

Sebagai penutup perjalanan Plesiran Tempo Doeloe (PTD) Tarakan – Derawan, saya mau menceritakan cerita-cerita menarik selama perjalanan ini. Sengaja saya menjadikan postingan terpisah karena kalau dimasukkan kedalam posting bagian-bagian PTD Tarakan – Derawan terdahulu nanti menjadi tidak fokus dengan tema utamanya. Oke kita mulai saja ceritanya 😉 .

Dimulai dari perjalanan menuju ke jejeran meriam di bukit yang menghadap ke pantai (saya lupa nama tempatnya) dimana jalanannya utamanya berupa tanah liat yang agak berlumpur dan liat. Saat rombongan kendaraan (terdiri dari bus-bus dan minibus) hendak memasuki tempat situs, salah satu bus di depan rombongan terjebak tanah liat sehingga para peserta berjalan kaki menuju ke tempat situs.

Walau jaraknya masih jauh tapi para peserta tetap antusias dan semangat melihat-lihat berbagai meriam yang ada disitu tapi saat pulang para peserta mulai menampakkan rasa lelah dan kecapean. Alhamdulillah ada mobil sekelas jip yang akan mengantarkan peserta kembali ke tempat bus yang tadi berhenti, maka sebagian peserta yang kelelahan itu ramai-ramai menaiki mobil tersebut. Nah saat hendak berangkat ada yang bilang Lagi

Iklan

Snorkeling 3 Pulau (Part 3 [Terakhir] – PTD Tarakan Derawan)

Pada perjalanan mengunjungi tiga pulau disekitar Pulau Derawan pihak panitia membagi menjadi dua rombongan yaitu rombongan yang berminat jalan-jalan mengelilingi pulau dan rombongan yang berminat snorkeling. Kenapa dibagi dua ya karena tentunya ada peserta yang tidak berminat snorkeling selain itu juga karena keterbatasan kapasitas kapal dan waktu.

Kapal PE (Presidium Express) dipilih untuk rombongan yang berminat jalan-jalan keliling pulau, sementara kapal terbuka non AC diperuntukkan rombongan yang mau snorkeling. Oleh karena saya termasuk salah satu anggota rombongan yang berminat snorkeling maka mau tak mau harus naik kapal non-ac. Loh? Ya karena sebenarnya saya ingin keliling pulau juga… 😛 . Ohya ada juga peserta yang ingin menyelam (scuba diving), sayangnya kapalnya yang dinaiki adalah kapal PE, padahal saya ingin melihat seperti apa sih menyelam itu secara langsung. Buat yang belum tahu, untuk bisa menyelam peserta diharuskan memiliki sertifikat menyelam yang sah dan berlaku, kalau tidak punya sertifikatnya, nelayan disana tidak akan melayani.

Oleh karena saya ikut rombongan snorkeling otomatis saya kurang tahu persis dipulau-pulau tersebut ada apa saja yang menarik untuk dijelajahi jadi Lagi

Belajar Snorkeling di Kepulauan Derawan (Part 2 – PTD Tarakan Derawan)

Kepulauan Derawan

Kepulauan Derawan

Oke setelah mengunjungi Pulau Tarakan, saatnya bersiap-siap menuju ke Kepulauan Derawan. Para peserta Batmus sudah begitu antusias menuju ke Derawan, kehadiran para peserta sendiri cukup mencolok di pelabuhan dengan memakai life jacket yang berwarna oranye. Nama pelabuhannya saya lupa, yang jelas dekat dengan Pasar Sebengkok Tarakan, yang menjual berbagai macam hasil laut utamanya ikan asin.

Pada keberangkatan ini, rombongan Batmus dibagi menjadi dua, kelompok manula (manusia lanjut usia) menaiki kapal ber-AC dan ada toiletnya, sedangkan kelompok manseda (manusia sedang usia) menaiki kapal non-AC dan ga ada toilet. Karena saya termasuk kelompok manseda, maka saya kebagian kapal non-AC… well seharusnya, kenyataannya saya malah masuk ke kapal ber-AC. Loh? Well karena kapal non-AC sudah penuh, kuatirnya Lagi

Perang Yang Terlupakan di Tarakan (Part I – PTD Tarakan Derawan)

Pulau Tarakan

Pulau Tarakan

Hari pertama menjejakkan Pulau Tarakan, saat mentari bersinar terik, kami langsung menyusuri artifak-artifak yang tersisa selama Perang Dunia II segera setelah makan siang enak di suatu rumah makan The Bais Seafood. Artifak yang dikunjungi pertama adalah semacam pos pengintai dan bungker militer yang disebut pillbox (merupakan istilah militer untuk bungker). Lokasinya berada dekat dengan Lapangan Bandara Tarakan. Ada dua pillbox disini, yang satu dalam Lagi

Jelajah Tarakan dan Derawan (Prolog)

Saat mendapatkan informasi bahwa akan ada jalan-jalan ke Pulau Tarakan dan Kepulauan Derawan di Kalimantan Timur dari email komunitas Sahabat Museum sekitar Nopember 2010, ane tertarik untuk mengikutinya, mulailah ane menabung untuk hari itu tiba kendati belum ada info detail dari email itu, hanya berupa rencana akan ada jalan-jalan telusuri sejarah ke Kaltim, tanggal dan biaya pun tidak ada. Karena tidak tau berapa persisnya, ane perkirakan kira-kira mungkin menghabiskan Rp. 3-4 juta untuk perjalanan ke dua tempat, maka dicoba menabung sejumlah itu dengan menambahkan Rp. 1 juta buat jaga-jaga klo ternyata meleset.

Sebenarnya saya tidak mengetahui ada apa di Tarakan dan Derawan sampai mesti menjadi destinasi yang menarik oleh Sahabat Museum (selanjutnya disingkat Batmus), tapi sudah diinformasikan bahwa nanti disana bertema menelusuri jejak-jejak Perang Dunia II (disingkat PDII yah), khususnya Jepang di Indonesia maka saya sudah membayangkan bahwa nanti disana akan ada Lagi